Pengadaan Seragam SDN 2 dan 4 Bancaran Bangkalan Terindikasi Janggal

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) TERPAKSA: Beberapa wali siswa Sekolah Dasar Negeri 2 dan 4 Bancaran Bangkalan mengeluhkan terkait harga pengadaan seragam batik khas. 

KABARMADURA.ID | BANGKALAN – Penarikan dana untuk pembuatan seragam batik khas Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 dan 4 Bancaran terindikasi janggal. Sebab dianggap tidak melalui persetujuan wali murid. Setiap siswa harus mengeluarkan biaya sebesar Rp140 ribu. Padahal tahun 2019 lalu, sekolah tersebut juga melakukan pengadaan seragam jenis batik.

Hanya saja, realisasinya kurang merata. Sebab masih banyak siswa yang belum menerima seragam batik tersebut. Atas dasar itulah, tidak sedikit wali siswa merasa keberatan. “Karena nominal untuk pengadaan seragam batik ini cukup mahal,” keluh salah satu wali siswa SDN Bancaran RT (inisial), Kamis (18/11/2021).

Menurutnya, pengadaan seragam dengan nominal ratusan ribu merupakan tindakan yang kurang bijak. Apalagi, di masa pandemi Covid-19. Sedangkan pengadaan batik di tahun sebelumnya jarang digunakan. “Selama setahun pembelajaran dilakukan secara daring, makanya siswa jarang memakai seragam batik, kenapa harus pengadaan lagi,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah (Kasek) SDN Bancaran 2 dan 4 Imam Muhlisch membenarkan adanya pengadaan seragam batik khas di lembaga pendidikannya. Bahkan semua siswa diharapkan bisa membeli dan membayar uang untuk pembelian seragam tersebut. “Iya kami memang melakukan pembelian batik, karena sudah waktunya ganti,” responnya.

Kata Imam, pengadaan batik identitas di SD memang dilakukan setiap dua tahun sekali. Tujuannya, untuk mengantisipasi seragam siswa yang sudah rusak atau tidak muat. Sehingga memang harus diberikan jangka waktu. “Kami kira ini waktu yang pas, agar seragam siswa tetap bagus,” tuturnya.

Ditegaskan, pihak sekolah sudah melakukan koordinasi dengan wali siswa. Bahkan sudah memberi kesempatan untuk memberikan saran dan masukan jika tidak sesuai dengan keinginan wali siswa. Sebab pihak sekolah hanya ingin melayani siswa baru yang belum menerima seragam.

“Tetapi karena ada yang mendesak agar ganti lagi, maka akhirnya diganti.  Saya pun juga karena desakan wali siswa, mereka ingin batik yang sebelumnya dari dua sekolah yang berbeda menjadi sama,” tegasnya.

Disinggung mengenai harga seragam batik, Imam mengaku sudah melakukan konsultasi dengan komite sekolah. Sehingga bisa menentukan harga normal sesuai dengan kualitas seragam. “Karena kalau kualitas jelek, memang tidak akan sampai segitu. Kalau yang bagus ya memang lebih mahal harganya,” jelasnya.

Indikasi Kejanggalan Pengadaan Seragam

  • Tanpa persetujuan wali siswa
  • Harga terlalu mahal
  • Pengadaan seragam pernah dilakukan tahun 2019
  • Realisasinya kurang merata
  • Masa pandemi siswa tidak pernah menggunakan seragam

Dasar Kasek SDN 2 dan 4 Bancaran tentang Pengadaan Seragam

  • Sebagai antisipasi seragam siswa yang rusak atau tidak muat
  • Sudah berkoordinasi dengan wali siswa
  • Harga sudah dikoordinasikan dengan Komite Sekolah
  • Mengacu pada kualitas seragam

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *