Penerima Insentif Guru Ngaji dan Madin di Bangkalan Menyusut

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) DIREALISASIKAN: Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron dan Kepala Dinas Pendidikan menyalurkan insentif guru ngaji dan madin.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Meski sempat molor, akhirnya insentif guru ngaji dan madrasah diniyah (madin) triwulan kedua baru dicairkan Rabu (4/8/2021). Seharusnya,  pencairan pada awal Juli lalu. Namun, jumlah penerima berkurang dari data sebelumnya. Yakni, sebanyak 9.342 guru, saat ini hanya 9.312 guru ngaji. Sedikitnya, berkurang 30 orang dari data sebelumnya.

Salah satu indikasi berkurangnya penerima, akibat puluhan guru ngaji dan madin meninggal dunia. Dari 30 orang tersebut, hanya ada 27 orang yang tercover di Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Ketenagakerjaan. Sehingga, mendapatkan bantuan sebesar Rp42 juta. Hal ini diungkapkan Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron, Rabu (4/8/2021).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, bantuan tersebut diberikan kepada ahli waris dari setiap guru ngaji dan madin. Sedangkan untuk lambatnya realisasi, akibat adanya perubahan pencairan. Yakni, dari manual ke digital atau melalui anjungan tunai mandiri (ATM). Sehingga, dengan peralihan pencairan tersebut mampu mempermudah setiap penerima bantuan.

“Kegiatan rutin ini dilakukan pertiga bulan. Jadi, setiap tiga bulan guru ngaji dan madin tidak perlu lagi antri di bank. Cukup ke ATM dan bisa mengambil uang itu (insentif red) kapan saja jika dibutuhkan. Jadi, dari 9.312 penerima sebanyak 4.246 guru madin dan 5.065 guru ngaji se-Kabupaten Bangkalan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan Bambang Budi Mustika mengaku, tidak semua guru ngaji dan madin mendapatkan insentif maupun tercover BPJS Ketenagakerjaan. Sebab, tidak ingin memaksa guru ngaji dan madin untuk mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Sehingga, dari total jumlah guru ngaji dan madin yang memperoleh insentif, hanya 70 persen menjadi kepesertaan BPJS. “Karena beberapa tahun yang lalu, kami wajibkan menjadi peserta BPJS, banyak yang mengeluhkan dan disangka saya melakukan pemotongan. Ini kan repot, akhirnya saya tidak wajibkan,” tuturnya.

Disinggung mengenai data 30 guru ngaji dan madin yang masih tercantum namanya dalam surat keputusan (SK) penerima insentif? Pihaknya membenarkan. Sebab, berlakunya SK selama satu tahun. Namun, untuk insentifnya sudah dibekukan. “Jadi, insentif 30 guru ngaji dan madin kami alihkan ke lainnya pada tahun berikutnya. Akan kami evaluasi dulu, nanti saya berhentikan. Bantuan tidak kami cairkan,” jelasnya. (ina/ito)

Data Penerima Insentif Guru Ngaji dan Madin

  • Awalnya 9.342 orang
  • Saat ini 9.312 orang
    • 065 guru ngaji
    • 246 guru madin
  • 30 orang meninggal dunia
    • 27 orang mendapatkan bantuan
    • 3 orang tidak tercover di BPJS Ketenagakerjaan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *