oleh

10 Desa Terdeteksi Rawan Kekerasan pada Anak

KABARMADURA.ID, Sumenep – Kasus kekerasan pada anak dan perempuan di Sumenep masih terhitung marak. Padahal,DP3AKB Sumenep telah mengatisipasi dengan dibetukanyaSatuan Tugas (Satgas) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Sumenep Moh. Kadarisman mengatakan, ada 10 kecamtan dan 10 desa yang rawan terjadi kekerasan anak. Semua wilayah itu sudah diberi sosialisasi oleh SatgasP2TP2A Sumenep.

“Ada 36 kasus kekerasan pada anak yang betpotensi di 11 kecamatan dan 10 desa itu,”ujarnya.

Meningkatnya kasus itu, imbuhnya, juga disebabkan oleh tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan ke pihak berwajib dan ke DP3AKB. Dengan begitu, jumlahnya bisa terpantau. Terlebih, dibentuknya tim satgas P2TP2A tersebut untuk meminimalisir angka kekerasan pada anak.

Sementara itu, Kepala UPTD PPA DPA3AKB Sumenep Diana Agus menambahkan, banyaknya kasus itu harus menjadi evaluasi bersama, yakni pemerintah dan masyarakat. Sebab, tanpa bantuan masyarakat, tidak mungkin pemerintah berjalan maksimal dalam hal pengawasan

“Setidakanya masyarakat membantu untuk meminimlasir kasus,” tukas dia.

Jika ada kasus, sebetulnya bisa bertindak cepat sehingga korban kekerasan pun akan diberikan pendampingan, terutama dari sisi mental. Saat ini sendiri, mengadukan kasus pencabulan dan pelaku pencabulan pun banyak berasal dari lingkungan korban.

“Kami menjamin kerahasiaan identitas korban. Harus diselesaikan sampai ke akarnya, biar tidak ada korban selanjutnya dan tentunya pelaku pun harus mendapat efek jera,” tandasnya.

10 desa di 10kecamatan itu diantaranya, Desa KebuananKecamatan Sumenep, Desa BabbalanKecamatan Batuan, Desa LalangonKecamatan Manding, Desa Braji dan Desa AndulengKecamatan Gapura, Desa TalangKecamatan Saronggi, Desa Banaresep TimurKecamatan Lenteng, Desa Aeng DakeKecamatan Bluto, Desa Aeng PanasKecamatan Pragaan, serta Desa Ketawang LaokKecamatan Guluk-Guluk.

Sementara itu, anggota komisi IV DPRD Sumenep M. Syukri mengatakan, kasus kekerasan pada anak itu perlu dilakukan langkah preventif. Salah satunya sosialisasi kepada anak-anak sekolah mulai dari tingkat SD sampai SMA. Karena, anak-anak sekolah menjadi salah satu yang berpotensi jadi korban. “Harus ada kontrol juga dari pemerinta,” pungkasnya. (imd/waw)

 

Komentar

News Feed