Warga Sekolah Diteror Ancaman Kekerasan Bertahun-tahun

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) DITEROR: Guru dan siswa SMPN 1 Batumarmar resah dengan ancaman bertubi-tubi dari penjaga sekolah.

KABARMADURA.ID| PAMEKASANSekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Batumarmar kerap mendapat ancaman. Ancaman tersebut datang dari seorang penjaga sekolah bernama Monassan. Sebagai penguat laporan, dalam surat laporan tersebut, diuraikan kronologi dan bentuk teror terhadap SMPN 1 Batumarmar.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan Akhmad Zaini menuturkan, gejolak yang terjadi di sekolah itu sejatinya sudah lama. Bahkan, kegaduhan dan akibat ulah Monassan itu terjadi dari tahun ke tahun. Setelah mendapat laporan itu, pihaknya langsung mendatangi sekolah dan berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan setempat.

Pihaknya meminta pihak forum pimpinan camat setempat untuk menindaklanjuti keluhan para guru di SMPN 1 Batumarmar. Kepolisian Sektor (Polsek) Batumarmar diminta untuk mendalami aduan itu dan terus mengawasi dan menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan sekolah.

“Saya sudah koordinasi dengan camat setempat. Setelah itu dengan tokoh setempat. Lalu camat melakukan koordinasi dengan polsek, danramil dan kepala desa. Kasus itu berulang-ulang, bukan cuma kali ini,” ujarnya.

Dalam lampiran surat laporan tersebut dijelaskan, pada tahun 1996 lalu terjadi kasus pembunuhan terhadap salah seorang staf di SMPN 1 Batumarmar. Menurut informasi, Monassan terlibat dalam kasus tersebut. Kemudian pada tahun 2006, Monassan menganiaya Abdus Said selaku bendahara sekolah saat itu.

Tidak selesai di situ, pada tahun 2007 Monassan kembali berulah. Penganiayaan kembali dilakukan kepada bendahara baru bernama Mohya (alm). Pada tahun 2011, Monassan melayangkan ancaman kepada warga sekolah dengan membawa senjata tajam (sajam). Pada tahun 2017, Monassan merusak perangkat komputer dan membanting monitor ke lantai.

Monassan juga pernah mengunci pintu gerbang dan beberapa ruangan sekolah. Akibatnya guru dan siswa tidak bisa masuk. Teror yang dilakukan juga membuat guru perempuan di sekolah itu ketakutan. Pasalnya, Monassan kerap membuntuti guru perempuan dari belakang. Bahkan, ancaman akan mencongkel mata kepala sekolah.

Tidak hanya itu, pada 12 Oktober lalu, Monassan meminta kunci sekolah kepada salah satu staf TU Juhri. Dia mengunci beberapa ruangan dan pagar sekolah. Monassan juga mengancam para guru dan siswa. Pada 13 Oktober lalu, dia melarang guru dan siswa untuk masuk ke sekolah. Karena berbagai ancaman tersebut pihak sekolah melapor kepada Disdikbud karena takut.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Batumarmar Rusman Widiarso mengatakan, Monassan sendiri statusnya sebagai penjaga sekolah dan merupakan aparatur sipil negara (ASN).  Namun dia sendiri mengaku tidak begitu tahu detail kronologi aksi pengancaman tersebut. Sebab, dirinya baru 2 tahun menjabat kepala sekolah.

Namun dia membenarkan bahwa ada ancaman mencongkel matanya. Namun ancaman itu tidak disampaikan kepadanya secara langsung, melainkan kepada guru yang lain. Untuk menghindari hal-hal yang tidak menginginkan, aktivitas di sekolah sementara waktu dihentikan. Menurut informasi yang berhasil dihimpun Kabar Madura, ada dugaan Monassan mengalami gangguan jiwa.

“Ini bukan yang pertama, sudah sering ancaman seperti ini,” ucap Rusman.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *