oleh

Akui Belum Menjauh dari Ketertinggalan

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Meskipun berjarak dengan kota terbesar di Jawa Timur, Surabaya, namun Kabupaten Bangkalan sulut tertentas dari status daerah tertinggal.

Bupati Bangkalan Abd. Latif Amin Imron tidak menampik hal itu. Menurutnya, suka atau tidak, selaku pimpinan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan harus mengakui hal itu, karena masih banyak indikator yang menunjukkan kabupaten berjuluk Kota Zikir dan Sholawat ini masuk dalam kategori dareah tertinggal.

Dikatakan bupati yang akrab disapa Ra Latif itu, alasan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi masih memasukkan Bangkalan sebagai daerah tertinggal, karena 60 persen desanya masuk kategori tertinggal, dan 19 persen penduduknya masuk dalam kategori miskin. Idikantor dari ketertinggalan dan kemiskinan itu masih identik dengan desa dan pertanian.

“Suka atau tidak, saya harus akui kalau Bangkalan masih dalam kategori daerah tertinggal.” Jelasnya saat launching kegiatan bimbingan teknis Peningkatan Kompetensi Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM) di Kecamatan Burneg, Senin (8/4).

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut menjelaskan, jika ingin mengejar ketertinggalan dan kemiskinan tersebut, maka obat yang paling mujarab adalah mengembangkan desa dan pertanian.

Bupati Bangkalan periode 2018-2023 tersebut mengklaim, untuk menjauh dari statis ketertinggalan dan kemiskinan, salah satunya mengikutsertakan peran santri dalam mengembangkan potensi lokal Bangkalan.

Terdapat dua aspek yang diakui bisa dikembangkan dan hal itu erat kaitanya dengan kelompok santri milineal. Pertama, sebagai kabupaten yang memiliki pondok pesantren terbanyak di Jawa Timur, menjadi potensi besar dalam pengembangan daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2018 disebutkan bahwa terdapat 231 pondok pesantren, yang mengasuh santri mencapai lebih dari 60.000 dengan asatidz lebih dari 4.000 orang.

Terdapat 850 madrasah diniyah yang mengatur santri mencapai 100.000, dengan asatidz lebih dari 6000 orang.

Aspek yang kedua adalah dari pertanian. Dengan 70 persen penduduk yang bekerja di sektor pertanian, memiliki luas lahan sawah mencapai 29.000 hektar. Per tahun, produksi padi mencapai 32.000 ton, jagung 132.000 ton. Di bidang peternakan, populasi sapi mencapai 206.000 ekor, kambing mencapai 90.000 ekor.

“Ada banyak komunitas lokal unggul lainnya seperti durian cabe jamu dan jambu mente,” pungkasnya. (km46/waw)

Komentar

News Feed