Akal Sehat Seorang Jurnalis

  • Whatsapp

Oleh Hafis Azhari
(Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)

“Waktu itu saya hanya ikut-ikutan berpolitik, tapi setelah tumbuh dewasa dan melek politik, tahu-tahu saya sedang berada di kubu PSI, maka segeralah saya berpaling untuk kembali memihak Bung Karno.”

Pernyataan itu keluar dari mulut seorang jurnalis senior Indonesia, Joesoef Isak, yang kemudian aktif mendirikan penerbit independen, dan berhasil menerbitkan buku-buku best seller Pramoedya Ananta Toer. Joesoef juga dikenal sebagai mantan Pemred harian Merdeka, mantan Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika, sampai akhirnya ia dipenjarakan di tahanan politik Salemba oleh pemerintah Orde Baru (di tahun 1968).
Waktu saya mengunjungi kediamannya di Jalan Duren Tiga, Jakarta, usianya sudah menginjak 80-an. Tetapi, ia masih tekun mengedit karya-karya sastra yang ditulis Pramoedya sejak masa pengasingannya di Pulau Buru. Ia pun mengedit tetralogi Buru, terutama Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, yang kemudian dikenal sebagai literatur yang paling banyak dicari pembaca dalam sejarah literasi Indonesia. Karya sastra tersebut dikenal pula sebagai novel Indonesia satu-satunya yang beberapa kali masuk nominasi nobel untuk bidang kesusastraan dunia.
Sebelum wafatnya di tahun 2009 lalu Joesoef Isak sempat memimpin Penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Penerbit inilah yang kemudian meluncurkan buku best seller 100 Tahun Bung Karno (Liber Amicorum), yang memuat himpunan para penulis dunia yang mengagumi pemikiran Soekarno. Sebagai generasi muda Indonesia, saya bersyukur telah dipercaya sebagai satu-satunya penulis muda yang turut andil menuliskan gagasan-gagasan besar bapak bangsa, selaku perintis dan pendiri Republik Indonesia. Dalam buku tersebut, terdapat pula tulisan pemikir-pemikir besar, di antaranya Noam Chomsky, Peter Dale Scott, Ben Anderson, Bob Hering dan lain-lain.
Joesoef Isak sebagai jurnalis, sempat digunjingkan oleh kekuatan-kekuatan politik besar Indonesia di tahun 1960-an. Kekuatan politik yang berafiliasi di kubu kanan, menuduh Joesoef sebagai jurnalis yang berhaluan kiri. Tetapi juga sebaliknya, orang-orang kiri pun sibuk mengadakan rapat-rapat untuk memutuskan bahwa Joesoef adalah seorang jurnalis berhaluan kanan. Sedangkan Joesoef sendiri menjatuhkan pilihan untuk tetap konsisten menjadi jurnalis independen yang tidak mau tersangkut dengan urusan politik.
Di masa remajanya ia merasa terpukau mendengar orasi-orasi Bung Karno yang menentang kolonialisme Belanda. Tetapi, ia belum memahami konsep politik Soekarno yang menentang imperialisme dan kapitalisme Barat. Sewaktu saudara-saudaranya memihak Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin oleh bapak intelektual Sjahrir, ia pun sempat berada di kubu Sjahrir. Tetapi kemudian, ia tersadar ketika semakin memahami bahwa idealisme Sjahrir terlalu kebarat-baratan. Baginya, figur Sjahrir kurang menapakkan kakinya di bumi Indonesia, tetapi sangat dominan pada garis intelektualisme Barat.
Joesoef muda terus menelusuri perpolitikan Indonesia, dan ia pun sepakat dengan pendapat Bung Karno. Meski didesak oleh kekuatan politik dalam negeri, Bung Karno tak mau buru-buru menyelenggarakan pemerintahan Islam. Karena dalam sejarahnya, kekuatan politik kanan banyak yang terjebak dalam polarisasi yang mementingkan egoisme dan keuntungan kelompoknya sendiri. Bahkan, tidak jarang partai-partai yang berlabel Islam justru membuat pemimpinnya terperosok ke dalam keangkuhan intelektualisme yang membuat diri mereka berwishfulthinking secara berlebihan. Fenomena ini masih kita saksikan hingga hari ini, misalnya dalam kasus-kasus Dimas Kanjeng, Brajamusti, Sunda Empire dan lain-lain.
Ketika Joesoef bertemu dengan B.M. Diah yang dikenal sebagai bapak jurnalisme Indonesia (di tahun 1980-an), Diah mengatakan bahwa antara dirinya dengan Joseoef tak ada persoalan penting yang mesti dipolemikkan di dunia jurnalistik Indonesia. Persoalan masalalu yang membuat Joesoef dipenjarakan di Salemba itu adalah murni keputusan politik dari pihak penguasa yang bersengketa (kubu kiri dan kanan). Sementara idealisme jurnalis Indonesia tetap berpijak pada pemihakan terhadap nilai-nilai kerakyatan dan keindonesiaan.
Kini, problem yang dihadapi Indonesia di masalalu, semakin mengemuka dalam format politik Indonesia masakini. Terutama ketika banyak kekuatan politik yang mengincar kalangan jurnalis untuk menyuarakan dan menunjukkan pemihakannya. Mereka yang paham politik tentu akan berprinsip bahwa dirinya tetap konsisten dalam perjuangan yang membawa nilai-nilai idealisme kaum jurnalis, tetapi mereka yang terjebak ke dalam arus politik demi pemenangan pemilu semata, janganlah tersinggung bila penulis menyatakan bahwa mereka berpandangan ahistori, dan hanya mengedepankan kepentingan pragmatis yang instan belaka.
Hal ini bukan berarti kita boleh alergi terhadap dunia politik. Penulis juga tak mau mengajak kaum jurnalis agar phobi terhadap dunia politik. Karena, ketika saya mengajak pembaca agar jangan ikut-ikutan berpolitik, hal itu — tanpa disadari — menunjukkan garis politiknya saya pribadi.
Pada perspektif lain, perlu kita cermati ungkapan seorang filosof Wina, Ludwig Wittgenstein yang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang mampu berkomunikasi dengan berbagai media yang digunakannya. Karena itu, dalam berkomunikasi dengan bahasa sebetulnya kata-kata tidak pernah mengenal baku ataupun kaku. Pihak politisi dan penguasa sangat mahir memainkan peranan bahasa dalam berbagai semantik yang disukai olehnya, berdasarkan hasil utak-atik dari kemampuan otak dan kecerdasan mereka.
Coba perhatikan di sepanjang kekuasaan Orde Baru. Ketika mereka akan membredel beberapa media (termasuk Tempo, Editor dan Detik) mereka bersiasat dulu dalam permainan semantik untuk menciptakan pembakuan bahasa, misalnya Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), Gerakan Pengacau Keamanan (GPK), makar, gerakan ekstrim tengah dan seterusnya. ***

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *