1 IKM Dapat Rp20 Juta

  • Whatsapp
KM/ABDUL WAHED MIRIS: Sejumlah pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Kabupaten Sampang tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat

Kabarmadura.id/SAMPANG-Keseriusan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang dalam membina Industri Kecil Menengah (IKM) tergolong lemah. Pasalnya, tahun ini pemkab hanya menganggarkan Rp40 juta untuk program pembinaan. Alhasil, dengan minimnya anggaran yang ada, akan berdampak pada objek pembinaan yang tidak merata.

Kepala Seksi Pengembangan Industri Umum Disperdagprin Abdul Gaffar mengatakan, ada 10 kelompok IKM batik yang mengajukan program tersebut. Tetapi, hanya dua kelompok yang akan mendapatkan program pembinaan dari instansinya. Sebab, anggarannya terbatas.

Penentuan kelompok yang akan mendapatkan program tersebut ditentukan setelah melakukan seleksi dan penilaian terhadap masing-masing kelompok. Sejumlah poin yang menjadi kriteria penilaian antara lain, alat produksi yang memadai dan komitmen kelompok dalam mengembangkan hasil produksi.

“Kelompok batik yang akan mendapatkan pembinaan yaitu kelompok di Kecamatan Camplong dan Banyuates. Setiap kelompok dianggarkan Rp20 juta,” katanya.

Minimnya anggaran yang ada, tambahnya, membuat pembinaan hanya fokus terhadap kelompok yang memproduksi batik dengan jumlah banyak dan tidak pernah mendapatkan bantuan. Program tersebut bertujuan membantu kelompok IKM batik dalam meningkatkan kualitas dan mengembangkan pemasaran produk. Pembinaan dilakukan mulai dari tahap produksi, hak paten atau label produk, hingga akses penjualan menggunakan sistem digital.

“Program itu dilaksanakan selama dua kali. Pembinaan pertama yaitu terkait dengan pemilihan bahan produksi, tata cara penggambaran motif, dan pemilihan warna. Sebab, itu sangat menentukan terhadap kualitas produk batik yang akan dihasilkan,” tambahnya.

Pihaknya bekerja sama dengan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Jogjakarta. Nantinya pelaku IKM akan dibimbing dalam memproduksi batik bermotif nuansa alam dan kearifan lokal. Baik batik tulis maupun cap.

“Selama ini rata-rata batik di Sampang masih motif lama. Misalnya, terang bulan, sokon, manok tetteng, burung merak, dan Trunojoyo. Karena itu, motifnya perlu dikembangkan,” jelasnya.

Pembinaan kedua, berupa teknik pemasaran batik dengan sistem digital. Pihaknya mengklaim bahwa sudah meluncurkan aplikasi SIP IKM Sampang sebagai media informasi dan promosi semua produk IKM di Sampang. Warga bisa menggunakan aplikasi itu untuk memasarkan produk yang dihasilkan.

Setiap produk batik yang dihasilkan juga akan dipamerkan di showroom batik dan dipasarkan di berbagai event yang dilaksanakan pemkab dan Pemprov Jatim. Disperdagprin juga bekerja sama dengan sejumlah pengusaha batik yang mempunyai galeri ternama di Jawa Timur. Ada sekitar 38 produk yang sudah dititipkan di galeri tersebut. (awe/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *