Derita Zaidatul Millah Lawan Penyakit Tumor, Kekurangan Biaya Pengobatan lantaran Sang Ayah Tutup Usia

  • Whatsapp
(FOTO: DAVID FOR KM) BUTUH ULURAN: Zaidatul Millah, sejak SMP hingga usia 24 tahun berjuang melawan tumor di pinggulnya.

KABARMADURA.ID | Upaya keras dilakukan Milla untuk sembuh dari sakitnya. Perempuan berusia 24 tahun tersebut, kini lemas terkulai di ranjang kamarnya karena sudah tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Warga Dusun Baban, Desa Arosbaya, Kecamatan Arosbaya ini, tidak bisa mengenyam pendidikan dan bermain dengan teman sebaya. Dia sudah tidak bisa merasakan nikmat tersebut sejak lepas dari SMA.

Milla mendapati tumor di tubuhnya saat baru duduk di bangki SMP. Seiring waktu, kondisinya semakin memprihatinkan. Padahal sudah pernah diobati dan beberapa kali dioperasi.

Malangnya lagi, dia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang bekerja sebagai penjual jamu keliling. Penghasilannya tidak cukup untuk biaya pengobatan yang besar. Terlebih, dia sudah tidak mampu berjuang sendiri untuk mencukupi kebutuhannya. Sementara, dia harus berobat secara rutin dan menjalani operasi.

Sehingga Milla membutuhkan uluran tangan dari tangan dermawan.

“Saya sangat berharap uluran dan kepedulian itu ada, saya masih ingin sehat,” kata Milla sambil memohon.

Setiap hari, sejumlah obat-obatan rutin dikonsumsi. Obat itu didapatkan dari hasil donasi oleh komunitas relawan di Bangkalan. Tetapi yang merawat Milla di rumah hanya tersisa satu orang teman. Sebab, ibu Milla harus keliling setiap hari mencari nafkah.

“Sejak kepergian ayah, semangat itu mulai redup, apalagi jika melihat ibu berusaha sendirian,” ungkap Milla.

Setiap pekan, dia harus memeriksa darah di Rumah Sakit dr. Soetomo, Surabaya. Harapan besarnya masih mampu untuk sembuh, dan nantinya siap untuk melakukan operasi jika dana sudah terkumpul

“Sejak SMP, saya masih mampu menahan dan juga karena mampu diobati, sehingga tidak sampai sebesar sekarang,” tuturnya.

Jika diingat, kata Milla, dirinya tiga kali melakukan pengobatan pada penyakitnya itu. Setiap usai pengobatan, tumornya mengecil. Tetapi baru kali ini, tumor di pinggulnya membesar. Kondisi itu terjadi setelah dia berhenti melakukan pengobatan karena kurang biaya.

“Dulu kalau masih ada ayah, selalu diusahakan untuk berobat, tapi kini, kami tidak sanggup menyelesaikan pembiayaannya,” ucapnya.

Milla berharap, uluran tangan itu datang dari mana pun. Bahkan dari seseorang yang tak terduga sekalipun. Milla percaya bahwa pertolongan Allah masih ada dan selalu menunggu masa yang tepat.

“Saya serahkan pada yang maha kuasa sambil lalu memohon kesembuhan,” pungkasnya.

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *