25 Desa di Bangkalan Masuk Kategori Miskin Ekstrem

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FAIN NADOFATUL M.) KOORDINASI: Pemkab Bangkalan mulai melakukan pendataan baru untuk 25 desa dengan kategori miskin ekstrem. 

KABARMADURA.ID | BANGKALAN- Pengentasan kemiskinan mulai dilakukan menggunakan aplikasi Sidaya Sehati. Tujuannya, untuk mencakup masyarakat/warga miskin (gakin) dan mampu menyimpan data yang juga terdata di Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI). Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bangkalan Wibagio Suharta, Selasa (16/11/2021). 

Dia mengaku, sudah koordinasi dengan setiap kepala desa (kades) dan pendamping desa. Alhasil, pendataan baru dan kroscek ulang gakin akan diberlakukan untuk 25 desa di lima kecamatan yang masuk kategori miskin ekstrem . Data  tersebut, nantinya akan digunakan untuk Data Terpadu Kesejahteraan Masyarakat (DTKS) ke Kemensos. 

Bacaan Lainnya

“Insyaallah pendataan ini akan dimulai akhir November ini. Apakah benar-benar miskin secara riil atau seperti apa. Disamping itu, kami juga ingin memiliki data sendiri, karena setiap tahun pasti ada perubahan data gakin,” ujarnya. 

Menurutnya, terdapat tiga kriteria dalam penerapan pendataan gakin. Masing-masing, warga yang dinyatakan miskin harus melampirkan  foto minimal 7 foto kondisi rumah dan lingkungan, memasukkan titik koordinat lokasi rumah, wajib menjawab 16 pertanyaan yang sudah tersedia di aplikasi Sidaya Sehati dan sesuai dengan regulasi Kemensos Nomor 146 tahun 2013 tentang Kriteria Masyarakat Miskin dan Orang Tidak Mampu. 

Dimana setiap pertanyaan memiliki skor 100 untuk jawaban penghasilan atau kondisi terendah dan paling besar skor 300 dengan penghasilan tinggi. Sedangkan untuk realisasi pendataan di lapangan, setiap pendamping masing-masing desa harus terjun meninjau langsung kondisi masyarakat. “Foto ini sifatnya online. Jadi harus diperbaharui setiap saat, agar pengambilan tidak bisa dari foto lama,”  ucapnya.  

Lebih lanjut Wibagio menjelaskan, pendataan baru itu harus berakhir Januari 2022 mendatang. Sebab data dari Kemensos RI belum ada kevalidan data kemiskinan. “Tahun 2024 Bangkalan harus tidak ada kategori dengan kemiskinan ekstrem. Nanti ada program yang mengarah ke infrastruktur, program usaha ekonomi produktif dan bantuan lainnya,” jelasnya. 

Terpisah, Wakil Bupati Bangkalan Mohni yang memimpin rapat pendataan baru itu menyampaikan, untuk teknisnya harus dijelaskan secara detail terhadap para pendamping desa yang akan melakukan kroscek ke lapangan. Sehingga pengentasan kemiskinan ekstrem mampu mengkaver semua sektor. 

“Mulai nanti juga akan ada program bedah rumah yang akan ditangani oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” responnya. 

Bahkan dengan adanya aplikasi Sidaya Sehati,  nantinya bisa melakukan pemotretan di 25 desa tersebut. Diharapkan, pendamping desa dan juga tim Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) bisa melakukan pendataan baru tersebut. Sehingga kedepan bisa diketahui mengenai angka kemiskinan secara riil. “Karena tahun 2024 Bangkalan harus tuntas dari kemiskinan ekstrem,” tegasnya. 

Tiga Kriteria Pendataan Gakin melalui Aplikasi Sidaya Sehati

  • Harus melampirkan  7 foto kondisi rumah dan lingkungan
    • Foto harus baru 
    • Bersifat online
  • Memasukkan titik koordinat lokasi rumah
    • Menggunakan GPS
  • Wajib menjawab 16 pertanyaan 
    • Sesuai regulasi Kemensos Nomor 146 tahun 2013 tentang Kriteria Masyarakat Miskin dan Orang Tidak Mampu
  • Realisasi di lapangan setiap pendamping  desa harus terjun langsung

Reporter: Fain Nadofatul M. 

Redaktur: Totok Iswanto 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *