34 Desa Ditetapkan Sebagai Lokus Stunting

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) PERLU PEMBENAHAN: Angka stunting di Kabupaten Sampang, hampir terjadi di seluruh kecamatan.

KABARMADURA.ID, SAMPANG– Angka kasus stunting di Kabupaten Sampang masih tergolong tinggi. Bahkan, kasus tersebut terjadi hampir merata di semua kecamatan dengan jumlah kasus yang tidak sedikit. Terutama, dalam tiga tahun terakhir nyaris tidak ada penurunan kasus stunting.

Hanya saja, pemerintah berupaya mengurangi stunting dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Terdapat, 34 desa yang ditetapkan sebagai lokasi fokus (lokus) stunting di Kabupaten Sampang. Hal tersebut diungkapkan, Pelaksana tugas (Plt) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang Agus Mulyadi, Kamis (8/3/2021).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, saat ini tengah melakukan sejumlah kegiatan pencegahan. Sehingga, angka stunting bisa ditekan sesuai target. “Kami masih berupaya menurunkan angka itu. Karena banyak faktor penyebab stunting yang harus kami sosialisasikan dan diatasi,” ujarnya.

Pihaknya berjanji, akan menindaklanjuti dengan melakukan identifikasi ke bawah. Salah satunya, melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak terkait. Terutama, mengenai penanganan dan pencegahan stunting sejak dini dengan menggelar kegiatan sosialisasi berupa workshop.

“Jika dilihat di beberapa lokasi, kasus stunting masih tinggi. Meski  indikator-indikator yang berpengaruh di bawah sudah bagus. Namun, angka stunting masih tidak bergerak. Sehingga perlu ditindaklanjuti lebih serius,” janjinya.

Agus Mulyadi menjelaskan, stunting diakibatkan beberapa faktor. Mulai dari asupan gizi, pola asuh, dan pelayanan kesehatan yang masih saling berpengaruh. Sehingga, perlu semua pihak yang membantu percepatan penanganan stunting tersebut. “Secara grafis, sebenarnya ada penurunan angka stunting dari hasil evaluasi. Tapi, jika dilihat dari hasil riset ternyata masih tinggi,” jelasnya. (man/ito)

 

Faktor Yang Mengakibatkan Terjadinya Stunting

  • Kurang asupan gizi
  • Pola asuh yang kurang baik
  • Pelayanan kesehatan kurang optimal

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *