Abaikan Persewaan, PT KAI Surabaya Gusur Warung Makan di Bangkalan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) DIGUSUR: Warung milik salah satu warga di Desa Gilianyar dibongkar paksa oleh petugas di Kecamatan Kamal Bangkalan, Kamis (3/6/2021).

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Salah satu warung makan milik warga Desa Gilianyar, Kecamatan Kamal, Bangkalan, digusur petugas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya. Penggusuran dikabarkan lantaran pemilik warung tidak memiliki izin atas lahan tanah yang merupakan milik perusahan badan usaha milik negara (BUMN) tersebut, Kamis (3/6/2021).

Manajer Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Luqman Arif mengatakan, penertiban warung makan yang terletak di KM 3+600 hingga 3+800 lintas Kamal-Tanah Merah dilakukan bersama personel gabungan. Masing-masing, internal KAI Daop 8, polsek, koramil, dan perangkat Desa  Gilianyar.

Bacaan Lainnya

“Bangunan yang memiliki luas aset kurang lebih 10m2 ini ditertibkan oleh tim gabungan yang berjumlah 10 personel. Penertiban dilakukan atas dasar kontrak pemanfaatan lahan sudah backlog dari tahun 2017 dan tidak ada itikad baik dari penghuni bangunan untuk memperpanjang atau menyelesaikan persewaan. Karena pemilik tak ada niat baik, maka kami lakukan penertiban,” ujarnya.

PT KAI sebelumnya, sudah memberikan surat peringatan sebanyak tiga kali kepada penghuni yang menempati bangunan tersebut. Namun, penyewa melanggar aturan dan kewajiban perusahaan. Sehingga, perusahaan mengambil langkah tegas berupa penertiban bangunan.

“Kami sudah berikan surat peringatan (SP)-1, SP-2 dan SP-3 kepada pemilik bangunan terkait kegiatan penertiban ini,” paparnya.

Salah satu petugas PT KAI Donny Hermawan membeberkan, warung yang sudah tidak diketahui kepemilikannya tersebut memang berdiri ilegal diatas lahan milik negara. Sehingga berakibat pada penggusuran. “Ini tidak ada izin yang masuk ke kami, jadi kami gusur,” ucapnya.

Sedangkan salah satu warga di sekitar warung tersebut, Ahmad Sofi menyampaikan, warung tersebut memang milik salah satu warga Desa Gilianyar, hanya saja sejak bangunan berdiri, langsung dikontrakkan. “Kalau yang punya asli orang sini, tapi warung itu langsung dikontrakkan,” jelasnya.

Kata Sofi, warung tersebut berdiri sejak tahun 2019 dan dijadikan warung kopi. Kemudian di tahun 2020 berubah menjadi warung makan mie dengan pengelola yang berbeda.

“Saya juga tidak tahu persis kenapa digusur, karena saya kira pemiliknya sudah mendapatkan izin dari PT KAI,” tuturnya.

Sebab, di sepanjang jalan lahan PT KAI tidak hanya warung tersebut yang berdiri, tapi hampir semuanya bangunan berdiri kokoh di lokasi tersebut, baik toko maupun rumah warga.

“Kalau memang tidak boleh, harusnya semua digusur, bukan satu ini saja,” tukasnya. (hel/ito/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *