Menangkap Binatang Buas

 Feri Malik Kusuma

(Esais dan kritikus sastra mutakhir, pegiat hak-hak asasi manusia Indonesia)

Ada sesuatu yang mengusik pikiran Mayor Bisri akhir-akhir ini. Selama empat hari berturut-turut, ia telah mengunjungi warga Desa Kopo untuk mengumpulkan keterangan mengenai munculnya makhluk aneh yang menimbulkan keresahan dan kegelisahan masyarakat sekitar. Sejauh ini, bukti-bukti yang dihimpun sang mayor belum meyakinkan. Pak RT setempat memberikan kesaksian adanya warga yang melihat seekor macan kumbang, ada lagi yang mengatakan seekor naga. Tetapi, tidak sedikit yang percaya pada pernyataan Pak Lurah mengenai kadal raksasa alias komodo.

Masyarakat desa yang mayoritas muslim – meski tak bisa melepaskan diri dari kepercayaan pada takhayul – merasa kesulitan untuk membedakan mana fakta dan mana fiksi. Bagaimana khayalan dan fantasi sebegitu merebak, hingga mereka sulit membedakannya dengan realitas dan kenyataan yang sebenarnya.

Mayor Bisri sendiri merasa bangga menjadi muslim, tetapi di sisi lain ia masih suka melakukan ziarah bersama rombongan jamaah kampungnya, mendatangi makam-makam para wali untuk ngalap berkah, termasuk kuburan Gus Dur di Jombang, sambil mengantongi beberapa kerikil yang diambilnya dari tanah pekuburan tersebut.

Untuk menenangkan warga desa, Mayor Bisri mencoba menampilkan cerita-cerita berdasarkan kisah nyata yang baru-baru ini terjadi. Khususnya perihal keributan dan kegaduhan warga Lampung mengenai kedatangan monster hitam di sekitar sungai Way Kambas, kemudian disiarkan secara sentral melalui televisi nasional hingga media-media daring. Tetapi, teori terbaru menyebutkan bahwa monster itu ternyata hanya seekor gajah yang sedang berendam di sungai untuk menikmati suasana dingin dan sejuk.

Adapun wujud naga yang nampak dalam obyek foto yang viral menggemparkan itu, ternyata hanya belalainya yang meliuk-liuk di permukaan air. Itu artinya, masih merupakan bagian dari anggota tubuh binatang besar yang brengsek itu. Oleh karena penampakan itulah – tegas Mayor Bisri – seorang penceramah setempat, laris-manis dibanjiri ratusan jamaah yang berduyun-duyun mendatangi masjid Darul Muttaqin, lantaran tema yang disampaikannya selalu mengenai “kiamat sudah di ambang pintu”.

***

Seorang atasan Mayor Bisri, Jenderal Sunarto, serta-merta turun dari jip dengan persenjataan lengkap melingkar di sekitar pinggang dan bokongnya. Ia menyalakan rokok sambil menutup bara api dengan telapak tangannya, kemudian berkata tegas sambil menodongkan telunjuknya, “Pokoknya, kamu harus atasi masalah ini secepatnya!”

“Saya usahakan, Pak,” tanggap sang mayor.

“Secepatnya!” desaknya lagi.

“Siap, Pak Jenderal!”

Ah, ngomong sih gampang (pikir sang Mayor). Kenapa sang jenderal itu tidak datang sejak kemarin lusa, ketika masyarakat geger berlarian menjauhi hutan Solear dan perkampungan sekitarnya. Pagi ini saja tersiar kabar lagi mengenai matinya empat ekor monyet dan enam ekor ayam di sekitar hutan itu. Kalau cuma singgah di gardu ronda di wilayah Kopo sih gampang-gampang saja. Di samping jaraknya yang jauh dari hutan Solear, pihak Damkar juga sudah mengumumkan sejak kemarin, bahwa wilayah ini sudah masuk ke dalam zona aman.

Namun demikian, Mayor Bisri bukanlah tipikal tentara yang mudah gentar. Ia memiliki reputasi yang lumayan sejak penugasannya di wilayah Aceh dulu. Belum lagi pengamanan yang intensif setelah peledakan bom Bali dan Surabaya, juga distribusi bantuan Covid-19. Bahkan yang terakhir, kasus penangkapan dua orang pembegal dan penjahat kambuhan yang kemudian viral di media sosial.

Ia pernah menginterogasi perampok toko kelontong yang dituduhnya sebagai “penjahat kambuhan”. Saat itu, ia mengikat kedua tangan si tersangka dari balik kursi dengan prinsip yang dianggapnya “sederhana”, bahwa setiap penjahat dan pelanggar hukum tak pernah mau membuka suaranya, sebelum bercelomot darah di sekitar mulutnya. Konon, mayor ini juga pernah berjasa pada peristiwa kerusuhan Mei 1998, yang waktu itu masih tergolong tentara muda. Ia kerap menginterogasi seorang tersangka, lalu membebatkan kedua tangannya dengan tali pada tiang bangunan. Ia mendesak dan menyudutkan sang tersangka dengan teori, bahwa asas praduga tak bersalah adalah suatu prinsip yang menyimpang. Ia justru membalik logika itu agar (katanya) sesuai dengan kenyataan di lapangan. Baginya, semua orang adalah bersalah, sampai terbukti yang sebaliknya.

Oleh karena itu, supaya masyarakat – terutama para atasannya – tidak kecewa, ia merasa wajib untuk bergerak secepat mungkin, agar monster itu segera ditemukan. Ia bertekad menangkap monster raksasa itu hidup-hidup, yakni suatu makhluk kasatmata yang telah menimbulkan keresahan, merusak lingkungan, mengecewakan perasaan, menggigit monyet-monyet dan memberangus ayam-ayam di kandang mereka.

***

“Pak Mayor… Pak Mayor…!”

“Siap! Ada yang bisa saya bantu?” katanya dengan sigap dan ramah.

“Sepertinya saya bisa membantu.”

Panggilan ini berasal dari mulut seorang nenek berusia 65 tahun yang cukup meyakinkan. Mayor Bisri menjongokkan mukanya ke wajah sang nenek dengan penuh antusias. Ia merasa tergugah, menatap wajah wanita tua itu dengan penuh hormat. Nampak tulang pipinya menonjol dan keriput, tubuhnya sintal, garis lehernya rendah memamerkan payudara yang membusung lantaran BH yang busanya amat tebal. Penampilannya yang kurang senonoh itu diperhalus oleh kerudung jilbabnya yang berenda-renda, alis matanya yang lentik, meskipun sorotan matanya agak muram.

“Silakan, apa yang mau Ibu sampaikan,” sungut sang mayor, sambil mengeluarkan ponselnya untuk merekam, dengan gaya seorang jurnalis berpengalaman.

Si nenek membetulkan BH-nya, mendehem beberapa kali, dan ujarnya, “Anak laki-laki saya yang bungsu, sejak dulu gemar sekali memelihara binatang. Sewaktu usianya masih remaja, dia pernah diajak mendiang bapaknya, berwisata di Pulau Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Nah, sepulang dari sana, dia mengeluarkan seekor kadal buntung dari ranselnya.”

“Kadal buntung seperti apa, Bu?” tanya si mayor kaget.

“Kadal yang ekornya terputus, kira-kira sebesar cicak atau tokek.”

“Oo begitu,” sang mayor mengangkat alis matanya, nampaknya ia sangat tertarik mendengar cerita ini.

Si nenek menyeka pelupuk matanya yang berkeringat, dan lanjutnya, “Pada suatu hari, hewan peliharaan anak saya itu lepas dari ransel ketika ia berkunjung ke hutan Solear, yang jaraknya hanya empat kilometer dari rumah kami. Nah, belum lama ini, anak saya menelpon dari tempat kerjanya di Australia, bahwa makhluk raksasa itu kemungkinan adalah kadal buntung miliknya, yang boleh jadi sudah besar saat ini.”

“Kadal buntung… kadal buntung raksasa…,” sang mayor berpikir dan menimbang-nimbang agak ilmiah.

Nenek itu menyusupkan tangan ke bagian depan bajunya, membetulkan posisi BH-nya yang menurun, kemudian katanya meyakinkan, “Kemungkinan besar hewan itu adalah komodo… atau kadal komodo…”

“Tepat sekali, kita pastikan saja… itu adalah kadal komodo!” teriak si mayor penuh kemenangan.

Sebenarnya ia tak suka mendengar kata itu. Meski begitu, ia tetap menuliskan “kadal komodo” di buku catatannya, seakan itu sejenis spesimen baru yang baru memiliki nama berkat jasa-jasanya. Selanjutnya, ia berpesan kepada nenek itu, agar menyampaikan terimakasih pada anak lelakinya di Australia sana, dan agar dia berhati-hati dan waspada berada di negeri asing.

“Dan kalau ingin memelihara binatang,” tegasnya lagi, “pastikan dia cukup membeli burung gereja atau ikan koki saja. Sebab, hal ini menyangkut keharmonisan hubungan bilateral yang harus terjaga antara Indonesia dan Australia, mengerti?”

Si nenek manggut-manggu mengiyakan, meski dalam hatinya masih bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan hubungan bilateral tersebut.

***

Buku ensiklopedia sudah berada di tangan Mayor Bisri. Ia membuka-buka halaman bagian fauna. Sebelumnya, ia tak pernah sempat melihat-lihat buku semacam itu. Dengan suara pelan, ia membaca huruf demi huruf pada abjad untuk menelusuri huruf “K”, kemudian mulai mencari kata “Kadal”. Beberapa halaman ke depan, ia pun berhasil menemukan kata “Komodo”. Ia membaca definisinya, lalu foto ilustrasinya yang menunjukkan sesosok makhluk buas dan menyeramkan, seakan perpaduan antara buaya dan dinosaurus. Moncong hidungnya panjang, kakinya kuat dan pendek, dan kulitnya dilapisi sisik yang keras. Ia belum pernah melihat binatang yang menyerupai itu, dan kini seakan menyadari betapa hewan sejenis itu masih bergentayangan dan bertahan hidup hingga di zaman milenial ini.

Pelan-pelan si mayor membaca dan mempelajari, bahwa hewan yang disebut Varanus Komodoensi adalah spesies kadal terbesar di dunia. Hewan yang hidup di suatu pulau di kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur itu, memiliki rahang yang menakutkan dengan enam puluh gigi bergerigi tajam. Hewan ini rata-rata memiliki panjang 2,5 meter dan berat 165 kilogram, meski tercatat ada spesimen yang panjangnya mencapai lebih dari 3 meter. Ketika menyerang mangsanya, komodo memulai dengan mematahkan tulang rusuk hewan tersebut dengan giginya yang tajam. Seringkali, ia menangkap mangsanya, lalu mengguncang-guncangkannya dengan keras hingga tubuh si mangsa melemah dan merekah.

Nafsu makannya sangat besar. Seekor komodo yang hanya seberat 50-an kilogram dapat melahap 26 kilogram daging dalam tempo 17 menit. Jikapun dapat melarikan diri dari “monster” ini, korbannya akan mati akibat gigitannya. Sebab, air liurnya sangat berbahaya sehingga menghambat pemulihan dan menyebabkan kematian akibat keracunan darah dalam beberapa hari. Bisa yang terkandung dalam air liurnya, mengandung bakteri yang jauh lebih ganas daripada virus flu burung, SARS hingga virus Corona.

Waduh. Sang mayor merinding. Dengan begitu maka jelaslah, bahwa hipotesis yang diajukan nenek centil itu sangat masuk akal. Kadal yang dibawa anak bungsunya dari Pulau Komodo itu, sekarang pasti sudah tumbuh dewasa di hutan Solear, kabupaten Tangerang. Boleh jadi ia telah menjelma hewan buas yang bertahan hidup di luar habitat aslinya. Karena itu, si hewan menaruh dendam pada umat manusia, setelah menyadari dirinya terhempas dalam lingkungan yang tidak dikehendakinya.

Mayor Bisri menghela napas dalam-dalam. Ia melipat halaman buku ensiklopedia yang baru dibacanya. Sambil mengapit buku itu di ketiaknya, langsung berangkat menghadap Jenderal Sunarto atasannya, yang ternyata sang jenderal justru lebih parah gelisahnya ketimbang dirinya.

***

“Aku bilang juga apa, Bisri!” teriak sang jenderal sambil menggebrak meja kerjanya. “Bangsa kita yang ratusan tahun bertempur habis-habisan melawan Belanda dan berhasil merebut kemerdekaan, sekarang merasa panik dan gelisah gara-gara kadal komodo yang gak jelas seperti apa wujudnya. Desas-desus semakin merebak. Minggu-minggu ini, seluruh stasiun televisi dan media sosial ramai-ramai menyiarkan kasus ini sebagai berita utama. Masyarakat mengurung diri di rumah-rumah mereka. Bahkan wakil presiden, yang tinggalnya di daerah Tangerang, mengusulkan agar segera diberlakukan tanggap darurat…”

“Sekarang saya tahu solusinya, Pak Jenderal!” sahut sang mayor, seraya dengan bangga membuka ensiklopedia pada halaman yang sudah agak lusuh dan dilipat-lipat.

Jenderal Sunarto segera mengenakan kacamatanya sambil meninjau kolom itu dengan mata memicing. Ia merasa takjub pada anak buahnya tersebut, rasa gelisahnya agak mengendur sedikit.

“Serius Bisri… kamu yakin dengan ini?” katanya sambil menyeka keringat di dahinya.

“Ee, anu, Pak….”

Sesaat Mayor Bisri merasa ragu. Apakah dia benar-benar meyakini temuannya itu? Jangan-jangan nenek yang gemar membusungkan dada itu hanya menipu dirinya? Bagaimana kalau hewan itu ternyata hanya anjing yang berkeliaran? Atau hanya seekor monyet yang mencari makanan di rumah penduduk sekitar Solear? Sanggupkah dia mempertahankan teori Kadal Komodo itu, tanpa kemungkinan meleset dari perkiraan?

Ia berupaya mempercayai nalurinya, meski diselubungi keraguan, “Saya kira, saya tidak keliru, Pak Jenderal.”

“Saya tanya, kamu yakin tidak?”

“Saya kira, saya yakin…”

“Yakin tidak?!”

“Yakin, Pak Jenderal!”

Ia pun menghembuskan napasnya, seakan terbebas dari himpitan beban yang teramat berat. Sang Jenderal bangkit dan beranjak menuju lemari. Ia mengeluarkan senapan ganda yang sejak lama tersimpan di lemari. Dengan tegas dia pun berseru, “Akan saya habisi binatang bangsat itu…”

“Bukan binatang bangsat, Pak, tapi kadal komodo?”

“Diam!”

Pagi-pagi sekali, kesatuan militer disiagakan dari unsur Korem, Kodim dan Kodam Jaya. Unit-unit kepolisian juga dikerahkan untuk mengepung wilayah Solear, Kopo hingga Cisoka. Di sekitar hutan Solear, jaring-jaring ditebarkan di seluruh kawasan. Kesatuan-kesatuan tentara yang diterjunkan, dilengkapi dengan persenjataan lengkap. Pasukan pemadam kebakaran juga ikut berpatroli bersama ambulans-ambulans yang menyertainya. Atas prakarsa Jenderal Sunarto, potongan-potongan daging beracun ditebar di sekeliling hutan Solear, sebagai umpan untuk monster yang tengah berkeliaran itu. Bahkan, helikopter-helikopter AD yang sebagian personilnya bekas Orde Baru, juga diterjunkan khusus untuk mengawasi seluruh kawasan tersebut.

Namun pada akhirnya, segala usaha itu hanya sia-sia belaka. Meski telah dilakukan pencarian dengan mengerahkan segenap sumber daya, kadal komodo itu tidak juga ditemukan. Mayor Bisri mendengus kesal seraya menghindari tatapan mata Jenderal Sunarto. Ia bertanya-tanya selalu, apakah hewan itu sudah mati karena racun yang ditebar itu? Ataukah ia pindah ke tempat lain yang lebih aman? Lalu, bagaimana jika binatang monster bernama “kadal komodo” itu hanya hidup dalam ilusi dan khayalan orang-orang iseng saja? Sebagaimana rumor dan isu tentang PKI yang disusupkan Orde Baru, dan belum pernah dibuktikan kebenarannya secara ilmiah?

Jangan-jangan keberadaan kadal komodo yang meresahkan dan mengganggu stabilitas ketertiban dan keamanan ini, hanya hidup dalam imajinasi dan pikiran orang Indonesia saja?

Presiden Republik Indonesia akhirnya turun tangan, blusukan ke daerah Solear sambil menyaksikan penangkaran monyet-monyet. Menteri dalam negeri dan menteri sosial marah-marah disebabkan informasi yang menyesatkan, serta penghamburan anggaran yang tidak karuan. Mereka menugaskan Jenderal Sunarto dan Mayor Bisri, serta memindahkan mereka ke Irian Jaya, agar mengurus pengamanan masalah konflik dalam kasus pertambangan Freeport.

Dalam menjalankan tugasnya, mereka ngotot ingin membalas dendam lantaran pembunuhan karakter, serta kehormatan dan harga dirinya yang telah diinjak-injak oleh kadal buntung. (*)

 

Tinggalkan Balasan