oleh

KABARMADURA.ID, Sampang –Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sampang, angka kemiskinan masih terbilang tinggi, terbukti dari persentase tahun 2011 hingga 2019 kemiskinan mencapai 202,21 ribu jiwa atau 20,71 persen. Penyebab tingginya angka kemiskinan di Sampang ini karena mayoritas masyarakat yang bekerja di sektor pertanian masih menggunakan pola manual.

Kasi Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Sampang, Nur Amin menuturkan, bahwa kemiskinan di wilayah kerjanya tersebut didominasi oleh petani yang menggunakan pola manual. Sehingga, dalam bertani harus menunggu kondisi alam yang tidak menentu sehingga kemajuannya lambat.

Ditambah, seharusnya untuk mengelola pertaniannya harus lebih modern, agar dalam mengelola pertanian lebih cepat. Sehingga perolehan petani akan maksimal dan pendapatannya lebih banyak.

“Kemiskinan ini didominasi di pedesaan terutama, perbukitan. Karena sektor pertaniannya masih menggunakan cara manual, jadi dalam bertani itu lambat,” ungkapnya, Selasa (20/10/2020).

Selain itu, saat ditanya data angka kemiskinan yang terbaru pihaknya mengaku untuk tahun 2020 belum keluar. Karena, yang berhak mengeluarkan data tersebut pemerintah pusat, kemungkinan akhir tahun data itu akan keluar.

Namun, untuk data dari 2011 sampai 2019 pihaknya menyampaikan ada penurunan dari angka 267,48 ribu jiwa atau 30,21 persen menjadi 202,21 ribu jiwa atau 20,71 persen.

“Data kemiskinan tahun ini belum keluar dari pemerintah pusat, kemungkinan akhir tahun,” imbuhnya.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dispertan Sampang Suyono menuturkan, jika kemiskinan didominasi oleh para petani karena memang mayoritas penduduk di Kota Bahari ini petani. Selain itu karena lahan yang dimiliki oleh petani tidak sesuai dengan kebutuhan. Sehingga, untuk meningkatkan hasil produksi juga minim.

“Disini itu mayoritas petani, dan lahan yang dimiliki petani itu masih nol koma (0,) bukan hektar, dan ada sebagian yang hektaran tapi tidak seberapa,” tuturnya.

Adapun terkait sistem manual untuk menuju sistem modern pihaknya menuturkan butuh waktu, sebab dirinya sudah merencanakan sistem modern tersebut, dengan cara pertanian di Sampang menggunakan alat teknologi.

“Kita memang rencanakan sistem modern itu, tapi bertahap karena petani di Sampang tidak hanya satu, tapi banyak,” katanya.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Sampang, M. Nashrul mengatakan, untuk mengatasi kemiskinan di wilayah kerjanya membutuhkan program-program berupa bantuan, selain itu paling penting pelatihan kerja kepada masyarakat, tetapi untuk tahun 2020 akibat adanya wabah Covid-19 pelatihan tersebut ditiadakan.

“Untuk pelatihan ditiadakan, karena direfocusing Covid-19, dan untuk bantuan saat ini banyak yang diturunkan oleh pemerintah,” singkatnya. (mal/mam)

Data kemiskinan.

Tahun 2011 berjumlah 267,48 ribu jiwa atau 30,21 persen.

Tahun 2012 berjumlah 253,43 ribu jiwa atau 27,97 persen.

Tahun 2013 berjumlah 248,17 ribu jiwa atau 27,08 persen.

Tahun 2014 berjumlah 239,60 ribu jiwa atau 25,80 persen.

Tahun 2015 berjumlah 240,35 ribu jiwa atau 25,69 persen.

Tahun 2016 berjumlah 227,80 ribu jiwa atau 24,11 persen.

Tahun 2017 berjumlah 225,13 ribu jiwa atau 23,56 persen.

Tahun 2018 berjumlah 204,82 ribu jiwa atau 21,21 persen.

Tahun 2019 berjumlah 202,21 ribu jiwa atau 20,71 persen.

Komentar

News Feed