Lima Kecamatan Sasaran Angin Puting Beliung

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FAIN NADOFATUL M.) WARNING: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan menyarankan agar masyarakat tetap waspada di musim penghujan tahun ini.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN – Memasuki pancaroba hingga perubahan cuaca ekstrem dengan sebutan  La Nina sejak bulan Oktober lalu cukup menggemparkan daerah Bangkalan. Sebab selam dua bulan sudah ada lima kejadian bencana alam. Seperti angin kencang hingga puting beliung. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan Rizal Moris, Senin (22/11/2021).

Menurutnya dampak dari hujan deras mengakibatkan munculnya hidrometeorologi yang menyebabkan angin kencang berkapasitas besar. Bahkan bencana yang kerap kali terjadi di daerah dengan slogan Kota Salak berupa angin puting beliung. “Terakhir itu, di Kecamatan Modung, Kokop dan Kwanyar. Jadi masyarakat harus siap siaga meningkatkan kewaspadaan.  Karena bencana ini, tidak pernah memberi kabar,” ujarnya.

Pihaknya menuturkan, lima daerah yang terkena bencana angin puting beliung meliputi, daerah Kota, Kecamatan Kokop, Kwanyar dan Tanjung Bumi. Dari lima daerah itu, wilayah Kelurahan Demang yang paling parah diterpa angin puting beliung. Bahkan di bulan Oktober hingga akhir November ini, bencana tersebut menyasar dan merusak atap rumah warga serta bangunan semi permanen.

Lebih lanjut ditegaskan, peralihan cuaca dari El Nino ke La Nina  cukup ekstrem. Sebab meningkatnya suhu permukaan laut yang memicu peningkatan curah hujan. Sehingga meningkat 20 hingga 70 persen dari curah hujan pada umumnya.  Sedangkan tahun ini, keadaan cuaca tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

“Peringatan-peringatan ini memang harus disikapi baik dari kami maupun masyarakat. Jadi harus ada kerja sama juga dengan stakeholder di setiap kecamatan untuk siap siaga,” tegasnya.

Jika berkaca dan konstruksi tanah di Bangkalan, mirip dengan konstruksi tanah di Kota Batu. Terutama di Kecamatan Kokop. Sebab hutan pohon jati di daerah tersebut sudah habis, lantaran dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Sehingga dikhawatirkan, daerah Kokop berpotensi bencana longsor paling parah.

“Banyaknya penambang batu kapur bermunculan, kami juga tidak tahu disana sudah berizin atau tidak. Yang saya amati beberapa kali, rata-rata banjir bandang dan longsor tidak punya akar pohon yang bisa menopang tanah. Jika di Kokop diguyur hujan satu jam saja, ini bisa longsor, kalau tidak banjir bandang,” jelasnya.

Reporter: Fain Nadofatul M.

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *