5 Ribu Guru Ngaji Tidak Tersentuh Bantuan Pemerintah

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) me: Kesejahteraan guru wajib diperhatikan, mengingat kondisi saat ini sangat memprihatinkan

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Sekitar 5 ribu guru ngaji di Sumenep belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep di tahun 2021.

Kabag Kesejahteraan Masyarakat (Kesmas) Setkab Sumenep Kamiluddin mengatakan, total jumlah guru ngaji kurang lebih 6 ribu. Tetapi, menurutnya, semuanya masih  diverifikasi kelayakannya. “Ada sebanyak 1000 guru yang bakal mendapatkan bantuan di tahun 2021,” katanya, Rabu (4/8/2021).

Bacaan Lainnya

Anggarannya sebanyak Rp1,2 miliar. Saat ini yang sudah diberikan bantuan kepada 358 guru ngaji. Setiap guru ngaji memperoleh Rp1,2 juta. Sisa anggaran akan dicairkan pada Agustus hingga Desember 2021.

“Tidak semua guru ngaji diberikan bantuan. Sebab, di samping kekurangan anggaran, juga akan dipilah mana yang lebih layak mendapatkannya,” tukasnya.

Pria yang akrab disapa Kamil itu menegaskan, bantuan disalurkan melalui Bank BPRS Bhakti Sumekar. Bantuan itu sifatnya stimulan agar guru ngaji semangat mendidik anak-anak.

“Beberapa tahap akan dilakukan. Tahun depan akan terus dilakukan mengingat guru ngaji adalah guru agama yang perlu diperhatikan,” ujarnya.

Kamil juga meminta tolong kepada guru ngaji untuk menanamkan dua hal kepada anak didiknya. Yaitu menerapkan perilaku bersih dan sehat. Selain itu, juga mengingatkan pentingnya protokol kesehatan (protkes) kepada warga di sekitarnya.

“Di masa pendami Covid-19, penerapan protkes guru ngaji wajib dilakukan,” ujar dia.

Ia menuturkan, jika guru ngaji tidak mengajar lagi, insentif dicabut. Setiap penerima akan diverifikasi. Karena, menurutnya, khawatir sewaktu-waktu guru ngajinya sudah berhenti.  “Semua penerima akan dicatat agar tidak terjadi double penerima,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumenep Didik Suharto mengatakan, sebagian besar hidup guru ngaji dengan tingkat kesejahteraan yang rendah dengan penghasilan di bawah upah minimum rata-rata. Akibatnya, konsentrasi mengajar mereka terpecah dengan tuntutan mempertahankan hidup.

Tidak hanya dalam hal peningkatan taraf hidup, tetapi juga memacu kualitas sumber daya mereka melalui pelatihan-pelatihan yang menginspirasi dan memotivasi. “Kami berharap bantuan guru ngaji diusahakan merata,” pungkasnya. (imd/maf)

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *