• Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) MIRIP SAKERA: Sekretaris Daerah Kabupaten Pamekasan, Totok Hartono saat mengenakan baju pesak ala Sakera.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN –Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, mulai menggerakkan ekonomi warga. Realitas di lapangan, penjualan batik tulis, baju pesak Sakera dan Marlena mulai dinaikkan. Bahkan, kenaikan harga beberapa item pakaian tersebut mencapai lebih dari 50 persen. Peningkatan harga dipicu dari surat edaran (SE) Bupati Pamekasan Baddrut Tamam.

Diketahui, SE Nomor: 025/043/432.031/2021 tentang Pakaian Dinas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non PNS di lingkungan Pemkab Pamekasan pada (1/2/2021) lalu. Dalam surat itu, pria yang akrab dipanggil Mas Tamam mewajibkan PNS mengenakan baju pesak ala legenda Madura.

Bacaan Lainnya

Sakera bagi laki-laki dan baju Marlena bagi perempuan. Pakaian adat Madura itu, wajib dikenakan setiap awal bulan. Bahkan, setiap hari Kamis dan Sabtu PNS diharuskan mengenakan baju dan kerudung terbuat dari batik tulis Pamekasan. Pada hari Jumat, diwajibkan mengenakan baju koko atau baju Muslim. Selebihnya, menggunakan baju putih dan baju warna khaki.

Tanpa disadari, kebijakan tersebut mampu menggerakkan ekonomi warga Pamekasan, terutama pengrajin batik tulis, pengusaha dan penjual. Para pengrajin dan pengusaha batik tulis di Pamekasan merasa terbantu dengan SE tersebut.

Seperti yang dialami salah satu pengrajin sekaligus pengusaha batik asal Desa Klampar, Badrut Tamam. Menurutnya, penjualan batik setelah terbitnya SE bupati, naik menjadi 50 persen dibanding hari-hari biasa. Bahkan pihaknya sempat mengeluh, karena terbitnya SE bupati terbilang mendadak dan sebelum itu tidak mengetahui akan ada SE tersebut.

Sedangkan proses pembuatan batik membutuhkan waktu rata-rata 15 hari. “Akhirnya kami kewalahan menerima pesanan baju dan kerudung batik dari para PNS,” ungkap pria yang memiliki lapak jualan batik tulis di Pasar Kolpajung.

Hal senada diungkapkan oleh salah satu pedagang baju pesak Sakera dan Marlena, Muhammad Yasin. Menurunya, peningkatan penjualan pada usaha justru naik drastis hingga 75 persen. Sebelum adanya SE bupati, rata-rata pembeli hanya satu hingga dua orang dalam seminggu.

“Setelah terbitnya SE bupati dalam sehari kami menerima pesanan sebanyak 20 setel. Kami sangat terbantu dengan kebijakan pemerintah ini,” ucapnya gembira.

Sementara itu, Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam berjanji, akan selalu berkomitmen melakukan yang terbaik untuk seluruh warga Pamekasan. Meningkatnya perputaran uang setelah terbitnya SE bukan tanpa perencanaan. Pihaknya telah membaca, bahwa akan ada perubahan signifikan pada perekonomian masyarakat dengan selembar kertas yang dikeluarkannya.

“Alhamdulillah, hanya dengan selembar surat, ekonomi masyarakat terbantu,” uycapnya singkat. (ali/ito)

Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

  • Bupati Pamekasan Baddrut Tamam membuat Surat Edaran (SE) Tentang Pakaian Dinas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Non PNS.
  • Ketentuan Dalam SE Tersebut Bupati Mewajibkan Pegawai PNS Maupun Non PNS Mengenakan Pakaian Batik, Pesak Sakera dan Marlena
  • Pakaian Pesak Sakera Bagi Pegawai Laki-Laki dan Marlena untuk Perempuan Wajib Digunakan Setiap Awal Bulan
  • Setiap Hari Kamis dan Sbatu Pegawai Diwajibkan Mengenakan Pakaian dan Kerudung Bagi Perempuan Yang Terbuat Dari Batik

Dampak SE Bupati Pamekasan Baddrut Tamam Yang Dirasakan Masyarakat

  • Penjualan Batik Tulis Naik Hingga Lebih Dari 50 Persen
  • Penjualan Baju Pesak Sakera dan Marlena Naik 75 Persen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *