23 Desa Rawan Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan

  • Whatsapp
(KM/Razin) BUTUH PENGAWASAN: Sejumlah anak sedang bermain di sekolahnya.

Kabarmadura.id/Sumenep-Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) mengklaim ada sekitar 23 desa yang dipetakan sebagai daerah yang paling rawan terjadi kasus tindak pidana dan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) anak dan perempuan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala DP3AKB melalui kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak Diana Agus S.  Ia menambahkan, sampai sejauh ini pihaknya masih belum memberikan fasilitator untuk penanganan kasus di daerah kepulauan.

Bacaan Lainnya

“Kepulauan pernah direncanakan kemarin, tetapi berhubung cuaca buruk, maka tidak jadi. Kami fokuskan di dataran, itu pun tidak semuanya. Hanya di daerah yang memang kami anggap rawan terjadi kasus,” katanya, kemarin.

Diana menyebutkan, 23 desa yang dimaksud di antaranya terdapat di Kecamatan Pasongsongan, Kota, Ambunten, Batu Putih, Dasuk, Pragaan, Bluto, Lenteng, Saronggi, Talango, Guluk-Guluk, dan terakhir Kecamatan Ganding.

Sehingga untuk meminimalisir kerawanan kasus, baik kriminal maupun KDRT maka pihaknya memberikan atau memasang satuan petugas (satgas) yang emang terdiri dari kepala desa dan tokoh masyarakat atau lembaga khusus yang memang menjadi sukarelawan melakukan pembinaan.

Meskipun secara kebijakan, keberadaan satgas hanya bisa menjadi fasilitator yang berfungsi menyelesaikan masalah di tahapan desa, baik diselesaikan secara kekeluargaan maupun yang lainnya. Karena memang pihaknya tidak sampai merekomendasikan untuk menjadi hakim dalam sebuah persoalan.

“Nah di desa tertentu saja yang memang sudah ada satgasnya, mereka itu dibentuk seperti pengurus. Ada ketua dan sebagainya, terstruktur lah, tetapi mereka juga bisa direkrut dari aparatur desa,” imbuhnya.

Sementara dari 23 desa yang sudah dibentuk satgas mulai tahun 2016 terdiri dari dua desa, tahun 2017 sepuluh desa, 2018 lima desa, 2019 tiga desa, dan 2020 yaitu tiga desa.

Terhitung dari 2019 sampai 2020, ada 72 anak yang terjerat kasus pidana, yang dapat diperinci melalui jenis kasus sodomi, KDRT, pelecehan seksual, pencabulan, pemerkosaan, penganiayaan, dan yang lainnya. (ara/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *