Al-Uswah Punya Dalih Tidak Ada Materi Perakitan Bom di Lembaganya


Al-Uswah Punya Dalih Tidak Ada Materi Perakitan Bom di Lembaganya
(KM/MOH RAZIN ) HARUS DIBUKTIKAN: Terdapat aktivitas di Pesantren Al Uswah yang disebut-sebut masuk dalam bagiab dari kegiatan jaringan terorisme.

KABARMADURA.ID | SUMENEP-Menyikapi adanya petinggi Pesantren Al-Uswah, Sumenep, berinisial SB yang diduga terlibat jaringan teroris, bahkan diduga memberikan materi merakit bom untuk santrinya, langsung dibantah pihak pengelola pesantren. 

Pimpinan atau Pengasuh Pesantren Al-Uswah Ustaz Abdul Aziz Aidy mengatakan, sejauh ini tidak ada indikasi atau bukti-bukti bahwa oknum ketua yayasan yang diduga teroris itu bisa merakit bom. Namun diakui bahwa yang bersangkutan memiliki jam mengajar, namun hanya dua jam per pekan.

"Setahu saya dia tidak pernah merakit bom. Saya juga tidak pernah melihat adanya indikasi ke arah itu. Memang mempunyai jadwal mengajar, tetapi hanya dua jam per minggu. Sangat tidak mungkin dengan jadwal yang sesingkat itu," kata Aziz. 

Pihaknya sering menegaskan bahwa tuduhan terorisme itu tidak ada kaitannya dengan ketua Yayasan Al Uswah. Karena dalam keseharian sikapnya, tidak ada indikasi ke perbuatan teroris. Yang bersangkutan meskipun petinggi, namun tidak menentap di pesantren tersebut dan mempunyai kesibukan di luar pesantren. 

"Setahu saya kalau dia tidak mengajar, dia keluar mengisi ceramah khotbah Jumat dan dakwah di luar," imbuhnya. 

Jika memang demikian tuduhannya, maka dia memasrahkan ke pihak yang berkopetensi agar menelusuri dan membuktikan. Dalam hal ini yang berkopetensi Kementerian Agama (Kemenag) misalnya. 

"Itu jelas fitnah kepada lembaga kami," pungkasnya. 

Sementara itu, Kepala Kemenag Sumenep Choironi Hidayat mengatakan, pihaknya hanya bisa merekomendasikan untuk pencabutan izin operasional pesantren itu jika dugaan itu benar-benar nyata. 

Sejauh ini pihaknya masih mengkaji pesantren tersebut. Namun belum menemukan indikasi terkait aktivitas di pesantren tersebut yang mengajarkan radikalisme. 

"Kami tidak bisa mencabut izinnya, tetapi bisa merekomendasikan kepada Kemenag pusat, tapi sejauh ini masih belum ditemukan indikatornya," paparnya.

Sebelumnya, SB ditangkap Densus 88 Polri pada Sabtu (29/10/2022) lalu. Dia ditangkap di wilayah Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. SB diduga sebagai anggota struktur JI Korda Madura.

Berdasarkan sumber terpercaya Kabar Madura, SB diketahui sebagai seorang pendakwah sekaligus pengelola Pesantren Al-Uswah di Sumenep. Al-Uswah juga disebut merupakan lembaga pendidikan bentukan JI.

Bahkan Pesantren Al-Uswah selama ini disebut  menjadi lokasi rekrutmen dan pendidikan kader serta latihan fisik (i’dad) untuk JI Korda Madura.  

Sebelum SB, Densus 88 juga sudah menangkap empat orang yang diduga bagian dari jarinngan terorisme. Keempat orang tersebut, tiga di antaranya ditangkap di Sumenep dan merupakan warga setempat. Kemudian satu lagi ditangkap di Sampang. Dari keempatnya, dua di antaranya berprofesi sebagai guru berstatu pegawai negeri sipil (PNS). 

Reporter: Moh Razin

Redaktur: Wawan A. Husna