Melihat Jawa dalam Peribahasa

  • Whatsapp
Melihat Jawa dalam Peribahasa

Peresensi         : Slamet Makhsun*)

Setiap suku bangsa, entah dari Aceh hingga Papua, memiliki perbedaan dan khazanahnya masing-masing. Demikian itu yang mengantarkannya menjadi sebuah keunikan. Oleh sebabnya, sangat naif bila ada orang yang mendiskriminasi dan mencerca hanya gegara suatu perbedaan. Bahkan, secara konkret, Tuhan pun telah menakdirkan makhluk-Nya untuk berbeda. Supaya diantara mereka bisa saling sapa satu sama lain, agar mengenal dan berdialektika. Sehingga tercipta peradaban yang paripurna.

Termasuk pula suku Jawa. Dalam khazanah kehidupan orang Jawa, salah satu yang patut ditelaah ialah perihal peribahasa. Begitu banyak—bahkan ribuan—peribahasa yang hidup dan diamini oleh orang Jawa. Di dalamnya, terkandung makna dan nilai-nilai adiluhung kehidupan, sehingga, sampai sekarang pun masih tetap lestari.

Budaya dari mulut ke mulut, menjadi media alternatif dalam menjaga kekhasan tersebut. Pasalnya, leksikal yang tercipta ialah bagaimana orang yang dianggap bijak, lalu mengajarkan petuah-petuah hidup kepada yang lebih muda dan begitu seterusnya. Tradisi Jawa kental akan hal itu. Sehingga, peribahasa seakan menjadi nilai—bahkan—konstitusi kehidupan dalam laku orang Jawa.

Apabila disimak, kekuatan nilai pesan yang terkandung dalam peribahasa tradisional masih relevan sebagai landasan bersikap dan berperilaku dalam menghadapi dunia global ini. Apalagi, melihat era keterbukaan budaya saat ini, sehingga sepantasnya menyaring budaya-budaya asing yang negatif, agar tidak meracuni dan membabat habis jati diri bangsa. Dan peribahasa, memiliki peran di ranah itu. Lebih-lebih, manakala didayagunakan secara maksimal, peribahasa menyimpan kekuatan spiritual yang original dan alami, sehingga bisa menjadi benteng ampuh dalam merawat khazanah dan nilai luhur bangsa.

Sebut saja misal ungkapan ajining dhiri dumuning lati, ajining raga saka busana. Terjemahan bebasnya, bahwa nilai pribadi seseorang ditentukan oleh ucapan atau kata-katanya, sedangkan nilai penampilannya sering diukur dari busana yang dikenakan. Secara eksplisit, peribahasa Jawa tersebut merupakan nasihat agar berhati-hati dengan tuturan kata yang diucapkan. Sebab, apa saja yang terucap dari mulut kita, akan didengar, diperhatikan, dan dipercayai oleh orang lain. Dan jika tidak hati-hati, maka sebilah ucapan bisa berubah menjadi pedang tajam. Yang dapat membunuh kita, atau mencelakakan orang lain.

Selain ucapan, derajat seseorang dapat dinilai dari pakaiannya. Di Jawa, yang bernama pakaian, akhirnya bukan sekedar penutup aurat belaka. Tetapi turut memiliki peran dalam dimensi sosial. Lihat saja, misal ketika seseorang menghadiri acara pernikahan, namun hanya mengenakan pakaian yang sering digunakan untuk pergi ke sawah. Tentu, si orang itu akan dicibir oleh kawan-kawannya dan si pemilik hajat. Dikira tidak memiliki adab dan rasa hormat terhadap pihak pemilik hajat.

Lain daripada itu, terdapat jua peribahasa yang berbunyi mikul dhuwur, mendhem jeru—yang secara bahasa berarti mengangkat setinggi-tingginya, mengubur dalam-dalam. Adagium tersebut, sebenarnya ditujukan kepada seorang anak, agar menghormati orang tua. Yakni dengan cara menghargai jasa mereka setinggi-tingginya dan menyimpan dalam-dalam jasa tersebut di hati sanubarinya.

Pun demikian, setiap orang memiliki keburukan, sehingga, wujud anak yang berbakti juga termasuk menyimpan dan tidak membeberkan aib orang tuanya kepada siapa pun. Simpan rapat-rapat. Inilah maksud dari kalimat “mengubur dalam-dalam” itu.

Selain dari dua peribahasa di atas, sungguh, masih begitu banyak peribahasa-peribahasa yang sangat sarat moral itu. Seperti yang digali oleh Ki Hajar Dewantara—bapak pendidikan Indonesia—bilamana peribahasa yang beliau cetuskan, begitu terkenal dalam dunia pendidikan Indonesia. Yaitu idiom Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Artinya, di depan memberikan suri tauladan, di tengah membangun kemauan dan semangat, serta di belakang mengikuti sambil mengoreksi dan menjaga keselamatan semuanya.

Di atas tersebut, adalah sebuah nasihat kepada manusia, dimana jua, ia adalah seorang pemimpin, termasuk memimpin dirinya sendiri sekalipun. Ibrah yang diambil, karena setiap manusia menjadi pemimpin, maka harus bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Selalu memberikan kenyamanan dan kebaikan dalam semua hal.

*) Mahasiswa Jurusan Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga

Judul Buku      : Nasihat-Nasihat Hidup Orang Jawa

Penulis             : Iman Budhi Santosa

Penerbit           : Noktah

Cetakan           : Pertama, 2021

Tebal Buku     : 240 Halaman

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *