oleh

Aiptu Mahdiyar,  Pribadi yang “Low Profile”

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN – Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi. Pesan Rasulullah itulah yang menjadi prinsip hidup Aiptu Mahdiyar mendedikasikan dirinya sebagai Babinkantibmas Barurambat Kota.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Bapak tiga anak itu merupakan anggota Kepolisian Resort (Polres) Pamekasan angkatan polisi tahun 1997. Kini, dirinya tengah mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara sebagai Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di Kelurahan Barurambat Kota Pamekasan.

Ia sudah enam tahun menjadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Barurambat Kota. Selama menjadi Babinkantibmas di sana, ia mengalami banyak cerita suka dan duka. Sebelumnya, ia telah dua tahun mengabdi sebagai Bhabinkamtibmas di Kecamatan Tlanakan.

Prinsip hidupnya ialah rendah hati dan selalu berbuat kebaikan untuk orang banyak. Hal itu merupakan warisan dari orang tuanya. Sedari kecil, ia memperoleh didikan untuk terus menerus melakukan kebaikan tanpa memperhitungkan timbal balik yang akan didapatnya.

“Dari dulu saya diajarkan begitu oleh orang tua saya,” ungkap pria asal Kalianget Sumenep itu.

Saat menjadi Babinkantibmas, ia selalu berbaur dengan warga. Bahkan, ia tidak ingin ada jarak antara dirinya dengan warga. Kendati dirinya dengan warga lain dibedakan dari segi seragamnya, namun ia tidak ubahnya warga biasa yang tidak memiliki pangkat.

Pada saat Kelurahan Barurambat Kota terdampak bencana banjir, ia ikut gotong royong bersama warga yang lain melakukan aksi penanggulangan banjir agar dirinya dan warga yang lain sama-sama terbebas dari banjir. Ia bahkan ikut tidak tidur berhari-hari pada saat banjir terjadi.

Tidak hanya itu, dedikasi pengabdiannya kepada masyarakat terlihat ketika ada warga setempat meninggal dunia. Meski seragam abu-abu dengan pangkat di bahunya tetap melekat, dia bertindak tidak ubahnya warga biasa dan tetangga keluarga yang tengah berduka.

Ia  bahkan ikut membantu proses pemakaman warga, manakala terdapat warga setempat meninggal dunia dan membutuhkan bantuan tenaganya. Sifatnya yang tidak bersekat dengan warga membuatnya dianggap sebagai saudara sendiri oleh warga setempat.

Selain itu, pada saat terjadi longsor pada kuburan warga, ia langsung bertindak mengatasinya agar proses pemakaman dapat berlangsung lancar tanpa kendala. Sehingga dengan begitu, keluarga jenazah merasa terbantu atas usahanya.

“Hidup ini sementara. Di mata Tuhan semuanya sama,” ujarnya. (maf)

 

 

Komentar

News Feed