Disnakertrans Sumenep Anggarkan Rp29 Juta untuk Pelatihan Tata Boga dan Rias Pengantin

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) MINIM ANGGARAN: Aktivitas dalam pelaksanaan pelatihan waktunya lebih singkat.

KABARMADURA.ID, SUMENEP -Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sumenep melalui Kepala Bidang (Kabid) Pelatihan dan Produktivitas Eko Ferryanto menyampaikan, ada dua pelatihan sudah terlaksana.

Dua pelatihan itu adalah tata boga dan rias pengantin yang dianggarkan masing-masing Rp29 juta. Anggaran tersebut hanya untuk 10 orang di setiap pelatihan dan tanpa disertai bantuan alat.

“Alhamdulillah sudah terlaksana kemarin, itu pesertanya hanya 10 dan tidak mendapatkan bantuan alatnya,” kata Eko, sapaan akrabnya. Senin (2/8/2021).

Ia menuturkan, pelatihan dilaksanakan dengan lama waktu lima hari saja. Sebab anggaran tersebut hanya memenuhi honor instruktur dan transport para peserta.

Ia menyebutkan, sebelum wabah Covid-19, ada 4 pelatihan yang harus tuntas dilaksanakan tahun ini. Sementara pada tahun 2019 kemarin, total jumlah pelatihan terdiri dari 7 unit pelatihan; di antaranya adalah unit pelatihan pecah batu, tata boga, menjahit, tata rias, las listrik, dan yang terakhir otomotif.

Sementara pelatihan yang dilaksanakan tahun 2021 ini adalah pelatihan pecah batu, rias pengantin, tata boga, dan dan menjahit. Sementara setiap pelatihan diikuti sebanyak 20 peserta dengan panjang waktu 10 hari yang dilaksanakan di tempat yang berbeda. Terkadang dilaksanakan di balai latihan kerja (BLK) atau gedung-gedung yang lain.

“Harapannya pelatihan tersebut dapat bermanfaat meski waktunya lebih singkat,” imbuhnya.

Eko (sapaan akrabnya) menjelaskan, pemangkasan pelatihan kerja itu memang sudah berdasarkan dengan pengkajian dari hasil monitoring yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Sementar itu, jumlah anggaran disiapkan untuk penanganan pengangguran yang ada di setiap tahunnya.

Kan seperti biasa, setiap tahun itu, terutama di awal tahun, kami itu berjelajah ke seluruh daerah di Sumenep. Terutama memastikan hasil pelatihan dan bantuan alat, efektif atau tidak, membantu atau tidak. Berhubung memang anggarannya sedikit, maka dicari yang paling berpotensi saja,” pungkasnya. (ara/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *