Sulit Cegah Penyebab Terjadinya Stunting Anak di Bangkalan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) TERBATAS: Sedikitnya ada 10 desa di Kabupaten Bangkalan penyumbang kasus stunting pada anak.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN -Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan mengklaim angka stunting pada anak berkurang dan mengalami penurunan. Kondisi itu, jika dibandingkan dengan kasus di tahun 2020 lalu, stunting masih berada di angka 3.240 penderita. Sedangkan di tahun 2021 ini, stunting hanya mencapai 2.314 penderita. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Aris Budianto, Kamis (21/10/2021).

Menurutnya, salah satu penyebab stunting pada anak tidak terlepas dari terjadinya pernikahan dini. Bahkan hingga saat ini, kawin di usia dini belum bisa ditekan semaksimal mungkin. Sedangkan instansinya tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah terjadinya pernikahan di bawah umur tersebut. Selain itu, kasus stunting bukan hanya menjadi kewenangan instansinya. Melainkan semua sektor dari tingkat kecamatan hingga desa.

“Kami hanya bisa sedikit membantu di unsur biologisnya saja. Yakni hanya bisa mengintervensi 30 persen, sedangkan yang menentukan kewenangannya berada di luar instansi kami. Jadi, kasus ini tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi. Karena penyebabnya, faktor sosial dan agama. Makanya perlu ada keterlibatan pihak terkait,” ujarnya.

Pihaknya memaparkan beberapa langkah penanganan stunting yang menjadi kewenangan instansinya. Masing-masing, ante natal care (ANC) setiap periode kehamilan, minimal ibu hamil (bumil) berkunjung ke fasilitas kesehatan sebanyak 4 kali. Selanjutnya, pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi bumil dan remaja putri dan pemberian vitamin A. Setelah melahirkan balita, perlu adanya pemantauan pertumbuhan melalui posyandu per bulan.

“Lalu promosi dan konseling  tentang makanan pendamping air susu ibu (MP ASI) dan pemberian makanan bayi dan anak (PMBA). Ini semua memang yang bisa dilakukan oleh instansi kami. Tapi diluar itu, salah satu penyebab terjadinya stunting akibat pernikahan dini,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Bangkalan Amina Rahmawati mengaku, rutin melakukan sosialisasi kepada warga desa, bumil, dan juga pasangan usia subur. Menurutnya, terdapat 10 lokasi rawan stunting yang menjadi fokus dalam melaksanakan sosialisasi. Masing-masing, Desa Ujung Piring, Martajasah, Bilaporah, Tajungan, Dupok, Bang Pendah, Tengket, Sambiyan dan Geddungan.

“Semuanya sudah kami lakukan rutin dan sudah terbukti efektif. Sementara kami fokus di desa ini, karena memang di desa ini kasus stunting masih tinggi. Intinya dalam sosialisasi ini, kami meminta agar pasangan remaja yang hendak menikah harus berusia 21 tahun. Karena usia ideal menikah dan hamil pada rentan usia 21-35 tahun. Kondisi psikis dan biologis di masa itu sudah matang,” responnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *