Penggunaan Jaring Trawl di Bangkalan Picu Konflik

(FOTO: KM/FATHURROHMAN) MEMPRIHATINKAN: Tidak sedikit nelayan di pesisir pantai daerah Bangkalan berhenti melaut akibat penggunaan jaring trawl oleh nelayan asing.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN -Penggunaan jaring trawl sebagai alat menangkap ikan, jelas melanggar Undang-Undang (UU) No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan pada pasal 85 jo pasal 9 dengan ancaman pidana paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 2 milyar. Sebab jaring trawl bisa merusak ekosistem laut, seperti terumbu karang dan mangrove. Namun realitasnya, jaring trawl masih sering dijumpai.

Terutama di perairan Bangkalan. Bahkan sering terjadi konflik antara nelayan lokal dengan nelayan asing yang menggunakan jaring trawl di perairan Nyamugen daerah pesisir barat. Kondisi tersebut sudah lama dikeluhkan warga. Terutama nelayan di Kampung Lebak Kelurahan Pangeran Bangkalan Agus (41), Minggu (16/1/2022).

Menurutnya, konflik terjadi akibat nelayan asing merusak jaring penangkap ikan milik nelayan lokal. Atas kondisi itu, nelayan lokal merasa dirugikan. Sebab trawl tidak hanya merusak ekosistem laut. Akan tetapi, juga mampu merusak alat tangkap ikan milik nelayan lokal. Bahkan akibat persoalan tersebut, tidak sedikit nelayan lokal berhenti melaut.

“Banyak jaring kami yang hilang akibat trawl, kalau tidak merusak jaring kami, mungkin tidak menimbulkan konflik. Mirisnya, banyak nelayan lokal berhenti mencari nafkah di laut akibat penggunaan trawl ini,” keluhnya.

Pihaknya menuturkan, dalam minggu-minggu ini beberapa kali terjadi konflik yang cukup luar biasa. Yakni, nelayan asing mengeluarkan parang ketika terjadi cekcok dengan nelayan lokal di tengah laut. Sedangkan nelayan lokal tidak bisa berbuat banyak, lantaran kapal yang digunakan cukup kecil dan secara kekuatan cukup tidak sebanding.

“Banyak dari kami yang menjual harta benda untuk membeli jaring baru agar bisa kembali bekerja,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Satuan Polisi Air dan Udara (Sat Polairud) Bangkalan Arif Djunaedi mengaku, sering melaksanakan patroli di perairan Bangkalan. Bahkan ketika mendengar informasi atau adanya laporan tentang nelayan lokal dan asing, para petugas langsung turun ke lapangan untuk meredanya.

“Kami sering melakukan patroli untuk mengantisipasi adanya konflik ini. Bahkan kami sudah mendengar informasi itu, ada kiriman video ke kami. Intinya, kami akan terus berupaya agar konflik tidak terjadi dan situasi tetap kondusif,” janjinya.

Reporter : KM/63

Redaktur: Totok Iswanto

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.