oleh

Abdur Rahman, Alumnus Pesantren Nurul Cholil yang Berhasil Ciptakan Aplikasi Tabungan Elektronik

KABARMADURA.ID – Santri Tak Hanya mengaji, tetapi berani mandiri, dan selalu berbagi, patuh dan percaya barokah kiai memberikan kemudahan menemukan jalan hidup dan jati diri.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Jebolan pesantren tidak hanya mampu bergelut di bidang keagamaan saja, namun banyak bidang yang digarap. Hal tersebut diyakini oleh Abdur Rahman, salah satu alumni Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan. Alumni pondok salaf itu bisa dikatakan sukses menjadi direktur di berbagai perusahaan.

Lelaki yang kerap disapa Rahman itu menyambut wartawan dengan ciri khasnya sebagai seorang santri. Peci hitam yang dikenakan menjadi penghias kepalanya, sementara batik dan sarung yang dipakai seolah menguatkan identitasnya sebagai alumni pesantren.

Ia mengabdikan dirinya sebagai santri Pesantren Nurul Cholil sejak mengenayam Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Sejak saat itu Rahman mengaku menyukai dunia teknologi. Bahkan, minatnya mendorong untuk kuliah di Jurusan Teknik Informasi Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo Madura.

Sosok asal Desa Kampak, Kecamatan Geger menambahkan, Selama 10 tahun tinggal di pondok, membuat jati diri dan keyakinan terhadap barokah kiai semakin kuat. Sehingga ketika  keluar dari pondok pesantren selalu diberikan kemudahan. ”Saya itu dulu pertama kali menjadi agen tiket, dengan modal tiga juta, sembari melaksanakan perintah pondok berjualan pulsa,” ungkapnya.

Penjualan tiket yang disediakannya selalu laku terjual. Dari keuntungannya, Rahman membelanjakannya kembali, sehingga omsetnya mencapai puluhan juta. ”Tiket yang saya jual selalu habis, padahal saya belum punya kenalan,” ceritanya.

Dari bisnis tiket itu, Ia bisa pergi ke Malaysia, Arab Saudi, Thailand, Myanmar, dan juga Singapura, baik untuk belajar atau liburan bersama keluarga. Hingga akhirnya ia membentuk PT Lintas Asia Wisata karena omsetnya sudah tinggi. ”Saya saat itu masih mengelolanya sendiri, dan kerap membawa teman dan keluarga liburan ke luar negeri,” sebutnya.

Saat itu masih tahun 2007, kedua bisnis itu berjalan hingga sekarang. Selain itu, pada tahun 2012, Rahman mencoba peruntungan dengan membentuk klub Qasidah. Kemudian berjuang menjualkan CD dan VCD-nya ke beberapa daerah. ”Saat itu, semua penjual menolak VCD saya, akhirnya di Tulungaguing dan Bondowoso, saya berikan CD dan VCD-nya gratis,” ulasnya.

Rahman terus mengembangkan bakatnya di bidang  teknologi informasi (IT). Sehingga kemudian diminta oleh Dewan Asatid pondok merancang aplikasi untuk transaksi santri. Baik untuk pembayaran SPP, kiriman orang tua, dan juga tabungan santri. ”Saya sebelumnya sudah merencanakannya, tetapi belum direstui lantaran para santri belum mampu menyesuaikannya,” kata lelaki dengan dua anak itu.

Sejak tahun 2018, Rahman memulai membuat aplikasi tabungan elektronik secara otodidak. Kemudian riset selama tiga bulan, dan akhirnya perlahan diterapkan. Aplikasi tersebut awalnya terhubung dengan nomor induk santri. Sehingga untuk menjadi sebuah rekening, hanya menambahkan angka seribu di depan nomor induk tersebut. ”Saat itu setiap santri diminta mendaftarkan diri, sehingga setelah terdaftar, mereka akan melakukan segala transaksi secara online,” paparnya.

Santri yang terdaftar, memiliki sandi login yang berbeda, tetapi teknis seperti itu hanya bertahan selama satu bulan. Sebab, tingkat keamanan rendah. ”Setiap santri kadang saling memberi tahu sandinya, sehingga dirasa kurang aman,” ungkapnya.

“Saya rancang menggunakan finger print. Meskipun selalu ada evaluasi tetapi saat ini aplikasi tersebut mulai merata digunakan di pondok. ”Sekarang, santri mau ambil uang, mau beli apapun tinggal melakukan finger print,” ujarnya.

Semua transaksi terekam dalam aplikasi, dan terhubung dengan nomor Whatsapp pengurus. Sehingga transaksi apapun yang dilakukan oleh santri bisa dikirimkan ke wali santri. ”Dengan aplikasi ini, orang tua jadi tahu, apa saja yang dibelanjakan anaknya, dan uang yang diambil digunakan untuk apa,” sampainya dengan senyum.

Sejauh ini, limit akses keuangan itu masih dibatasi Rp20 ribu setiap sanri , tetapi ke depannya, akan ditingkatkan menjadi Rp50 ribu. Orang tua juga bisa melakukan transaksi kiriman uang langsung pada rekening santri dengan jumlah nominal berapapun melalui aplikasi tersebut. ”Uang yang dikirimkan orang tua jadi lebih aman dan lebih terkontrol,” ulas Rahman dengan yakin.

Sekitar dua minggu lalu, pondoknya dikunjungi Kabid PD Pontren Kemenag Wilayah Jawa Timur. Mereka mengapresiasi penerapan aplikasi yang dibuatnya. Bahkan akan diusulkan ke Kemenag Pusat. ”Saya saat itu tidak hadir langsung, tetapi kabar itu cukup membuat saya bahagia,” ceritanya.

Pengasuh dan semua pengelola pondok juga mendukung dan siap menerapkan aplikasi tersebut di lingkungan pesantren. Selain itu, Rahman berharap aplikasi tersebut nanti juga akan digunakan di semua pondok pesantren di Bangkalan. ”Nama untuk aplikasi ini memang belum saya tentukan, dan izinnya juga akan segera saya urus,” ungkap Rahman dengan optimis.

Kata Rahman, menjadi seorang santri tidak perlu malu dan takut  tertinggal perkembangan zaman. Justru santri harus berani mengikuti perkembangan teknologi. Semua santri harus yakin bahwa barokah kiai dan pondok akan selalu memberikan kemudahan dalam menjalankan banyak hal. ”Saya ingin dan saya yakin, kaum santri juga bisa bersaing, bahkan harus lebih berkembang nantinya,” tutupnya. (maf)

 

Komentar

News Feed