Lahan Pertanian di Bangkalan Terancam Menyusut

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) BEKERJA: Para petani menyiapkan lahan di area persawahan Desa Bilaporah Kecamatan Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Lahan pertanian di Kabupaten Bangkalan terancam menyusut. Kondisi itu, dikarenakan banyaknya lahan yang sebelumnya produktif akan berubah menjadi lahan industri. Meski selama tiga tahun terakhir, potensi produksi lahan meningkat cukup signifikan.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) Kabupaten Bangkalan Teguh mengatakan, lahan produktif pertanian selama tiga tahun terakhir masih dalam kategori aman. Sebab, berdasarkan perkembangan per hektar lahan setiap tahun masih meningkat.

“Selama tiga tahun ini hasil panen padi memang selalu meningkat. Hal ini nyatanya tidak luput dari upaya observasi lahan yang sebelumnya tidak digunakan dan dimanfaatkan untuk menanam padi. Padahal, kami mengupayakan rekomendasi pada petani agar memprioritaskan menanam padi,” ujarnya, Kamis (16/92021).

Menurutnya, jika observasi tidak dilakukan, maka kemungkinan besar hasil produksi tanaman padi akan menurun. Kemudian akan berdampak pada ketahanan pangan di daerah.  Sebab, beberapa lahan yang sebelumnya produktif ditanami padi, mulai beralih menjadi lahan industri.

“Lahan padi yang sebelumnya digunakan, memang banyak digunakan menjadi lahan industri perumahan saat ini,” ucapnya.

Pihaknya mengupayakan, agar total panen musim tanam tahun berikutnya bisa bertahan, atau bisa bertambah. Tetapi memang harus lebih berupaya keras untuk menambah lahan produktif padi. “Nanti akan di breakdown kembali, jadi dari Oktober 2021 sampai bulan Maret 2022 masih mau rapat dengan provinsi mengenai langkah observasinya,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Bangkalan Moh Rokib mengatakan, upaya pembangunan di daerah juga harus disiasati. Prioritas utamanya, selain memberikan tambahan fasilitas tentu juga tidak meninggalkan kebutuhan pokok dari sektor komoditas pangan.

“Kalau pembangunan nanti dilakukan tidak teratur. Tentu saja lahan produktif pertanian akan terancam menyusut,” responnya.

Menurutnya, DTPHP harus bisa melakukan koordinasi dengan dinas terkait yang memang mengatur permukiman. Sehingga nanti, bisa menentukan kebutuhan lahan pertanian dan juga lahan industri. “Nanti juga harus disesuaikan, agar keduanya bisa berjalan saling menguntungkan,” sarannya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *