oleh

Akrobatik Cak Imin dan Asa Kaum Muda

Oleh M. Muhri

Menjelang Muktamar yang akan dihelat pada 20-23 Agustus 2019 di Nusa Dua Bali, peta kepemimpinan PKB tampaknya tidak berubah. Belum ada yang berani menjadi penantang Cak Imin. Pertanyaannya lalu, apakah ini kemandekan kaderisasi di tubuh PKB atau memang cak Imin masih dianggap layak untuk kembali menahkodai PKB?

Tiba tiba muncul drama ketika DPW PKB se Indonesia telah membuat sikap tertulis dukungannya terhadap cak Imin. Suatu kenyataan bahwa nyaris tanpa gejolak dalam tubuh partai bebasis nahdiyin. Namun pertanyaannya selanjutnya apakah sikap DPW menjadi representasi kader PKB yang tersebar di berbagai daerah untuk juga mendukung cak Imin?

Pertanyaan kritis ini layak diajukan untuk memecah kebekuan dan juga problem kebuntuan struktural dan patronase yang berlebihan dalam tubuh partai yang berdiri 23 Mei 1999. Karena bagiamanapun partai politik yang dinamis selalu memunculkan figur figure baru sebagai pemimpin mendatang.

Saya sebagai kader PKB di Madura, menemukan bahwa banyak kader dan basis PKB merasa puas terhadap Kepemimpinan cak Imin. Kepuasaan itu bisa dirasakan ketika melihat kemampuan cak Imin melakukan akrobatik politik yang membuat rasa bangga kader yang ada di basis nahdiyin.

Cak Imin menjadi simbol gairah anak muda kekinian yang bisa bangga dengan keislamannya dan rasa cinta air. Lebih lebih kepada ruang yang terbuka dalam kemungkinan proses anak muda dalam politik. Dunia politik sederhananya memang sebuah seni mempengaruhi dan menjalankan kekuasaan, namun dalam politik tidak ada kepastikan. Tidak ada lawan dan kawan. Yang ada hanya kepentingan.

Namun tampilnya cak Imin menjadi penanda dari simbolisasi anak muda jaman now yang bangga berpolitik, cinta agama dan memiliki nasionalisme yang utuh. Islam, nasionalisme dan politik adalah tiga entitas yang dalam beberapa penelitian belum digemari oleh generasi milenial. Hal ini misalnya dapat dilihat dari beberapa survei yang dilakukan oleh CSIS dan juga Alvara.

Tidak semua orang dapat mampu mengawinkan berbagai entitas yang nampaknya bersebaran tersebut. Yang banyak ditemui adalah narasi islam dan nasionalisme yang hanya disebarkan oleh kaum tua, atau islam kanan yang ditampilkan oleh anak anak muda. Utamanya artis artis yang baru saja hijrah. Namun demikian, Cak Imin seperti mampu mencitrakan diri sebagai politisi muda dengan jargon yang tepat, ” Saya agamis, saya nasionalis. ”

Selain itu, fakta pemilu tahun 2019 menjadi bukti kemampuan politik cak Imin. Setelah mampu “menyalip” tikungan akhir dalam penentuan cawapres Jokowi, cak Imin berhasil membawa PKB melampuai suara dari awal berdirinya. Suatu capaian akrobatik yang sulit ditemukan oleh politisi lain. Bahkan di partai politik lain dengan nahkoda yang sama.

Cak Imin Effect adalah suatu hal yang tampaknya benar benar terjadi. Setahun sebelum pemilu, hampir tiap hari cak Imin tampil di ruang publik. Baik di medsos dan maupun di televisi. Tiap waktu ada gagasan yang renyah dan bisa diterima oleh anak muda.

Salah satu gagassn dan pembelaan fenomenal cak Imin adalah saat menyikapi Full Day School. Dimana kebijakan tersebut oleh cak Imin dianggap akan mengganggu terhadap Madrasah Diniyah di pesantren. Cak Imin membawa PKB pasang badan dan bahkan “mengancam” keluar dari kabinet bila presiden masih memaksakan kebijakan tersebut.

Pasang badan dan pembelaan mati matian cak Imin terhadap pesantren dan madrasah diniyah terbukti dan berhasil. Full Day Scholl gagal. Cak Imin berhasil. Baik karena membela pesantren maupun citra sebagai politisi dan ketum yang membela pesantren.

Pada proses politik, cak Imin tampaknya selalu meminta restu dan petunjuk para kiai. Salah satunya yang fenomenal adalah ketika pemilihan gubernur Jawa Timur. Cak Imin rela mengorbankan kepentingannya demi mengikuti arahan para kiai.

Akrobatik cak Imin mampu menghidupkan mesin politik PKB dan gairah dari anak anak muda untuk terlibat dalam dunia politik. Politik riang gembira adalah salah satu kata kata kuat dari cak Imin bahwa berpolitik dilakukan dengan menyenangkan. Politik bukan ruang yang menakutkan. Tapi kegembiraan yang harus dirasakan oleh semua.

Tidak heran di sekitar cak Imin tampaknya muncul anak anak muda bergairah yang menjadi mesin penggerak untuk selalu menghidupkan mesin politik. Hal ini pula ditopang oleh sosok cak Imin yang komplet sebagai aktivis mahasiswa dan latar belakang darah biru yang disandangnya. Tidak berlebihan saat dalam hari santri banyak yang menyebut sebagai panglima santri. Suatu jabatan sosial yang diakui oleh banyak pihak.

Akhirnya, ketika cak Imin masih membawa ideologinya, membela basis pesantren, takdim kepada para kiai, dan berhasil menggairahkan anak muda berpolitik hingga mesin organisasi yang semakin hidup dan solid, tak ada kata lain selain Cak Imin melanjutkan sebagai Ketua Umum PKB.

 

Penulis merupakan Wakil Ketua DPC PKB Sumenep. Calon Anggota DPRD Terpilih di Kabupaten Sumenep Madura.

Komentar

News Feed