Ajukan Tahanan Kota, Kejari Bangkalan Tolak Permohonan Tersangka

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M) PROSES: Kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh salah satu Kiai di Kecamatan Blega, Bangkalan, terus diproses.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Proses kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh salah satu Kiai di Kecamatan Blega, Bangkalan masih berlanjut. Kini kasus tersebut berkasnya sudah dan masuk di Kejaksaan Negeri (Kejari) untuk disidangkan. Namun, tersangka sempat melakukan permohonan menjadi tahanan kota. Namun, pihak Kejari menolak itu.

Kepala Seksi (Kasi) Tindak Pidana Umum Kejari Bangkalan Choirul menjelaskan, untuk permohonan tahanan luar, kota, atau tahan rumah itu adalah hak dari terdakwa melalui kuasa hukum atau keluarganya, dalam semua tingkatan proses hukum. Namun, tidak dikabulkan oleh pihaknya.

Bacaan Lainnya

Alasannya, Choirul itu menjelaskan, banyak pertimbangan-pertimbangan. Salah satunya yakni sesuai dengan KUHP pasal 21 alasan subjektif dan objektif.

“Kemarin hasil dari saya memanggil jaksa dan berkoordinasi dengan pimpinan, akhirnya kita sepakat tidak mengabulkan permohonan,” jelasnya.

Masih menurut Choirul, jika permohonan itu dikabulkan, pihaknya khawatir terdakwa mengulangi lagi, melarikan diri atau merusak barang bukti serta menjaga kepercayaan masyarakat.

“Itu alasan kami, dan alasan berikutnya adalah karena pasalnya ini bisa ditahan,” ungkapnya.

Dia menerangkan, perkara tersebut sudah dua minggu lalu diserahkan oleh pihak Polres Bangkalan. Sedangkan, minggu lalu pihanya sudah melimpahkan kepada Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan berkas perkaranya untuk disidangkan.

“Insya Allah dalam minggu depan ini sudah sidang pertama yakni sidang pembacaan surat dakwaan,” tuturnya.

Lanjut dia, untuk tersangka sudah ditahan satu minggu lalu sejak pelimpahan berkas ke PN Bangkalan. Choirul mengungkapkan, pada perkara tersebut diduga melakukan pelecehan seksual, di dalamnya ada persetubuhan, pemerkosaan dan cabul terhadap santrinya.

“Adapun undang-undang yang kita dakwakan terhadap terdakwa nanti ada beberpa aturan yang secara alternatif kita dakwakan. Itu inti dari kualifikasi delik pasal yang akan didakwakan. Nanti tergantung fakta di persidangan ingin menggunakan yang mana,” tukasnya.

Diketahui, kejadian dugaan pencabulan itu terjadi sejak 2016 lalu dilakukan oleh MSY (49) pengasuh pondok pesantren (Ponpes) di Desa Lomaer, Kecamatan Blega terhadap salah satu santrinya. Pada saat itu korban masih berusia 16 tahun dan pada bulan September pelaku kembali mengulangi perbuatannya untuk menyalurkan hasratnya.

Korban diduga dipaksa berhubungan badan layaknya suami istri disalah satu kamar ponpes putri. Parahnya, perbuatan oknum kiai itu, saat melancarkan aksinya korban sebenarnya sempat melakukan perlawanan terhadap tersangka. Namun, karena tak berdaya korban hanya bisa pasrah. (ina/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *