oleh

Adukan Karyawannya, Pengaduan BRI belum Resmi Jadi Laporan Polisi

KABARMADURA.ID, Pamekasan – Setelah membawa kabur uang milik warga sebesar Rp8,2 miliar, tepatnya Rp8.277.000.000, oknum karyawan BRI Cabang Pamekasan Mohammad Lukman Anizar kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Resor (Polres) Pamekasan.

Kepala Satuan Reskrim (Kasatreskrim) Polres Pamekasan AKP Adhi Putranto Utomo mengatakan, penetapan Anizar (pamaggilan akrab pelaku) sebagai tersangka, dimulai sejak 10 Oktober lalu. Kasus yang membawa nama BRI itu saat ini telah naik ke tahap penyidikan.

Mengingat saat ini Aniz tidak diketahui keberadaannya, Adhi mengaku akan mencarinya di manapun dia berada. Bahkan Aniz telah ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Beberapa hari yang lalu sudah saya tanda tangani surat penyidikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Adhi mengungkapkan, pengaduan BRI hingga saat ini belum naik menjadi laporan polisi. BRI hanya menyampaikan pengaduan dan melampirkan narasi kronologi kasus, sehingga nama BRI dicatut dalam tindakan melanggar hukum Anizar.

Namun demikian, pihaknya mengaku akan memproses pengaduan tersebut dengan memanggil pengadu untuk dimintai keterangan dan menelaahnya, kemudian jika pengadu menginginkan untuk diproses menjadi laporan, maka akan ditindaklanjuti.

“Nanti bisa kami panggil dulu, yang pengadunya itu bagaimana. Kami telaah, kalau memang dia minta diproses hukum, ya lanjutkan ke pembuatan LP,” terangnya.

Sementara di lain pihak, Pimpinan Cabang BRI Pamekasan Darwis Muhammad menuturkan, pihaknya telah membentuk tim koordinasi untuk kemudian bersama-sama mengawal kasus ini dengan para korban.

Selain itu, meski BRI tidak mengalami kerugian secara materiil, namun pihaknya merasa dirugikan karena citra dana nama baik Bank BRI menjadi tercemar akibat ulah dari Anizar. Karenanya pihaknya akan menuntut Anizar.

“Karena program seperti yang ditawarkan pelaku kepada korbannya itu tidak ada di BRI,” tukasnya.

Sebelumnya, oknum karyawan Bank BRI Cabang Pamekasan itu diduga menipu 23 orang. Oknum tersebut menawarkan berupa iming-iming barang rumah dan kendaraan bermotor yang bisa dibeli dengan harga murah. Namun korbannya harus menyetor uang dalam jumlah tertentu, dengan dalih masuk dalam program investasi.

Fahmi Andriyansah Katili selaku juru bicara para korban telah melaporkan masalah itu ke Polres Pamekasan pada 29 September 2020. (ali/waw)

 

Komentar

News Feed