Pengamat Indikasikan Ada Praktik Money Politic di Pencalonan Wabup Pamekasan

(FOTO: KM/ ALI WAFA) Ir. HM Hazin Mukti, MT., MM: Pengamat Politik

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN – Munculnya figur kandidat calon wakil bupati (cawabup) Pamekasan, memancing tanggapan dari pengamat politik. Direktur Institut Perencanaan, Pengembangan dan Advokasi Kebijakan Daerah (IPPAD) HM Hazin Mukti menilai, orang asing tidak cukup layak menjadi wakil bupati Pamekasan.

Meski tidak dilarang oleh aturan, namun menurutnya, tidak etis jika yang memimpin Pamekasan bukan orang Pamekasan. Bahkan menurutnya, masuknya orang luar Pamekasan dalam bursa cawabup, ada indikasi money politic. Selain itu, Pamekasan disebut tidak kekurangan figur potensial untuk menduduki kursi wabup.

“Kalau ada orang luar masuk, pemikiran saya pasti ada indikasi money politic. Memang money politic tidak bisa dihindari,” alumnus Universitas Brawijaya Malang itu.

Bacaan Lainnya

Hazin menilai, tidak etis jika Fattah Jasin diusung sebagai cawabup. Sebab, selain karena Fattah Jasin merupakan orang luar Pamekasan, mantan penjabat (Pj) bupati Pamekasan itu  pernah diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sementara bupati Pamekasan saat ini sudah mewakili PKB.

Selain Fattah Jasin, salah satu orang luar Pamekasan yang masuk dalam bursa cawabup yaitu H. Fandi. Dia merupakan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Sampang. Menurutnya, kursi wabup Pamekasan merupakan jatah orang Pamekasan dan berasal dari salah satu prtai koalisi. 

“Pamekasan itu beda dengan kabupaten lain. Untuk memimpin Pamekasan itu tidak cukup satu dua tahun untuk membaca Pamekasan,” tutur dosen Universitas Madura itu.

Dijelaskannya, secara kajian politik, yang paling berhak mengisi kursi wabup yaitu antara Partai Gerindra atau PAN. Sebab, keduanya memiliki kursi terbanyak di parlemen setelah PKB. Hanya tergantung bagaimana konsolidasi politik di internal partai koalisi, terutama antara Partai Gerindra atau PAN.

Kendati begitu, ditegaskannya, meski kursi wabup akan terus dikosongi hingga periode jabatan bupati Pamekasan berakhir, hal itu tidak menyalahi aturan yang berlaku. Bahkan, di sejumlah daerah, banyak yang dipimpin oleh satu kepala daerah tanpa wakil. 

Sementara itu, Fattah Jasin menolak dirinya disebut orang luar Pamekasan. Menurutnya, dia adalah orang Pamekasan, hanya saja dilahirkan di Sumenep. Bahkan, salah satu mantan Bupati Pamekasan R. Zainal Fattah, tidak lain adalah anggota keluarganya. Semua kerabatnya berada di Pamekasan. Dirinya pun juga telah lama bertugas di Pamekasan.

“Saya ini orang Pamekasan, jangan bilang saya orang Sumenep. Mantan bupati, Zainal Fattah itu kakaknya mbah saya,” ucap Fattah Jasin.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Wawan A. Husna

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.