oleh

8 Bulan DPO Kasus Pemerkosaan di Sampang Tidak Terkejar

Kabarmadura.id/SAMPANG-Sejak ditangani Polres Sampang pada Januari 2020 lalu, kasus pemerkosaan terhadap perempuan di bawah umur, Jelita (bukan nama sebenarnya), hanya satu pelaku yang  mampu tertangkap. Sementara kerabat korban meyakini, masih terdapat empat pelaku lain yang masih berkeliaran bebas.

Hal itu membuat orangtua korban harus mendatangi Markas Polres (Mapolres) Sampang, Senin (7/9/2020). Tujuannya untuk kembali menanyakan proses penanganan kasus pemerkosaan yang menimpa gadis berusia 14 tahun itu.

Hingga saat ini, Polres Sampang masih meringkus satu pelaku berinisial P (20) warga Kecamatan Proppo, Pamekasan.

Sejatinya, Polres Sampang juga menduga terdapat lima pelaku dalam kasus itu, namun empat orang lainnya tidak kunjung berhasil ditangkap dan akhirnya menyandang status daftar pencarian orang (DPO) dalam 8 bulan terakhir ini.

Pantauan Kabar Madura, orangtua Jelita yang mendatangi ruang Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Mapolres Sampang adalah ibunya berinisial N (40). Selama beberapa bulan terakhir ini, perempuan asal Kecamatan Torjun, Sampang itu merasa sangat tersiksa dengan kejadian tersebut. Bahkan, Polres Sampang dinilai sangat lamban untuk mendalami kasus tersebut.

Beruntung dia tidak sendirian, kepedulian datang dari beberapa perempuan dari organisasi Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Sampang. Mereka ikut mendampingi ibu korban tersebut.

Menurut Ketua KOPRI PC PMII Sampang Raudhatul Jannah, tujuannya kedatangannya untuk meminta ketegasan Polres Sampang. Sebab, kasus itu tak kunjung ada perkembangan sejak peristiwanya terjadi pada 8 Januari 2020 itu. Sedangkan pelaporannya juga hanya berselang dua hari, yakni pada 11 Januari 2020.

“Saya meminta ketegasan Polres Sampang untuk menangkap lima pelaku ini, sebab sampai sekarang hanya satu orang yang tertangkap,” ungkapnya, Senin (7/9/2020).

Mewakili dari keluarga korban, pihaknya berharap agar pihak Polres Sampang lebih tegas dan profesional. Karena, jika ini dibiarkan, kasus kekerasan serupa rentan menimpa orang lain.

Bahkan, jika mampu diselesaikan, terlebih adanya kapolres baru, membuktikan bahwa Polres Sampang tidak tumpang tindih. Namun jika sebaliknya, justru menunjukkan kelemahan Polres Sampang.

“Saya berharap, polres bisa meringkus sisa pelaku yang saat ini belum berhasil diamankan, dan Polres Sampang jangan tebang pilih menangani kasus ini. Sebab, jika kasus ini tidak dituntaskan, maka kasus ini akan kerap terjadi,” imbuhnya.

Sementara ibu korban, N (inisial) berharap, kasus yang terjadi pada anaknya segera dituntaskan, agar pelaku tersebut juga menerima hukuman yang setimpal.

“Saya orang tidak mampu, dan saya hanya bisa berharap ke petugas kepolisian di Sampang,” tuturnya sambil menangis.

Di lokasi yang sama, Kanit PPA Polres Sampang, Iptu Sujianto menyampaikan bahwa saat ini sisa pelaku berstatus DPO, identitasnya sudah dikantongi. Bahkan, sebelumnya sudah hampir tertangkap dan tempat tinggalnya di Desa Palengaan, Pamekasan sempat digeledah. Namun pelaku tidak ditemukan. Informasinya, pelaku kabur ke luar Madura.

“Informasinya pelaku ada di luar kota tapi informasi itu masih belum valid, bahkan informasi terakhir pelaku ada yang bekerja di Bekasi,” katanya.

Namun, pihaknya berjanji akan terus berupaya untuk meringkus 4 pelaku yang masih tersisa tersebut. Sebab, menuntaskan kasus ini memang merupakan tanggung jawab PPA Sampang

Untuk diketahui, kasus yang dialami oleh korban berawal dari perkenalan di media sosial (medsos) Facebook. Kemudian dilanjut dengan pertemuan oleh salah satu pelaku dan pada akhirnya korban diajak ke Pamekasan, namun justru diperkosa secara bergilir.

“Kami tetap akan menindaklanjuti, karena kasus ini merupakan persetubuhan anak, dan kami akan melakukan penangkapan paksa, karena ini memang tugasnya PPA,” pungkasnya. (mal/waw)

Komentar

News Feed