Angka Buta Aksara di Sampang Tinggi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/SUBHAN) BUTUH PENANGANAN: Angka buta aksara di Kabupaten Sampang untuk penduduk usia 15 hingga 59 tahun berada  di angka ribuan jiwa.

KABARMADURA.ID, SAMPANG -Momentum Hari Aksara Internasional yang biasa diperingati pada tanggal 8 September, rupanya banyak menyisakan pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang. Salah satu indikasinya, hingga saat ini  angka buta aksara penduduk usia produktif  masih tinggi dan indeks literasi masyarakat sangat rendah.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Madura dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI) (http://publikasi.data.kemdikbud.go.id/) menunjukkan, jumlah penduduk usia 15-59 tahun sebanyak 596.044 jiwa. Sedangkan, yang tercatat buta aksara sekitar 9,76 persen atau berjumlah 58.190 jiwa. Kemudian, penduduk usia 15+ tahun tercatat 696.387 yang buta aksara sekitar 17,50 persen atau sebanyak 121.857 jiwa.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang Nur Alam melalui Kasi Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Abd. Rahman mengatakan, upaya menekan angka buta aksara hanya mengandalkan program kejar paket yang diselenggarakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang tersebar di berbagai kecamatan.

Namun, dirinya berdalih tidak mengantongi data angka buta aksara versi lembaganya. Pihaknya menyebut, jumlah PKBM di daerah yang berjuluk kota Bahari sebanyak 32 lembaga dengan jumlah total peserta didik mencapai 10 ribu jiwa. “Kami sudah galakkan program kejar paket melalui PKMB yang ada dan relatif sudah ada penurunan angka buta aksara ini, tapi data pastinya kami kurang tahu,” ujarnya, Rabu (8/9/2021).

Disinggung terkait sumber pendanaan PKBM untuk menuntaskan buta aksara? Rahman membeberkan, setiap tahun PKBM yang terdaftar di Disdik Sampang mendapatkan kucuran bantuan operasional penyelenggaraan (BOP) keaksaraan yang bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) non fisik pada tahun anggaran berjalan.

“Tahun ini, BOP keaksaraan mencapai Rp6,5 miliar untuk puluhan PKBM yang ada, semantara jumlah yang diterima setiap lembaga ini tergantung banyaknya peserta didik,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Sampang Sudarmanto mengungkapkan, untuk indeks literasi masyarakat hingga kini masih tergolong dalam kategori sangat rendah. Sebab, selama ini belum menjadi prioritas pemerintah daerah, lantaran tidak menganggarkan khusus untuk kegiatan tersebut.

Sehingga, untuk mendorong minat baca dan gerakan literasi masyarakat akan terus berkoordinasi dengan pemerintah desa (pemdes) agar di semua desa bisa menyediakan sarana baca atau perpustakaan yang dianggarkan melalui dana desa (DD). Selain itu, juga mendorong agar perpustakaan di setiap sekolah, baik negeri maupun swasta terakreditasi.

Sehingga bisa mempengaruhi terhadap peningkatan indeks minat baca dan literasi masyarakat.“Kalau untuk Indeks literasi masyarakat masih sekitar 0,7. Sedangkan untuk indeks minat baca berada di kisaran angka 4,6. Semuanya memang masih sangat rendah,” tuturnya. (sub/ito)

Data Kemendikbud RI

  • Jumlah penduduk usia 15-59 tahun sebanyak 596.044 jiwa.
  • 9,76 persen atau 58.190 jiwa tercatat buta aksara
  • Penduduk usia 15+ tahun tercatat 696.387
  • 17,50 persen atau sebanyak 121.857 jiwa tercata buta aksara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *