oleh

Alumni Pesantren Mahir Ciptakan Robot

Kabarmadura.id-Anggapan bahwa pesantren tidak mampu melahirkan lulusan yang memiliki daya saing di bidang sains, terutama robot, akan semakin luntur saat mengetahui sosok yang satu ini. Ia adalah salah satu lulusan pesantren yang berada di Sumenep. Lewat kreativitasnya, banyak robot yang telah diciptakan.

MOH TAMIMI, SUMENEP

Mukhlishur Rokhman adalah alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep,  daerah Latee. Tidak seperti anggapan banyak orang sejak dulu bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang kurang update (kudet), ia membuktikan bahwa lulusan pesantren juga bisa bersaing di bidang sains, tidak hanya berkutat dalam ilmu-ilmu agama.

Ia mondok di Annuqayah sejak tahun 2007 sampai 2013. Sembari nyantri, santri dengan sapaan Mukhlis ini bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1 Annuqayah (2017-2010), kemudian melanjutkan di Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Annuqayah.

Seusai nyantri, melanjutkan pendidikannya ke Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya (2013-2017) jurusan Automation Engineering. Di kampus inilah, kreativitasnya mengotak-atik robot mulai terasah dengan baik.

Di antara robot-robot yang ia ciptakan adalah robot soccer, robot pemadam api, robot kapal automatic yang tidak dikendalikan oleh manusia, robot bulu tangkis.

Dari sekian banyak robot buah tangannya, ada dua robot yang mendapatkan penghargaan, yakni robot soccer UKM MRC meraih juara tiga antar mahasiswa baru (maba) di ITS pada tahun 2013. Kapal cepat buatannya meraih juara dua dalam ajang Nasional Ship Design and Race Competition ITS pada tahun 2015.

Pemuda asal  Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Pamekasan tersebut mengungkapkan, bahwa pada saat lomba antar masa di ITS waktu itu, diikuti oleh 50 kelompok, setiap kelompok terdiri dari tiga orang. Sedangkan untuk yang lomba kali kedua, adalah lomba tingkat nasional.

Ia mengenang, saat membuat kapal cepat, kelompoknya sering mengalami kendala. Bahkan, saat melakukan tes uji coba kapal cepatnya di Kolam ITS, kapalnya tenggelam dan tidak ditemukan lagi.

Meskipun demikian, ia dan kelompoknya tidak patah semangat, mereka membuat lagi robot yang serupa. Alhasil, berkat perjuangannya, mereka meraih juara dua dalam ajang tersebut. Kekalahannya selisih sedikit dengan yang nomor satu, hanya kalah cepat.

“Rencana saya, nanti ketika pulang ke kampung halaman, apa-apa yang saya dapat akan saya aplikasikan ke  masyarakat. Contoh, waktu kuliah itu, dulu saya buat pengontrolan air di waduk tembakai itu lewat android. Itu sudah bisa diaplikasikan sebenarnya, cuma waktunya saja untuk mengurus itu belum sempat,” ungkapnya, Minggu (9/6).

Perjuangannya di tanah rantau tidaklah mudah, penuh pengorbanan. Pria yang telah bertunangan dengan Lailatul Qomariyah asal Desa Gilang, Kecamatan Bluto, Sumenep  tersebut mengungkapkan, bahwa dulu saat kuliah, dalam satu harinya, hanya tidur sekitar satu jam, pulang kuliah sampai jam 10 malam, tidur satu jam, setelah itu lanjut sampai jam tiga pagi, lanjut solat subuh dan berangkat kuliah lagi, begitu seterusnya.

Sebelum membuat robot, ia biasanya harus melakukan riset terlebih dahulu, sejak satu tahun sebelum merangkai robot, selambat-lambatnya adalah tiga bulan sebelum membuat robot.

Ia sangat tekun dalam belajar. Uniknya, dalam satu angkatan di jurusannya, ia adalah satu-satunya yang berasal dari pesantren, namun mengenai kualitas keilmuan tidak perlu dipertanyakan.

“Untuk teman-teman santri jangan kecil hati, itu saja. Pesantren itu bukan berarti tidak melek teknologi, bukan kuno, bukan, yang penting ada kemauan belajar, open mind orangnya, itu mudah nanti, pasti dimudahkan. Waktu saya pelatihan ARHANUD di Malang dulu, ada yang tahu saya, ditanya, ‘dari mana?’ ‘dari Annuqayah’ noleh semuanya,” kenangnya, Minggu (9/6).

Saat ini, pria kelahiran tahun 1995 yang hobi desain grafis ini bekerja di salah satu perusahaan di Mojokerto. (waw)

Komentar

News Feed