Ahmad Murtada, Kepala Keluarga Visioner Penuh Teladan

  • Whatsapp

Didik Anak Pakai Filosofi Segitiga Sama Kaki

Tidak banyak orang tua yang bisa memberikan teladan kepada anak-anaknya. Menginginkan orang lain sama dengan apa yang dikehendaki dirinya, kerap menghiasi kepala keluarga. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan Ahmad Murtada.

MOH TAMIMI, SUMENEP

Dilihat sekilas, Ahmad Murtada tampak tidak jauh berbeda dari kebanyakan kepala keluarga. Namun ketika ditelusuri kehidupan sehari-harinya, ia patut untuk dicontoh, diteladani oleh orang banyak. Ia sosok seorang ayah yang mengayomi terhadap keluarganya.

Kepala Sub Bagian tata Usaha cabang Dinas Kehutanan Wilayah Sumenep, Jawa Timur, tersebut dikaruniai tiga orang putri dari hasil pernikahannya dengan perempuan Malang, Sri Bawon. Buah hatinya bernama Shafiyyah Maimunah, Diyanah Nahdah Aminah, dan Rafeylah Khansa Khamilah.
Ketiga putrinya itu memiliki karakter dan kemampuan tersendiri. Menurut Mamat, sapaan akrab Ahmad Murtada, putri pertama dan keduanya lebih aktif otak kirinya, sedangkan putri bungsunya lebih aktif otak kanannya.

Terbukti, Shafiyyah berhasil lulus dari Universitas Brawijaya, Malang, Fakultas Kedokteran, Jurusan Ilmu Gizi. Sedangkan Diyanah saat ini masih menempuh pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) I Sumenep, kelas XII. Kerennya, Diyanah meraih juara I Olimpiade Kimia se-Kabupaten Sumenep, lalu mewakili Sumenep untuk mengikuti olimpiade serupa tingkat Jawa Timur tahun ini. Adapun Rafeylah masih duduk di kelas V SDN Pangarangan I.

Selama ini, Mamat mengaku tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk menjadi seperti apa yang ia mau. Ia memberikan kebebasan kepada anak-anaknya sesuai kreativitas dan kemampuan mereka masing-masing. Hanya saja, ia memberikan pertimbangan terhadap segala pilihan.

Di samping itu, selain memberikan teladan yang baik, ia tidak jarang memotivasi anak-anaknya. Motivasi kehidupan yang kerap kali ia sampaikan adalah perumpamaan segitiga kehidupan. Ia menggambar segitiga sama kaki; dua sudut alasnya ia kasih angka O (nol) sedangkan puncaknya angka 1. Nol melambangkan kekosongan, ketiadaan, menuju kehidupan atau tantangan, di puncak tantangan tersebut terdapat jalan keluar yang harus dijalani untuk menyelesaikan, turun ke sisi nol yang satunya.

“Masak, kita meyuruh anak-anak rajin belajar, baca buku, tetapi kita sendiri menonton televisi! Itu tidak memberikan teladan,” ungkap alumni S2 Universitas Gajah Mada Yogyakarta tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (8/7).

Mantan dosen Institut Pertanian Malang (IPM) itu menambahkan, ada tantangan sendiri dalam memberikan teladan terhadap anak-anaknya. Salah satunya, ia tetap harus produkstif dan berprestasi di bidangnya. Ia mengaku, istrinya pernah mengakan kepadanya, bahwa anak-anaknya menjadikan ayanya sebagai tolokukur dalam keberhasilan, terutama dalam bidang akademik.

Suami Sri Bawon ini, dalam bidang akademik, tidak diragukan lagi prestasinya. Ia banyak menulis karya imiah, terutama tentang perhutanan. Ia juga pernah menjadi pengampu mata kuliah ekologi hutan, ekologi perairan, pengembangan habitat satwa, agroforestri, inveritasi hutan, pengelolaan daerah aliran sungah, pengelolaan kawasan konservasi, ekologi populasi, dan etika kebijakan dan perundang-undangan lingkungan.

Masalah pendidikan di rumah, Mamat mengaku, ia dan istrinya berbagi tugas. Untuk urusan motivasi kehidupan, pendidikan, karir, dan segala macamnya, ia yang melakukannya.

Sedangkan menemani anak-anak belajar dan segala teknis lainnya, istrinya yang melaksanakan. Para anak-anaknya dipersilahkan melakukan apa yang mereka mau, apa yang mereka bisa, namun tentunya dengan pengawasan dan pemberian pertimbangan, konsekuensi, terhadap apa yang akan dilakukan.

Bagi alumnus D3 Universitas Barawijaya tersebut, anak-anaknya cukup untuk belajar dengan rajin, sedangkan urusan komersial seluruhnya menjadi tanggungannya. Ketiga putrinya tidak perlu menghiraukan masalah itu. Alhasil, ketiga putri alumnus S1 IPM tersebut bisa dilihat sendirinya hasil didikannya yang memukau. (nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *