Anak Panti Asuhan Luput dari Manisnya Bantuan Pemerintah

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI ) MEMPRIHATINKAN: Para Panti Asuhan hanya bisa melakukan aktivitas ngaji serta baraktivitas di Panti Asuhan Muahmmadiayaah Sumenep.

Kabarmadura.id/Sumenep-Di masa wabah Covid-19 ini, bantuan sangat beragam sosial (bansos) dikucurkan pemerintah, namun tidak semua dapat menerima bantuan yang bersumber dari pemerintah itu. Bahkan salah satu panti asuhan di Sumenep, justru luput dari suntikan bantuan tersebut.

IMAM MAHDI, SUMENEP

Bacaan Lainnya

Terik matahari sangat menyengat di Jalan Pahlawan gang IV/1, Pandian, Sumenep menuju Panti Asuhan Muhammadiyah, Sumenep. Gang tersebut hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat. Jika terdapat kendaraan roda empat dari arah berlawanan, salah satunya harus mengalah.

Tidak jauh jaraknya untu tiba di panti asuhan ini. Dari luar terlihat sepi, bahkan seperti tidak ada aktivitas apa pun. Aktivitas baru nampak ketika benar-benar masuk ke masuk ruangan.  Kegiatan tadarrusan dan mengaji kitab dilakukan setiap orang dari mereka.

Menjelang sore, barulah terlihat dari beberapa anak panti yang mulai beraktivitas di luar ruangan. Tidak banyak yang mereka lakukan saat di luar ruangan, sebagian membaca buku, ada pula yang berbincang santai dengan rekan-rekannya sesama penghuni panti.

Kabar Madura coba menemui salah satu dari mereka. Ahmad Riadi namanya. Pemuda berusia 19 tahun ini, adalah salah satu anak yang menghuni Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep itu.

Saat ditanya soal bantuan sosial, dia justru kebingunan, Sebab, merasa belum pernah mendapatkannya. Selama ini, yang diketahui, hanya bantuan dari masyarakat yang peduli.

“Selama di panti asuhan, saya tidak pernah merasakan manisnya bantuan dari pemerintah,” katanya, Kamis (19/5/2020).

Pria kelahiran Sumenep 12 Agustus 2001 itu berkisah, dia berasal dari Dusun Tenggina Desa Paseraman, Kecamatan Arjasa. Sejatinya, alasannya tinggal di panti asuhan karena orangtuanya tergolong keluarga yang tidak mampu.

Untuk biaya sekolah pun tidak bisa dipenuhi semuanya. Sehingga oleh kedua orangtuanya, dititipkan di Panti Asuhan Muhammadiyah. Rupanya bukan hanya dia yang mengalami demikian. Teman temannya juga merasakan hal yang sama.

“Di rumah saya ada enam orang dalam satu keluarga saya. Ibu seorang penjual pentol asongan dan ayah merantau ke Malaysia,” paparnya.

Sementara itu, Pengasuh Panti Asuhan Muhammdiyah Sumenep Syamsul Arifin mengutarakan, terdapat 52 anak didik di panti asuhannya. Hingga saat ini, mereka belum tersentuh bantuan pemerintah, terlebih di masa Covid-19 ini.

“Tidak satu pun bantuan pemkab yang mengalir pada anak didik kami,” ungkapnya.

Padahal sebelumnya, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sumenep Moh. Iksan sempat meminta kepada seluruh desa masyarakat atau siapa saja, utamanya kepala desa, jika menemui penerima tidak tepat sasaran atau tidak layak, maka segera dilaporkan.

Jika bantuannya disalurkan dari Kantor Pos, maka aka ditahan agar tidak dicairkan. jika bersumber dari bank, maka kepala desa melaporkan pada dinsos, agar disampaikan kepada Kemensos untuk tidak dicairkan pada bulan berikutnya.

“KPM BLT diusahakan tepat sasaran dan tidak menyalahi atauran,” pungkasnya. (waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *