oleh

Alumni Pelatihan BLK Bangun Silaturahmi dengan Beradu Usaha Mandiri

Kabarmadura.id/SAMPANG-Usai pelatihan berwirausaha, seringkali peserta putus hubungan dengan mentor dan peserta lainnya. Namun itu tidak terjadi bagi komunitas penjahit alumni pelatihan Balai Latihan Kerja (BLK) Sampang. Dunia fashion yang berkembang dengan cepat, menjadikan mereka membentuk komunitas penjahit eks peserta BLK Sampang.

Setiap bulannya, mereka pasti menggelar silaturahmi. Uniknya, silaturahmi mereka dibangun dengan saling menyajikan perkembangan usaha mandiri yang mereka bangun usai menjalani latihan.

“Dari komunitas ini, kami juga sering berbagi pekerjaan karena tidak cukupnya waktu jika dikerjakan sendiri,” ucap Koordinator Komunitas Penjahit Alumni pelatihan BLK Sampang, Suciati.

Lahirnya komunitas tersebut, diakui Suciati  juga menjadi wadah untuk sharing pengetahuan baru dan model fashion terbaru yang mulai ngetren di pasaran.

“Komunitas alumni pelatihan menjahit ini sebagai wadah dan motivasi bersama. Para lulusan pelatihan yang belum bisa membuka usaha secara mandiri akan bisa saling bantu dan juga bisa saling tukar tugas pekerjaan,” imbuh Suciati.

Kata Suciati, komunitas tersebut menjadi penting dalam meningkatkan kemandirian pesertanya, karena pelatihan hanya memberikan bekal dasar, dalam praktiknya di lapangan, terkadang permintaan pelanggan justru tidak sama.

Wanita kelahiran Sampang tahun 1992 lalu itu membeberkan, sampai sekarang sudah tercatat ada sebanyak 56 orang anggota alumni pelatihan jahit yang tertampung dalam komunitas itu.

Anggota komunitas itu berasal dari tiga angkatan pelatihan yang merupakan lulusan pada tahun 2019 lalu. Sehingga jumlah anggotanya otomatis bertambah setiap tahunnya, seiring ada lulusan baru.

Sambung dia, keberhasilan adanya komunitas alumni menjahit itu relatif sudah banyak. Mayoritas alumni sudah berani buka praktik atau menerima jasa menjahit secara mandiri, meningkatkan taraf perekonomian keluarga, bahkan sebagian di antara mereka berhasil ciptakan lapangan pekerjaan.

Para alumni menjahit itu, tetap diayomi dan dipantau oleh pemerintah daerah. Maka dengan terbentuknya komunitas itu, diyakini dapat mempermudah proses pemantauan dan lulusan yang belum memiliki sarana, seperti alat jahit dan semacamnya, maka bisa diajukan mendapatkan bantuan.

“Kalau diprosentasekan,, ada sekitar 70 persen anggota komunitas alumni pelatihan ini yang berhasil mendirikan usaha secara mandiri, bahkan sudah banyak yang mendapatkan pesanan, untuk anggota yang lainnya masih terus bertahap. Intinya mereka para lulusan agar tidak sia-sia ikut pelatihan yang difasilitasi oleh pemerintah selama ini,” tukasnya. (sub/bri/waw)

 

Komentar

News Feed