Menelisik Aksi FLP di Pelosok Desa Madura

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) BERPROSES: Para anggota tampak anstusias mengikuti kegiatan FLP Ranting Darun Najah.

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Aktivitas Forum Lingkar Pena (FLP) rupanya tidak hanya bergelut di dunia perkotaan. Namun, juga menyasar pemuda-pemuda hingga ke pelosok desa.

Hal itu terlihat di Pondok Pesantren (Ponpes) Darun Najah, Desa Kapedi, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. FLP betul-betul menjadi wadah mujahidah pena atau tulisan.

Pembina sekaligus pendiri FLP Ranting Darun Najah Afidatul Hasanah mengatakan, perinsip dasar FLP adalah sebagai wadah dan hakikat belajar sepanjang nyawa. Terlebih dalam talenta kepenulisan.

Sementara menulis sendiri membutuhkan banyak ilmu, sehingga puncaknya dari tumpuan harapan akan membuat para anggota haus ilmu. Sebab dalam pengalaman Afidah dI FLP, tidak ada manusia yang jumawa. Justru sebaliknya; hati yang tulus belajar, terus rendah hati dalam belajar.

Selain itu, menjadi motivasi dan alasan mengapa dirinya berproses melalui FLP. Sebab, Afidah merasa menjadi aktivis seutuhnya di FLP. Dirinya yang gemar aktif di FLP, merasa menjadi aktivis yang utuh. Sebab dengan cinta kepenulisan, dia mendapatkan pengalaman organisasi dan ilmu keislaman nempel kuat di FLP.

“Awalnya pada bulan Ramadan kemarin, saya isi dengan diklat kepenulisan. Melihat antusias para santri, maka saya merasa perlu adanya FLP di sini. Maka dari itu, saya koordinasi dengan FLP Cabang Sumenep, ternyata mendapat rekomendasi serta respon positif,” tutur alumnus FLP Ranting Pondok Pesantren Annuqayah Latee ll, Guluk-Guluk, Sumenep itu.

Setelah liburan Ramadan dan menadapat restu pengasuh, Afidah mendirikan FLP di Ponpes Darun Najah yang berada di Dusun Bara’ Songai yang biasa dikenal dengan Kokkowan.

Sementara itu, Ketua FLP Ranting Darun Najah Kepedih Naja Najmatul Jannah menyampaikan, pihaknya telah menyusun beberapa aktivitas atau jadwal kegiatannya.

Sedikitnya ada tiga rutinitas wajib yang sudah berjalan di setiap pekan, mulai hari Minggu diisi dengan ngaji puisi. Dalam kegiatan itu, anggota diharapkan bisa baca puisi dengan baik dan menafsirkan isinya. Intinya, belajar seputar puisi.

Kedua pada hari Rabu jadwal teater. Dalam kegiatan ini, anggota dapat menemukan pribadi yang istikamah dengan lakon-lakon baik, melalui sikap atau karakter-karakter yang telah dipelajari.

Terakhir, hari Jumat diisi dengan membaca buku yang digemari anggota selama setengah jam dan dilanjutkan meresume hasil bacaannya.

“Semoga ikhtiar melalui FLP ini menjadi perantara memudahkan menyongsong kehidupan di masa yang akan datang, mendapat barokah dengan berdakwah melalui pena,” papar perempuan yang akrab disapa Naja itu. (ara/nam)

3 Rutinitas Wajib FLP

Minggu: Ngaji puisi.

Rabu: Belajar teater.

Jumat: Membaca buku dan me-resumenya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *