oleh

Aku Merasa Terasing, Sri!

Kabarmadura.id-Budi, seorang anak berusia 11 tahun, ayahnya seorang buruh tani, ibunya seorang pedagang sayuran. Budi adalah seorang anak yang menyukai dunia menulis puisi dan cerita pendek (cerpen) dengan unsur kepahlawanan yang menggebu-gebu. Ia juga suka sekali dengan dunia pertanian. Kadang ia sering membolos sekolah karena membantu bapaknya bekerja di sawah menanam padi, jagung, bawang merah, kedelai, kacang-kacangan. Budi melakukannya bukan karena tuntutan ekonomi atau paksaan orang tua, tetapi karena itu menjadi kegemarannya.

Budi bersekolah di salah satu sekolah dasar yang letaknya sekitar satu kilometer dari rumahnya. Ia biasanya berangkat sekolah menaiki sepeda berboncengan dengan Sri Rejeki, sahabatnya. Berbeda dengan Budi, Sri adalah anak yang rajin, tidak pernah bolos, terkenal pintar hampir di semua pelajaran. Ia juga anak seorang juragan bawang merah dan padi yang juga punya peternakan sapi, kambing, dan ayam.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua Sri merupakan majikan dari orang tua Budi. Budi dan Sri akrab satu sama lain, mereka juga duduk sebangku di kelas. Setiap pagi Sri selalu menghampiri Budi untuk boncengan berangkat ke sekolah. Mereka sudah tiga tahun bersahabat dan berangkat sekolah selalu bersama.

Namun beberapa bulan belakangan Budi agak berubah. Di kelas lima ini, Budi tercatat sering sekali membolos. Setiap kali Sri mendatanginya untuk mengajak berangkat bersama, Budi selalu menolak. Dalam seminggu, ia bisa 2-3 kali tidak masuk sekolah. Orang tua, guru, Sri, hingga teman-temannya yang lain pun sebenarnya sudah sering memperingatkannya, tapi tetap saja tidak mempan.

Semua usaha telah dilakukan agar Budi tidak sering bolos lagi. Sudah berkali-kali orang tua Budi dipanggil ke sekolah. Pihak sekolah bahkan sudah menawarkan bahwa jika memang masalah ekonomi, pihak sekolah akan membantu memberikan beasiswa kepada Budi. Namun, jawaban Budi selalu sama “bertani, menulis puisi, cerpen, semuanya itu aku sangat suka melakukannya”. Melihat itu semua, Sri, sebagai sahabat Budi berinisiatif untuk terus mendekati Budi secara personal dan akan berusaha membujuk Budi agar tidak sering bolos lagi.

Ketika itu Minggu sore, sepulang les matematika, Sri datang ke rumah Budi. Ia ingin mengajak Budi belajar bersama di rumahnya, seperti kebiasaan awal persahabatan mereka dahulu yang kini mulai jarang dilakukan karena beberapa bulan belakangan ini Budi selalu menolak ketika diajak belajar bersama. Dengan mengayuh sepeda, Sri menuju rumah Budi. Sesampainya di sana, ia memanggil-manggil sahabatnya itu. Namun justru yang keluar adalah Bu Sakinem, ibunya Budi. “Ohhh neng Sri, ada apa neng, mau ketemu Budi yaa?”, tanya Bu Sakinem. “Iya Bu, saya mau ajak Budi belajar bersama di rumah saya Bu,” jawab Sri.

“Wahh, Budi sekarang belum pulang neng, tadi dia pamit ke desa sebelah”, sahut Bu Sakinem. “Ada acara apa Bu, si Budi main ke desa tetangga?”, tanya Sri penasaran. “Dia ikut komunitas penulis cerpen dan puisi di sana neng. Tempatnya dekat balai desa tetangga”, jawab Bu Sakinem. “Baik Bu, saya akan menyusul Budi ke sana, saya pamit Bu”, sahut Sri sembari bergegas menuju sepeda dan menyusul Budi.

Sri terus memancal sepedanya menuju balai desa tetangga. Akhirnya, Sri menemukan tempatnya, tepat di samping balai desa, ada tulisan “Rumah Kreasi Seni Menulis Cerpen dan Puisi”. Sri pun masuk ke sana, duduk diantara banyak anak yang ikut komunitas tersebut sambil tolah-toleh mencari Budi. Ternyata, ia baru menyadari bahwa Budi ada di depan panggung, sedang bersiap membaca cerpen buatannya. Budi membuat cerpen tentang cerita kepahlawanan seorang petani yang terus bekerja keras memastikan tersedianya pangan yang cukup bagi masyarakat. Budi benar-benar menghayati cerpennya, dan Sri melihat raut kebahagiaan tampak di wajah Budi, berbeda sekali ketika Budi ada di kelas.

Menjelang maghrib acara tersebut selesai. Sri mendatangi Budi, “Budiii, ayooo belajar barengg lagii”. “Nggak ah, aku capekk, mau pulang saja”, sahut Budi. Dengan merendah, Sri berusaha memaklumi itu “Yaudah kalau gituu, tapi besok masuk sekolahh yaaa, plisss”, Sri memelas. “Buat apaa masuk kalau aku merasa terasing Sri”, jawab Budi. Sri tidak mengerti maksud pernyataan Budi, ia hanya merengek meminta kepada Budi “Ayolahh, pokoknya kamu haruss masuk sekolah seminggu ini, kalau tidak, aku nangis di sinii”, Sri sedikit mengancam dengan mata berkaca-kaca. Karena tidak ingin dianggap menyakiti sahabatnya itu dan karena tidak tega dengan sahabatnya itu, Budi pun menjawab “Hmmm, yaudahlahh, aku masuk seminggu ini, tapi jangann nangiss, awas kalau nangiss”. Sri pun sumringah dan mereka pun pulang bersama.

Keesokan harinya, Sri mendatangi Budi ke rumahnya. Sebelum berteriak memanggil nama Budi, si Budi sudah keluar dan langsung menuju sepeda. Budi langsung mengayuh sepeda dan berangkat sekolah bersama Sri. Budi benar-benar menepati janjinya, ia masuk selama seminggu. Meskipun selama pelajaran ia lebih suka menulis cerpen dan puisi daripada mendengarkan ceramah guru-guru di pelajarannya, tapi Sri tidak menghiraukan hal itu, ia sudah senang Budi mau masuk selama seminggu penuh. Pihak sekolah juga merasa sangat senang karena Budi mau masuk seminggu penuh lagi.

Namun, siapa sangka pada minggu berikutnya, Budi kembali membolos. Ia tidak masuk selama seminggu penuh. Kali ini, Sri dan pihak sekolah pun merasa jengkel. Mereka mencari Budi ke rumahnya pada hari Sabtu pagi, tetapi tidak menemukannya. Akhirnya mereka mencari ke sawah, ternyata Budi di sana. Mereka pun memanggil Budi dan orang tuanya untuk berdiskusi. Diskusi dilakukan di rumah Sri, disaksikan seluruh pekerja, orang tua Sri. Ketua RT dan kepala desa pun dihadirkan untuk membantu memediasi permasalahan tersebut.

“Pak, Bu, mohon maaf kami harus melakukan ini. Kami sudah sangat sabar menangani Budi, tetapi kami tidak tahu lagi harus bagaimana, tolong ceritakan mengapa ini bisa terjadi”, Pak Subroto sebagai Kepala Sekolah pun mengawali diskusi itu. Dengan terbata-bata, Bapak dan Ibu dari Budi menjawab, “Mohon maaf Bapak dan Ibu sekalian, kami sudah meminta Budi untuk…”. “Saya merasa terasing di kelas, Pak dan Bu sekalian”, Budi menyela ketika orang tuanya belum selesai menjelaskan. Seluruh yang hadir di sana pun terkaget dan bingung mendengar pernyataan itu. “Apa maksud dari pernyataan bahwa kamu merasa terasing di kelas, Budi?”, Pak Subroto bertanya dengan sangat penasaran.

“Saya selalu merasa terasing ketika di ruang kelas, Pak. Ruang kelas membatasi keinginan saya untuk melakukan apa yang saya sukai. Ruang kelas itu terlalu kaku, pelajaran yang diajarkan itu terkesan teori-teori yang kadang tidak sesuai keadaan di lingkungan saya. Saya jadi merasa terasing dari dunia fisik yang membutuhkan saya untuk melakukan apa yang bisa saya lakukan bagi orang lain. Di kelas saya hanya mendengarkan penjelasan guru dan menerima banyak tugas, sedangkan di sawah dan komunitas penulis saya bisa membantu banyak orang sekaligus mengasah potensi saya di bidang pertanian dan kepenulisan”, jawab Budi tegas.

“Budi, semua pelajaran itu kan sudah berdasarkan kurikulum nasional, jadi kami harus menjalankannya, dan para murid harus mendengarkannya”, Pak Subroto menyahut. Budi langsung menyambar, “Kurikulum nasional itu mengurung anak dalam kepandaian yang terkesan palsu Pak dan Bu”. Anak jadi merasa bahwa emosinya, potensi besarnya, dan perilakunya tak selaras dengan kebutuhan dunia fisik tempatnya tinggal. Bayangkan, di desa ini kita punya potensi alam, tetapi yang diajarkan berdasarkan kurikulum nasional itu ilmu-ilmu perkotaan. Semua disamaratakan, padahal tiap anak punya bakatnya sendiri-sendiri.

Tiap desa punya potensinya sendiri-sendiri yang harusnya bisa dijadikan bahan pelajaran agar nanti anak-anak dapat mengelolanya. Itulah alasan mengapa di sekolah saya merasa terasing, karena saya tak dapat apa-apa untuk diterapkan di dunia fisik saya ini. Jadi seperti buang buang waktu di kelas. Berbeda jika kurikulum itu diatur secara lokal dan setiap anak bisa memilih bidang pelajaran kesukaannya masing-masing.

Harusnya sekolah bisa bekerja sama dengan desa untuk mengelola potensi daerahnya melalui pelajaran kepada anak-anak, bukan mengikuti perintah dari pembuat kurikulum yang cenderung menyamaratakan seluruh daerah dan seluruh anak. Itulah mengapa saya sering katakan bahwa saya menyukai apa yang saya lakukan di sawah serta perkumpulan penulis cerpen dan puisi, karena di sana saya dipuaskan, bisa mengasah kemampuan saya, dan membantu banyak orang serta mengelola kekayaan desa ini.”

Seketika suasana berubah menjadi canggung. Semua tak menyangka bahwa diusianya yang baru 11 tahun, Budi mempunyai pemikiran seprogresif itu. Sri yang pernah mendengar Budi mengatakan “aku merasa terasing, Sri” kini paham dengan maksud pernyatan sahabatnya tersebut.

IDENTITAS DIRI

Penulis bernama lengkap Yukaristia. Lulusan S1 Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang yang sekarang sedang magang di salah satu organisasi non profit tingkat internasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yaitu Solve Education.

 

Komentar

News Feed