12 Ekor Sapi di Bangkalan Suspek Wabah PMK

(KM/FATHURROHMAN) PENUH PERJUANGAN: Tampak dokter hewan saat melakukan perawatan medis pada sapi di kandang balai penampungan karantina.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Upaya Dinas Peternakan (Disnak) Bangkalan dalam menekan munculnya kasus wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), tampaknya tidak berjalan mulus. Disnak sudah mengetatkan keluar-masuknya hewan ternak, khususnya jenis ruminansia (sapi,kerbau, dan kambing). Tapi, nyatanya 12 ekor sapi dinyatakan suspek wabah tersebut.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnak Bangkalan Ali Makki mengungkapkan, meski diberlakukan larangan masuknya ternak, hingga kini masih ada sapi dari luar daerah masuk. Dari total 22 ekor sapi dari luar daerah yang masuk ke balai penampungan karantina Kecamatan Tanjung Bumi, 12 ekor di antaranya dinyatakan suspek wabah PMK.

“Kami temukan 22 ekor sapi crossing, dari keterangan pemilik sapi itu sebagian dibeli dari pasar Keppo Pamekasan. Sebagian lagi dari Jawa. Dari total sapi crossing itu, sebanyak 12 ekor sapi yang suspek. Kami sudah pastikan agar sapi itu tidak keluar dari karantina dan ada pemisah masing-masing blok kandang,” ungkapnya, Senin (16/5/2022).

Bacaan Lainnya

Pihak Disnak mengklaim sudah menyikapi kasus tersebut. Sedikitnya 8 dokter hewan dikerahkan dibantu petugas kepolisian serta berkoordinasi dengan petugas di balai karantina. Mereka memberikan penanganan pada hewan ternak, salah satunya dengan melakukan karantina dan pengobatan.

“Untuk mengantisipasi semakin meluasnya penularan pada ternak yang lain, kami melakukan pengobatan pada seluruh ternak yang ada di sana. Sekitar 138 ekor sapi yang ada di kandang penampungan itu kami sudah treatment dengan pemberian antibiotik dan vitamin,” imbuh Makki.

Sedangkan untuk pemantauan di luar penampungan karantina, lanjut Makki, hingga kini masih tidak ditemukan adanya kasus tersebut. Pemantauan itu dilakukan di pasar hewan Tanah Merah dan menindaklanjuti adanya laporan masyarakat di Desa Tobaddung, Kecamatan Klampis. Dipastikan aman dan terkendali.

Kata Makki, dalam menangani wabah PMK ini masih belum bisa mengakses dari Belanja Tidak Terduga (BTT) sebagai dana untuk bencana. Sebab, masih belum ada surat keputusan (SK) dari Kementerian perihal status wabah, sehingga masih belum bisa mengaksesnya. Oleh karena itu, sementara ini masih menggunakan dana lain untuk penanganan wabah tersebut.

“Wabah ini kan memang di luar prediksi, sehingga kami harus memanfaatkan dana apa saja yang bisa diakses. Beruntung ada dana alokasi khusus (DAK) non-fisik sekitar Rp200 juta, sudah ada rekomendasi penggunaannya. Sebetulnya, dana itu untuk operasional Puskeswan. Kalau yang dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), sekitar Rp30 juta untuk kesehatan hewan,” ujarnya.

Sementara itu, rencana vaksinasi hewan ternak jenis ruminansia, hingga saat ini masih nihil. Sebab, vaksin khusus wabah ini belum tersedia. “Pemerintah sedang mengupayakan produksi vaksin melalui pusat veterinaria farma Surabaya, laboratorium milik pemerintah yang memiliki tugas produksi vaksin. Jika vaksinnya sudah ada, nanti bakal divaksin,” pungkasnya.

Reporter : Fathurrohman

Redaktur: Hairul Anam

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.