Petani di Bangkalan Harus Beli Pupuk Non Subsidi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI Yahya) RUNYAM: Penyerapan pupuk subsidi dan non subsidi timpang tidak sama, meski jatah pupuk setiap petani di Bangkalan sudah ditentukan.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Persoalan pupuk bersubsidi kian lengkap. Selain alur realisasinya longgar hingga mengakibatkan kelangkaan, beberapa kios di daerah yang identik dengan slogan Kota Salak mewajibkan petani membeli pupuk non subsidi. Ketentuan itu berlaku, jika petani melakukan penebusan pupuk bersubsidi.

Salah satu alasan kios, agar penyerapan pupuk subsidi dan non subsidi merata. Hanya saja, kondisi di lapangan mayoritas petani enggan menggunakan pupuk lain kecuali jenis UREA. “Pada umumnya warga petani menggunakan UREA, tapi ketika diwajibkan mau gimana lagi,” keluh salah satu petani Hosman (40) warga Desa/Kecamatan Tragah Bangkalan, Kamis (18/11/2021).

Temuan petani di lapangan semakin diperkuat dengan pernyataan pemilik kios di Kecamatan Socah Abdul Azis. Dia mengaku, beberapa kios memang memberlakukan ketentuan pembelian pupuk non subsidi. Sebab pabrikan tidak hanya mengirim pupuk subsidi jenis UREA, melainkan beberapa pupuk non subsidi. Seperti NPK, SP-36, ZA dan Organik.

“Salah satu alasannya kios bisa merugi. Karena petani hanya melakukan penebusan pupuk UREA. Memang ada yang mewajibkan, kalau saya sendiri masih bingung dan khawatir nanti bermasalah,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Bangkalan Puguh Santoso menuturkan, penebusan pupuk di kios sudah diatur dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) tani. Sehingga setiap petani mendapatkan semua pupuk dengan porsi yang berbeda.

“Petani memang menerima semua jenis pupuk. Untuk jumlahnya sudah disesuaikan dengan RDKK,” responnya.

Menurutnya, pupuk UREA menjadi rebutan lantaran lebih umum. Yakni, mayoritas petani di Madura sejak awal bercocok tanam sudah mengenal pupuk jenis UREA. Akibatnya, pupuk dengan jenis lain tidak diminati. Padahal kuota pupuk di masing-masing kios sudah ditentukan oleh pabrikan.

Sehingga jika mayoritas petani hanya menebus UREA, maka akan terjadi penumpukan pupuk. Kondisi tersebut jelas merugikan terhadap kios. Dengan demikian, instansinya tidak terlalu masuk mengenai strategi penjualan yang diterapkan kios. “Silahkan dan bagaimanapun caranya, yang jelas harga dan kuota pembelian pupuk setiap petani tidak lebih dan tidak kurang,” responnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *