Dispertahortbun Bangkalan: Penggunaan Pupuk UREA Beresiko

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) INFORMASI PENTING: Penggunaan pupuk UREA dan pupuk jenis lainnya yang menggunakan bahan kimia memiliki dampak yang kurang baik untuk tanaman dalam jangka waktu panjang.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN- Penggunaan pupuk UREA berbahan kimia memiliki dampak kurang baik untuk unsur tanah dan tanaman petani lokal. Sehingga direkomendasikan menggunakan pupuk organik. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) Bangkalan Puguh Santoso, Rabu (24/11/2021).

Menurutnya,  jatah kuota pupuk subsidi untuk petani juga tetap perlu diserap, meski jenis UREA diketahui cukup berbahaya untuk tanaman. Hanya saja, penggunaannya harus diatur agar tidak terjadi ketergantungan. Selain itu, maraknya distribusi pupuk dengan jenis berbeda cukup membuat warga kebingungan memilih.

Bacaan Lainnya

“Bahkan ada informasi mengenai beredarnya obat tanaman pengganti pupuk. Ini kan sebagai langkah antisipasi, saya informasikan saja bahwa bahan kimia ini nanti bisa berdampak pada unsur hara tanah,” ujarnya.

Sebab, setelah penggunaan pupuk dengan bahan campuran kimia unsur tanah akan lebih sulit terurai. Sehingga kadang tidak memenuhi kebutuhan tanaman dan berdampak pada pertumbuhan. “Bisa jadi tanah akan menyerap bahan kimia itu, lalu dampaknya setelah tanaman dipanen,” ucapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pupuk dengan bahan kimia berbeda dengan pupuk dengan bahan organik. Untuk bahan organik, bahan yang memang dikumpulkan dari kotoran hewan memang membuat tanaman memiliki peluang pertumbuhan lebih lambat, tetapi untuk struktur tanah bagus. “Kalau organik ini kan mengandung unsur alam, jadi nanti lebih mudah menyatu,” jelasnya.

Sehingga dihimbau, agar masyarakat tidak memiliki ketergantungan pada pupuk UREA atau pupuk sejenisnya yang mengandung bahan kimia. Terlebih lagi, jika bukan rekomendasi dari dinas atau Kementerian Pertanian. “Jika cukup dengan pupuk organik saya kira lebih membantu, setidaknya diselingi,” tegasnya.

Sementara itu petani asal Langkap Kecamatan Burneh H Muthar menyampaikan, selain adanya pupuk subsidi dan non subsidi masyarakat juga diberikan pilihan pada obat vitamin tambahan untuk tanaman. Sehingga banyak petani tertarik untuk mencoba. “Ada yang sempat menawarkan ke saya juga, bentuknya cair katanya efeknya seperti pupuk,” responnya.

Namun sebagian warga sudah terbiasa menggunakan pupuk UREA. Sehingga penyebaran penjualan obat tersebut belum meluas. Selain itu, karena harga obat pertanian yang ditawarkan lebih murah, petani yang kekurangan modal akhirnya mencoba menggunakannya secara bergantian dengan pupuk organik.

“Biasanya disemprotkan ke tanaman, lalu setelah beberapa hari diberikan pupuk kandang,”  tegasnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *