Amini Keinginan Warga, Komisi I  DPRD Pamekasan Akan Mendesak Dishub Alihkan Jalur Kendaraan Berat dari Jalan Bettet

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) PERLU DIALIHKAN: Kondisi Jalan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet yang sempit dan berlubang karena sering dilintasi kendaraan berat.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN –Aspirasi warga Desa Bettet agar jalur kendaraan berat dialihkan telah sampai ke Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan. Bahkan, Ketua Komisi I DPRD Pamekasan Imam Hosairi mengaku akan turut memperjuangkan aspirasi tersebut.

Sebab menurutnya, Jalan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet terlalu sempit untuk menjadi jalur lintasan kendaraan berat. Tidak heran, kecelakaan lalu lintas kerap terjadi di jalan itu. Bahkan hingga memakan korban jiwa.

Bacaan Lainnya

Selain itu, selain kondisi jalan yang sempit, sering ditemukan jalan berlubang dari Jalan Nyalabu Laok hingga ke Jalan Teja. Penyebab utamanya yaitu kendaraan berat bermuatan material bangunan yang melintas setiap waktu.

Karena itu, pihaknya berjanji akan memanggil dan mendesak Dinas Perhubungan (Dsihub) Pamekasan dan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Kepolisian Resor (Polres) Pamekasan agar segera mengalihkan lintasan kendaraan berat ke jalur lain yang lebih aman.

“Akan kami perjuangkan ini. Secepatnya akan kami panggil Dishub dan Satlantas,” tangkas politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Secara terpisah, Kepala Desa (Kades) Bettet Pamekasan Kusmawardi mengaku akan melakukan audiensi ke DPRD Pamekasan dan Dishub Pamekasan untuk menyampaikan secara langsung keluhan warga setempat.

Sebab, dia mengaku terus didesak oleh warganya agar segera memberikan perlindungan dan rasa aman dengan cara mengalihkan jalur lintasan kendaraan berat. Karena kecelakaan yang kerap kali terjadi sudah sangat meresahkan warga setempat.

Menurutnya, dia memiliki alasan yang kuat. Karena di jalan tersebut berdiri pondok pesantren dengan ribuan santri, perguruan tinggi dengan ribuan mahasiswa, sekolah dengan ratusan siswa, dan dekat sekali dengan perumahan dengan ribuan penduduk.

“Tentu itu membahayakan santri, mahasiswa, siswa dan warga,” terangnya. (ali/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *