3 ODP Reaktif Covid-19 Meninggal Saat Diisolasi, Legislatif Desak Satgas Transparan

  • Whatsapp
(KM/SUBHAN)

Kabarmadura.id/SAMPANG-Tiga orang dalam pemantauan (ODP) yang sedang dirawat isolasi di Balai Latihan Kerja (BLK) Sampang meninggal dunia. Ketiganya dimakamkan dengan menggunakan SOP dan protap khusus pencegahan penanganan wabah Covid-19.

Informasi yang dihimpun Kabar Madura dari Tim Satgas Pencegahan Penanganan wabah Covid-19 Kabupaten Sampang menyebutkan, ada tambahan satu ODP jenis kelamin perempuan inisial D (47) yang meninggal dunia saat dirawat isolasi pada Minggu (10/05/2020). Setelah sebelumnya sudah ada dua ODP Covid-19 yang meninggal saat dirawat isolasi BLK Sampang.

Bacaan Lainnya

ODP Covid-19 yang baru meninggal itu, merupakan warga Dusun Batunundung, Desa Karang Penang Onjur, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang. ODP itu, mulai dirawat isolasi di BLK sejak Selasa (05/05/2020) dan dinyatakan meninggal dunia pada Minggu kemarin.

“Iya, ada satu tambahan lagi ODP yang diisolasi di BLK meninggal. Jadi total sudah ada tiga ODP yang diisolasi di BLK meninggal dunia. Kita sudah antisipasi dengan menggunakan SOP dan Protap khusus dalam proses pemakamannya, tapi belum bisa dipastikan yang bersangkutan terkonfirmasi atau bersih dari covid-19. Kita masih menunggu hasil uji swab turun,” ucap Juru bicara Satgas Pencegahan Penanganan Covid-19 Sampang Djuwardi saat dikonfirmasi Kabar Madura, Senin (11/05/2020).

Ia menjelaskan, sebelumnya yang bersangkutan sudah dilakukan rapid tes, dan hasil menunjukkan reaktif Covid-19. Hasil rapid tes reaktif itu bukan berarti terkonfirmasi Covid-19. Sebab hasil rapid tes itu hanya menunjukkan jika seseorang itu ada virusnya, tetapi belum tentu virus itu merupakan Covid-19. Untuk itu, kepastiannya masih menunggu hasil uji swab.

Lanjut dia, ODP yang meninggal itu disebabkan karena penyakit komplikasi jantung, diabetes, dan infeksi paru-paru. Tetapi untuk hasil swab tes hingga saat ini belum ada yang turun. Namun untuk proses pemakaman sudah dilakukan sesuai SOP dan protap penanganan Covid-19.

“Kami tidak ingin kecolongan disaat situasi wabah Covid-19 ini, makanya proses pemakaman dilakukan sesuai SOP dan protab Covid-19, meski ODP ini belum bisa dipastikan terkonfirmasi atau bersih dari covid-19, karena hasil swab tesnya belum keluar,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi I DPRD Sampang Aulia Rahman meminta pemkab melalui tim Satgas Covid-19 lebih terbuka kepada masyarakat terkait data pasien Covid-19. Terlebih saat ini sudah tiga orang yang dirawat isolasi di BLK Sampang meninggal dunia dan dimakamkan sesuai SOP Covid-19.

Pihaknya mengaku terus mendorong dan mendukung langkah pemkab dalam mempertahankan Sampang tetap zona hijau wabah Covid-19. Tetapi Pemkab harus transparan kepada masyarakat, semisal penyebab meninggalnya tiga ODP itu, jumlah pasien yang dirawat isolasi di BLK baik yang baru masuk atau yang sudah keluar serta realisasi anggaran pencegahan penanganan Covid-19 yang mencapai Rp137 miliar.

“Kami melihat pemkab ini terlalu munafiq, seperti adanya kasus meninggalnya tiga ODP yang hasil rapid tesnya menunjukkan reaktif dan dimakamkan sesuai SOP penanganan Covid-19 ini tidak dibuka kepada publik apa penyebab yang sesungguhnya. Kami curiga ada hal yang sengaja disembunyikan. Ayoklah pemkab trasparan kepada publik,” kesalnya. (sub/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *