Anak Korban Pedofilia Sibuk Koordinasikan Penanganan Psikologis 

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) PENANGANAN: Pendampingan dalam penanganan korban pedofilia belum tuntas lantaran dinas terkait masih saling koordinasi.

KABARMADURA.ID, SAMPANG –Pelaku kekerasan seksual pada gadis berusia empat tahun di Sampang, DI (inisial), tidak kunjung tertangkap. Sementara Kepolisian Resor (Polres) Sampang sudah menetapkannya dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak 28 Mei 2021 lalu.

Sedangkan kejadiannya pada awal tahun 2021, di salah satu desa di Kecamatan Torjun. Korban adalah kerabat DI sendiri. Aksi bejat pria berusia 45 tahun itu menciptakan trauma bagi korban. Selain psikologis, kejadian tersebut juga berdampak pada kondisi kesehatan fisik korban.

Sejauh ini, pendampingan dari pemerintah melalui Dinas Sosial dan Perlindungan Perempuan dan Anak (Dinsos-PPA) Sampang baru dilakukan enam kali

Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) Dinsos PPA Sampang Masruhah mengakui bahwa pendampingan terhadap korban pedofil itu baru dilakukan enam kali. Namun dia mengklaim masih melanjutkan pendampingan, karena kondisi korban belum pulih.

Untuk mengetahui berapa kali penanganan agar bisa kembali pulih, katanya, masih akan berkoordinasi dan konsultasi dengan pihak medis, utamanya terkait konseling psikologisnya. Mengenai kesehatan tubuh anak meski saat ini masih sering mengalami kesakitan akan terus dipantau, terlebih di setiap kecamatan ada petugas teknisnya.

“Pendampingan baru enam kali, tapi kedepan akan terus dilakukan pendampingan. Dan kami akan bekerja sama dengan pihak medis terkait penanganan psikologisnya. Karena, hingga saat ini anak masih trauma,” tuturnya, Senin (21/6/21).

Sebelumnya, petugas sempat kewalahan dalam penanganan korban itu. Sebab korban tidak bisa memberi penjelasan, tetapi pada Maret lalu, ibu korban datang dari perantauan, sehingga dengan bujukannya, korban berani memberi keterangan.

Saat itu kondisi anak tersebut masih sering sakit perut dan demam. Sehingga dibawa ke klinik yang ditangani oleh dokter spesialis kandungan. Namun, pada awal Juni, kembali mengalami demam, lalu dibawa ke spesialis kandungan dan anak di Pamekasan. Kini kondisi kesehatan tubuh korban sudah membaik, tetapi tidak dengan psikologisnya.

“Untuk kondisi kesehatan saat ini sudah ada perkembangan, tapi ketika melihat bapak-bapak atau laki-laki, tetap ketakutan,” ungkap Masruhah yang juga menegaskan bahwa penanganan psikologis korban masih harus koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) Sampang.

Kondisi fisiknya terus dipantau melalui tim teknis kecamatan dan kondisinya mulai membaik. (mal/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *