oleh

Ambang Kehancuran Petani Tembakau Madura

Kabarmadura.id/PAMEKASAN – Sudah berapa kali masyarakat tembakau Madura dikecewakan dengan harga yang tidak seimbang. Petani tidak lagi bernostalgia dengan harga tembakau mahal. Bagi mereka, tembakau mahal hanya sebagai sejarah yang nyaris mustahil terulang.

Di ujung musim kemarau, petani tembakau hanya bisa gigit jari. Mereka kehilangan kepercayaan, bahwa tidak akan ada yang mampu memulihkan harga tembakau Madura seperti semula.

Kualitas tembakau Madura kehilangan identitas. Kualitas tembakau terbaik bukan menjadi penentu mahalnya harga tembakau Madura. Petani dibuat kesal dengan keadaan, tidak ada kekuatan lain selain mengeluh. Modal banyak keluar, kembali tidak.

Kehancuran masyarakat tembakau sudah hampir tiba, tetapi petani tetap merawat tembakaunya meski hasil belum tentu sesuai harapan.

Dari ujung barat dan ujung timur pulau Madura, keresahan petani tembakau hampir serupa, kehancuran sebagai masyarakat tembakau telah menghampiri mereka. Sebagai petani, mereka kehilangan apa yang diharapkan, dan mendapatkan apa yang tidak diharapkan.

Lebih-lebih pemerintah menganjurkan untuk mengurangi konsumsi di masyarakat. Upaya pemerintah ini terkait pembatasan rokok sebenarnya dengan alasan kesehatan dan lain sebagainya. Hal ini bukan hanya berdampak pada dunia usaha, melainkan juga akan memiliki dampak yang sangat buruk terhadap masyarakat tembakau.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan Achmad Sjaifuddin mengatakan, anjuran pemerintah untuk mengurangi konsumsi rokok akan berdampak terhadap daya serap tembakau pada petani tembakau. Sebab, pabrikan akan menetapkan kuantitas secara maksimal.

“Dengan aturan pembatasan rokok, seperti di ruangan, kantor dan lain sebagainya, tentu juga akan berdampak pada kurangnya konsumsi rokok,” ujarnya pada kabarmadura.id, Senin (24/8/2020).

Hancurnya masyarakat tembakau di Pamekasan dan secara umum di Madura, juga diakibatkan dari harga tembakau yang cukup murah oleh pabrikan, sehingga bisa menjadikan petani tembakau lebih memilih untuk tidak lagi membudidayakan tembakau.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Pamekasan Samukrah juga mengatakan, berkurangnya jumlah petani tembakau menyebabkan harga yang tidak seimbang, sehingga minat masyarakat tembakau di Kabupaten Pamekasan sangat berkurang.

“Sekitar hanya 25.000 hektare lahan yang ditanami tembakau di Kabupaten Pamekasan. Angka ini menandakan semakin kecil dari pada tahun sebelumnya,” ujar Samukrah.

Semangat masyarakat tembakau semakin menghilang untuk membudidayakan tembakau, selain anjuran pemerintah terkait mengurangi konsumsi rokok, harga tembakau yang murah juga menjadi dampak terhadap semangat masyarakat tembakau.

Sedangkan menurut Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Achmad Suaidi, faktor Covid-19 juga menjadi bagian dari berkurangnya petani tembakau di tahun 2020. Tapi, tidak menjadi alasan utama, sebab sebelumnya di tahun 2019 harga tembakau tidak mencapai BEP, menandakan masyarakat tembakau berpengalaman mengalami kerugian dari modal yang telah dikeluarkan oleh petani.

“Memang harus ada upaya dari pemerintah memberikan ruang terbaik dalam bidang pertanian tembakau. Sebab, budidaya tembakau ini juga akan terancam di Pamekasan. Kita lihat nanti bagaimana gudang membeli tembakau petani, apakah di atas BEP atau di bawahnya? Kalau di bawahnya, dengan kemungkinan yang ada, petani tembakau akan berkurang di Kabupaten Pamekasan,” sambung Achmad Suaidi.

Masih ada dua kemungkinan masyarakat tembakau akan tetap melanjutkan budidaya tembakaunya atau menghentikannya. Kemungkinan ini lahir dari harga yang akan menentukan nasib masyarakat tembakau di tahun 2020 ini.

Lahan pertanian tembakau hanya sekitar 25.000 hektare di Kabupaten Pamekasan, seharusnya tembakau menjadi sektor ekonomi yang menjanjikan bagi para petani tembakau. Angka petani tembakau semakin menipis, semua tidak terlepas dari harga yang tidak sesuai dengan BEP.

Apabila harga tembakau tetap tidak seimbang, 2021 mendatang akan berdampak pada masyakarat yang mulai menghentikan minatnya untuk membudidayakan tembakau di Kabupaten Pamekasan. Bahkan, di seluruh kabupaten yang berada di Madura. (Mukhtarullah/nam)

Komentar

News Feed