oleh

Tujuh Preman Berusaha Gagalkan Peringatan HSN Pesantren Nurul Hikmah

KABARMADURA.ID, Pamekasan –Istigasah bersamauntuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2020 di Pondok Pesantren Nurul Hikmah,sempat diwarnai peristiwa menegangkan. Sehari sebelum pelaksanaan kegiatan, sebanyak tujuh orang diduga mencoba berbuat onar dan menggagalkan kegiatan tersebut.

Kedatangan tujuh tamu tidak diundang itu membuat pengurus Pesantren Nurul Hikmah terganggu.Mereka masuk ke lingkungan SD Plus Nurul Hikmah tanpa izin dan memaksa masuk ke seluruh ruang kelas tanpa diketahui maksud dan tujuannya.

Tidak hanya itu, saat putra pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah, Ahmad Ahsin Amali, mendatangi 7 orang itu, mereka langsung membentak dengan mengutarakan kata-kata kotor kepadanya.Bahkan pria yang akrab dipanggil Hasin itu dituduh tidak memiliki kuasa dan wewenang pada pondok pesantren dan lembaga Nurul Hikmah.

“Karena gelagatnya mencurigakan, saya samperin, tapi yang namanya Nuris itu langsung bentak saya dan mengucapkan kata-kata kotor ke saya,” ujar Hasin.

Bahkan, salah satu dari ketujuh orang itu ada yang mencoba menganiaya Hasin.Untungnya, tindakan penganiyaan itu urung dilakukan, namun tetap mengumpat dengan kata-kata kotor. Melihat ada kejadian tidak mengenakkan, sejumlah pengurus pondok pesantren keluar dan mengusir ketujuh orang yang diyakini sebagai preman bayaran itu.

Bahkan mereka sempat mengancam akan kembali lagi dan berusaha menggagalkan acara istigasah itu. Bahkan mereka mengatakan akan mengobrak-abrik pondok pesantren serta akan merobohkan gedung-gedung lembaga Nurul Hikmah.

“Saya tidak tahu siapa, tapi ada pengurus yang kenal, bahwa salah satunya ada yang bernama Marsuki dan Nuris mereka berdua orang Galis,” ungkapnya.

Atas kejadian tersebut, Hasin melaporkan mereka ke Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Pamekasan atas tuduhan pengancaman dan masuk ke pekarangan orang tanpa izin. Bahkan pihak kepolisian telah memeriksa Hasin sebagai pelapor. Sementara 8 orang pengurus pesantren yang turut menyaksikan kejadian tersebut bertindak sebagai saksi.

Kepala Sekolah SD Plus Nurul Hikmah Taufik Hidayat meyakini, ketujuh orang itu merupakan preman bayaran yang diperintahkan oleh orang yang sakit hati dan ingin merebut Yayasan Usman Al-Farsy dan lembaga Nurul Hikmah setelah kasus sengketa yayasan beberapa waktu yang lalu.

“Di sini memang lahan empuk, dari kuantitas murid, dari income-nya, sehingga mereka tidak rela kalau lembaga ini jatuh ke tangan kami. Jadi mereka ingin mengambil alih,” ungkapnya. (ali/waw)

Komentar

News Feed