Akar Masalah Madura United di Zona Degradasi: Stabil di Internal, Goyah di Taktik

Olahraga166 views

KABAR MADURA | Di tengah ketatnya persaingan Super League 2025/2026, Madura United menjadi anomali di papan bawah. Berbeda dengan klub lain di zona degradasi yang umumnya dihantui krisis finansial atau konflik internal, Madura United justru berada dalam kondisi yang stabil. Namun, ironi muncul ketika stabilitas itu tidak berbanding lurus dengan performa di lapangan.

Secara manajerial, Laskar Sape Kerrab nyaris tanpa cela. Komitmen sponsor tetap kuat, arus kas terkelola dengan baik, serta hubungan antara pemain, pelatih, manajemen, hingga suporter berjalan harmonis. Situasi ruang ganti pun kondusif, tanpa gesekan berarti yang kerap menjadi biang keterpurukan tim.

Namun, persoalan utama justru muncul dari aspek teknis, khususnya dalam penunjukan pelatih. Sejak awal musim, Madura United menghadapi dilema saat sosok pelatih yang telah disepakati batal bergabung karena alasan nonteknis. Kondisi itu memaksa manajemen menunjuk Alfredo Vera, yang awalnya diplot sebagai direktur teknik, untuk mengisi posisi pelatih kepala.

Keputusan itu menjadi titik awal ketidaksinkronan. Perekrutan pemain sejak awal dirancang untuk mendukung skema 4-3-3 atau 4-3-2-1, dengan komposisi yang mengedepankan permainan sayap dan fleksibilitas lini serang. Nama-nama seperti Fransiskus Alesandro, Novan Sasongko, hingga penguatan di lini belakang dan depan melalui Jorge Mendonca, Riquelme Souza, dan Junior Brandao disiapkan untuk mendukung pendekatan tersebut.

Masalah muncul ketika estafet kepelatihan berlanjut ke Carlos Pereira yang justru mengusung pendekatan berbeda, yakni skema 3-5-2. Perubahan filosofi ini berdampak signifikan. Sejumlah pemain kunci yang direkrut untuk sistem sebelumnya tidak lagi masuk dalam rencana permainan, bahkan harus rela menghuni bangku cadangan.

Akibatnya, identitas permainan Madura United perlahan memudar. Adaptasi tidak berjalan mulus, ritme permainan terganggu, dan performa tim menurun. Para pemain terlihat tidak leluasa karena dipaksa bermain di luar karakter aslinya. Ketidaksesuaian antara komposisi skuad dan strategi pelatih menjadi faktor krusial yang menyeret Madura United ke papan bawah.

Baca Juga:  Fabio Lefundes Doakan Madura United Segera Bangkit

Gambaran ini diperkuat data performa hingga pekan ke-28. Madura United masih tertahan di peringkat 15 klasemen dengan 26 poin, hasil dari enam kemenangan, 8 imbang, dan 14 kekalahan. Produktivitas gol yang hanya mencapai 29 berbanding 47 kali kebobolan menghasilkan selisih gol -18, indikasi rapuhnya lini belakang sekaligus tumpulnya lini depan.

Secara statistik permainan dari pekan pertama hingga ke-18, Lulinha cs. sebenarnya tidak sepenuhnya lemah. Akurasi umpan berada di peringkat 8 dengan total distribusi di posisi 12, menunjukkan kemampuan menjaga aliran bola cukup kompetitif. Namun, persoalan utama terletak pada efektivitas. Akurasi tembakan yang berada di peringkat 16, jumlah tembakan di peringkat 17, serta tembakan tepat sasaran berada di peringkat terbawah. Itu menegaskan buruknya penyelesaian akhir.

Dari sisi agresivitas, tim ini justru tampil menonjol. Catatan tekel sukses berada di peringkat ketiga, menunjukkan intensitas tinggi dalam merebut bola. Namun, hal ini berbanding lurus dengan tingginya jumlah pelanggaran, yang mengindikasikan permainan keras dan berisiko.

Di sektor serangan, minimnya kreativitas juga tercermin dari jumlah tendangan sudut yang berada di posisi 18. Meski cukup sering terjebak offside (peringkat 5), yang bisa diartikan adanya upaya eksploitasi ruang, tapi eksekusi akhir tetap belum maksimal.

Lebih jauh, inkonsistensi performa juga terlihat jelas dari perbandingan kinerja pelatih. Di bawah Alfredo Vera, Madura United menjalani 9 pertandingan dengan raihan 9 poin hasil dari dua kemenangan, tiga imbang, dan empat kekalahan. Madura United mencetak tujuh gol dan kebobolan 10 gol, dengan salah satu capaian terbaiknya kemenangan 2-0 atas Dewa United. Namun, era Alfredo ini ditutup dengan kekalahan tipis 0-1 dari Persija Jakarta.

Selepas itu, tim sempat ditangani caretaker Rakhmad Basuki dalam dua laga, yakni menghadapi PSM Makassar dan Persijap Jepara. Hasilnya relatif lebih stabil dengan satu kemenangan dan satu hasil imbang.

Baca Juga:  Madura United Tumbangkan Persebaya, RB Ungkap Kunci Kemenangan

Situasi justru memburuk saat kursi pelatih dipegang Carlos Parreira, yang didatangkan dengan ekspektasi tinggi bisa mengangkat performa Madura United. Dari 14 pertandingan, hanya satu kemenangan yang mampu diraih, sisanya empat imbang dan 9 kekalahan. Total hanya 7 poin yang dikumpulkan, dengan tren tanpa kemenangan yang cukup panjang. Periode ini menjadi fase paling krusial yang menyeret Madura United semakin dalam ke papan bawah.

Menariknya, momentum kemenangan kembali muncul saat Rakhmad Basuki kembali dipercaya sebagai caretaker, mengindikasikan bahwa pendekatan yang lebih memahami karakter pemain mampu memberi dampak instan, meski dalam jangka pendek.

Data ini mempertegas satu kesimpulan utama bahwa problem Madura United bukan pada fondasi klub, melainkan pada ketidaksesuaian antara taktik pelatih dan karakter skuad. Tim memiliki distribusi bola yang baik dan etos kerja tinggi, tetapi gagal mengkonversinya menjadi hasil karena pendekatan permainan yang tidak selaras.

Dalam situasi yang semakin memburuk, manajemen akhirnya mengambil langkah tegas dengan melakukan pergantian pelatih di penghujung kompetisi, sebuah keputusan yang diakui sebagai risiko besar. Di satu sisi, ada keinginan menghormati pelatih, namun di sisi lain, keselamatan klub menjadi prioritas utama.

Kini, harapan bertumpu pada kehadiran Rakhmad Basuki, yang dinilai lebih memahami karakter pemain dan diyakini mampu mengembalikan identitas permainan tim. Penyesuaian taktik yang selaras dengan kekuatan skuad menjadi kunci jika Madura United ingin keluar dari jerat degradasi.

Secara keseluruhan, kasus Madura United menegaskan bahwa stabilitas finansial dan keharmonisan internal belum cukup untuk menjamin prestasi. Sepak bola modern menuntut sinkronisasi antara visi manajemen, strategi pelatih, dan karakter pemain.

Jika mampu bangkit, itu akan menjadi konsekuensi logis dari fondasi klub yang solid. Namun jika gagal, maka kisah ini menjadi pelajaran bahwa kesalahan dalam menentukan arah taktik bisa berakibat fatal, bahkan bagi klub yang tampak “baik-baik saja” di luar lapangan. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *