oleh

90 Persen Laba PDAM Sampang Habis untuk Biaya Operasional

Kabarmadura.id/Sampang-Sepanjang tahun 2019, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Trunojoyo Sampang bisa mengumpulkan pendapatan yang relatif cukup fantastis. Dari hasil pelayanan air kepada masyarakat, hasilnya mencapai Rp14 miliar.

Sayangnya, pendapatan yang jumbo tersebut, hampir 90 persen habis hanya untuk biaya operasional, seperti membayar gaji pegawai, perbaikan dan dan sebagainya. Sehingga laba bersih selama satu tahun yang dihasilkan badan usaha milik daerah (BUMD) Sampang itu hanya di kisaran Rp759 juta, karena lebih dari Rp13 miliar untuk operasional perusahaan.

Direktur PDAM Trunojoyo Acmad Fauzan membeberkan, pendapatan yang hasilkan oleh perusahaan yang dipimpinannya itu, relatif sudah ada peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2018 pendapatan masih Rp13,7 miliar, tahun 2019 sudah mencapai Rp14 miliar lebih.

Namun, dana tersebut digunakan untuk pembiayaan operasional perusahaan dan sisanya baru dimasukkan sebagai laba bersih.

Sementara, untuk penerimaan perusahaan, pada tahun 2018 mencapai Rp14 miliar dan tahun 2019 sudah mencapai Rp15 miliar. Itu sudah termasuk hasil penagihan tunggakan-tunggakan pelanggan sejak bebera tahun terakhir. Penerimaan itu, selain digunakan untuk operasional, juga digunakan untuk investasi, seperti pipanisasi dan sebagainya.

“Total pendapatan PDAM tahun 2019 kemarin mencapai Rp14 miliar, dana itu dikurangi biaya operasional mencapai Rp13 miliar, sehingga laba bersih tinggal sekitar Rp759 juta,” kata Achmad Fauzan saat ditemui Kabar Madura di ruang kerjanya, Kamis (6/2/2020).

Dari laba bersih itu, tahun 2019 lalu, masih disetorkan ke pendapatan asli daerah (PAD) sekitar 50 persen atau sebesar Rp298 juta dan sudah diaudit.

“Kami ini (pegawai PDAM red) bukan PNS, gaji kami ini diambilkan dari pendapatan perusahaan ini, tidak ditanggung oleh negara, jadi tidak ada pendapatan yang dihilangkan,” ungkapnya.

Sedangkan volume produksi riil air yang dimiliki PDAM dari semua sumber, totalnya 4.939.940 meter kubik. Namun potensi air tersebut tidak terjual semua, karena ada kehilangan atau kebocoran pipa transmisi sekitar 987.988 meter kubik, maka valume air yang didistribusikan 3.951.592 meter kubik.

Sedangkan air tanpa rekening/kebocoran (NRW distribusi) 1.008.473. Sehingga air yang terjual selama 2019 yakni hanya 2.943.479 meter kubik.

“Potensi air yang ada ini tidak bisa dijual semua, karena masih ada kebociran dan NRW, yang mustahil ditiadakan, di sisi lain, debit air di sumber setiap tahunnya terus menyusut, maka perlu penambahan sumber baru,” ujarnya.

Fauzan selaku pengelolaan perusahaan air daerah itu, berjanji akan terus mengupayakan yang terbaik, karena kondisi perusahaan dapat menentukan pendapatan para pagawainya. Jadi harus bekerja secara professional dan bersungguh-sungguh. Jika masih ada keluhan terkait pelayanan, tentunya akan terus diatasi secara bertahap.

“Prinsipnya, tidak ada pembiaran, kami terus kita tingkat pelayanan, tapi kami juga ada kendala, utamanya  terkait volume dan tekanan air, kami harap masyrakat juga bisa memahami, karena para pelanggan ini, tidak hanya sebagai komsumen, tetapi sebagai mitra kita,” terangnya. (sub/waw)

Komentar

News Feed