oleh

Ada Kemarahan di Balik Bantal

Much. Taufiqillah Al Mufti

Dewi tertegun ketika melihat anak lelakinya akan membacakan puisi di malam Agustusan. Puisi yang anaknya bacakan itu amat ia kenali. Puisi yang mengingatkannya pada seorang lelaki kurus. Seseorang yang dulu dekat sekali di hatinya, yang mencintai sepenuhnya….

Bagas, anak lelakinya, bersiap membaca dengan air muka yang jernih. Sambil mengernyitkan dahi dan menatap secarik kertas yang kusut, ia mengawali puisinya, di atas meja kecil ini. Pelan, ia mendongakkan kepala dan menyapu pandangan dengan kerlingan mata. Lalu ia merunduk kembali dan menatap kertas yang sejak tadi menempel di tangannya, masih tercium harum darahmu / di halaman-halaman buku[1]. Kemudian suaranya menyentak halus ketika sampai pada kalimat, saya akan dipecah-pecah / menjadi ribuan kata dan suara.

Orang-orang kampung bertepuk tangan ketika Bagas selesai membaca. Mata Dewi berkaca-kaca. Bagas turun dari panggung, berjalan mendekati ibunya, lalu Dewi memeluk anaknya, hangat.

“Nak, apakah itu puisimu?” tanya Dewi sambil tersenyum dan memegang kedua pundak jagoannya.

Anak lelakinya senyum lebar, “Bukan puisi Bagas, Mama.”

Dewi pun mengangkat alisnya dan menyunggingkan senyum.

“Bagas lihat ada puisi bagus di buku Mama,” jawab anak yang masih duduk di bangku SMP itu.

Bagas bercerita, ia menemukan buku di bawah bantal ketika Dewi meminta mengambil ponsel di kamarnya. Tak kunjung menemu, Bagas menyibak selimut, dan akhirnya mengangkat bantal. Ia melihat buku yang sudah lusuh yang terbaring di atas kasur. Ia mengambil dan membuka sembarang halaman. Pandangannya terpagut pada sebuah judul puisi Di Atas Meja. Bertemu dan berkenalanlah ia dengan puisi itu.

Senanglah hatinya, karena sepekan penuh ia belum mendapat ide menulis puisi untuk malam Agustusan. Puisi yang tertulis di buku itu tidak tertera nama penulis dan tahun pembuatannya. Bagas pun membacakan langsung pada isinya, tak menyebut penulisnya, dan tak mau mendaku-daku ialah sang penulis.

“Maaf, Mama,” ucap Bagas.

Dewi tersenyum dan merentangkan tangan, “Sini, peluk lagi anak Mama.”

Dewi tak menyangka Bagas mengambil dan membuka buku yang ia biasa taruh di bawah bantal. Buku yang lama menuntut padanya untuk ia keluarkan. Lalu mengantarkannya ke meja pengadilan. Buku itu ingin menjadi saksi untuk tuannya atas kebiadaban manusia. Lama buku itu terpenjara dalam kamar, rupanya Bagas yang membebaskannya. Membacakan isinya tanpa keraguan di muka umum, walau di hadapan orang kampung, bukan di hadapan peserta sidang.

**

Kejadian itu masih hangat di ingatannya. Pagi buta, ponsel Dewi tak henti-hentinya berdering. Pada layar terlihat sebuah nomor asing yang menelepon. Dewi pun tak menghiraukan, namun nomor asing itu terus memanggilnya berkali-kali. Dengan berat dan menahan kantuk ia mengangkat telepon tersebut. Dari ponsel terdengar suara seorang perempuan, ia mengenalkan dirinya sebagai teman kerja Anton.

“Mbak, Anton apakah sudah pulang,” katanya.

“Belum,” jawab Dewi, “Anton di kantor, kan?”

“Tidak ada, Mbak.”

Perempuan itu meneruskan perkataannya. Ada seorang lelaki paruh baya, warga sekitar, mengabari telah terjadi keributan semalam. Tepat setelah Anton pulang. Jaraknya kurang lebih satu kilometer dari kantor. Lelaki paruh baya itu menceritakan segerombolan orang menghajar lelaki berbadan kurus. Ciri-cirinya seperti Anton. Dewi tercekat ketika mendengar kabar itu. Lantas ia mencubit-cubit pipinya, untuk memastikan apakah ia sedang bermimpi. Sakit. Ini nyata, batinnya.

“Sekarang, Anton di mana?”

“Tidak tahu, Mbak.”

“Ya, ya, ya,” ucap Dewi tak kalah gugup, “aku ke sana sekarang!”

Rasa kantuk Dewi pun hilang, sementara kepanikan berganti yang menyergap. Ia menyibak selimut, menyambar handuk, ke kamar mandi, dan bergegas menuju kantor Anton.

Bersama teman-teman Anton, ia menuju ke tempat kejadian. Lelaki paru baya yang mengabari segerombolan orang menghajar Anton yang menunjukkan dan mengantar ke sana. Walau tidak ada barang Anton yang terlihat berserakan, namun tanda-tanda telah terjadi kekerasan tetap terasa. Masih ada bekas ban mobil yang lumayan terlihat di jalan. Beberapa meter dari sana juga ada sebongkah kayu, terdapat bercak darah yang mengering.

Tak selang lama polisi datang ikut memeriksa. Ia menanyai orang-orang kampung yang menjadi saksi. Rata-rata mereka tak melihat langsung, sebab saat itu sudah larut malam. Mereka hanya mendengar jeritan dan gedebuk pukulan benda tumpul. Ada pula yang melihat, namun tak jelas karena gerombolan orang itu berpakaian serbahitam. Lalu polisi itu sibuk mencatat, dan menelepon atasannya. Kalau mendengar penuturan warga yang menjadi saksi, Dewi menjadi lemas. Seolah tak ada harapan.  Ia menepi, duduk selonjor di atas rerumputan. Dengan perasaan marah, ia merenggut rumput dan menariknya kuat-kuat.

“Tunggu,” batinnya.

Dewi merasa menyentuh sesuatu. Tangannya meraba-raba tanah, dan jemarinnya menyenggol benda keras. Lantas ia menyibak rumput, ternyata sebuah buku tergeletak. Ia mengambil buku itu dan membuka-buka sembarang halaman, serasa tak asing tulisan tangannya. Di halaman pertama ia membaca sebuah nama, Anton Wijaya! Itu buku harian milik Anton. Selintas terbersit keinginan untuk menunjukkan buku tersebut kepada polisi. Namun pikiran yang lain datang menyusul untuk menolak tindakan itu.

Sudah berulang kali Anton menceritakan tentang kongkalikong pejabat dan aparat padanya. Menyerahkan buku harian Anton kepada polisi adalah tindakan konyol. Di dalam buku tersebut terdapat kritik dan kemarahannya pada rezim. Dewi tidak mau mengulangi nasib seorang advokat yang mati di pesawat setelah meneguk racun arsenik. Otak pembunuhan itu tak pernah terungkap sampai sekarang. Ia terlanjur kecewa pada penegak hukum. Ia sudah kehilangan Anton, ia tak mau catatan hariannya ikut lenyap.

Toh, kalau ia serahkan, tentu juga akan membahayakan teman-teman Anton, kan?

Biar, biar ia simpan buku harian itu.

**

Di kamar yang remang, hanya lampu tidur dinding yang menyala. Sambil rebahan, Dewi memandangi buku harian Anton. Ia terkenang bagaimana teguh menampik ajakan teman-teman Anton untuk menyodorkan buku tersebut sebagai bukti. Dan sekarang, setelah kasus itu kadaluarsa, ia tak menyesal sama sekali. Baginya, walau menghadirkan buku catatan harian Anton di ruang sidang, tetap sukar membuktikan dan menjerat pelaku. Di negara ini, bukan kebenaran yang  menentukan keadilan, tapi kekuasaan.

Tepat di bawah bantal buku itu Dewi letakkan, setiap menjelang tidur ia merasa Anton memeluknya. Merasakan hangat dekapannya. Kadang, jika beruntung ia akan menjumpai Anton, meski dalam mimpi. Duduk di bangku taman, di bawah pepohonan yang rindang, angin sepoi, dan daun-daun yang berderak. Mereka bercakap-cakap, hanya berdua. Melepas rindu yang tak berujung. Walau kerinduannya itu fana.

Dok, dok, dok!

Terdengar ketukan pintu. Dewi beranjak dari tempat tidur, menyalakan lampu, dan membuka pintu. O, Bagas rupanya. Ia sedang mengucek-ngucek matanya.

“Kamu tidak bisa tidur, Nak?”

“Iya, Mama,” jawabnya, “Bagas boleh tidur sama Mama?”

Dewi senyum.

“Sini, jagoannya Mama,” kata Dewi sambil merangkul anaknya.

Ketika Bagas sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur, Dewi menyelimutinya. Lalu giliran ia merebahkan tubuhnya di samping anaknya, kemudian ia menciumi kening serta pipi anaknya.

“Nak, hebat kamu membaca puisinya tadi,” ucap Dewi.

“Tapi, kan, bukan puisinya Bagas.”

“Tak apa, Nak,” ucap Dewi, “ayo sekarang tidur.”

Bagas memejamkan mata. Dewi pun turut memejamkan matanya dan mendekap jagoannya, terasa desah napasnya hangat. Tak selang lama, mata Bagas mengerjap-ngerjap. Tubuhnya bergerak kasak-kusuk. Dewi melihat muka anaknya yang murung.

“Kenapa, Nak?” tanya Dewi sambil mengusap kepala anaknya.

“Mama, Bagas mau tanya.”

“Apa, Nak?”

“Buku yang di bawah bantal itu punya siapa, Ma?”

Dewi terdiam, senyum memandang anaknya.

“Punya, Papa.”

Semarang, 1 Oktober 2020

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed