oleh

Ancang-Ancang Adaptasi Kelaziman Baru

Kabarmadura.id-Sejauh ini, masih terjadi peningkatan jumlah kasus pasien terinfeksi Covid-19 di Madura. Di sisi lain, pemerintah pusat sudah berencana menerapkan kebijakan baru, yakni membiasakan adanya Covid-19, namun tetap mewaspadai agar tidak terinfeksi.

Kebijakan bernama new normal life atau kelaziman baru dalam kehidupan tersebut, direncanakan mulai Juni mendatang, namun seluruh pemerintah kabupaten (pemkab) di Madura belum memikirkan ancang-ancangnya.

Menunggu perkembangan dan instruksi dari pemerintah pusat jadi pilihan. Di lain pihak, penguatan disiplin masyarakat, masih jadi aral yang belum terpecahkan.

Sementara, untuk menerapkan new normal, setidaknyaada enam hal yang harus disiapkan. Sesuai komando World Health Organization (WHO), pertama, pemerintah harus memastikan pengendalian Covid sudah dilakukan.

Kedua, pemerintah harus menyiapkan rumah sakit atau sistem kesehatan untuk identifikasi, isolasi, testing, hingga karantina. Ketiga, pemerintah harus memastikan pengendalian pada pasien berisiko tinggi. Misalnya pengendalian pada pasien berusia di atas 60 tahun dan pasien dengan faktor-faktor penyakit penyerta.

Keempat, membuat protokol untuk melakukan upaya pencegahan di lingkungan kerja, termasuk untuk sosialisasinya, dan kelima, pemerintah harus bisa mencegah kasus impor Covid-19 untuk melindungi seluruh warga negara dari potensi penularan Covid-19 yang dibawa orang asing.

Segalanya Berubah, Pola Baru Datang

(FOTO: KM/DOK)
TOKOH NASIONAL: Pimpinan Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Republik Indonesia (RI) asal Pulau Madura, Achsanul Qosasi.

Sejauh ini, wabah Covid-19 yang meresahkan dunia, termasuk Indonesia masih belum sirna. Hal itu tidak terlepas dari penangkal atau vaksin wabah tersebut belum terpecahkan hingga sekarang.

Memandang kondisi tersebut,tokoh nasional asal Pulau Madura, Achsanul Qosasi, menyampaikan agar warga Indonesia tidak berpikir wabah tersebut bakalal berakhir, serta berpendapat wabah yang pertama ditemukan di Tiongkok itu sepele, selama belum bisa ditemukan penangkalnya.

“Jangan pernah berpikir wabah ini sementara dan menganggap biasa selama vaksinnya belum ada,” ujar pria yang familiar disapa AQ itu, Selasa (26/5/2020).

Akan tetapi, tokoh nasional yang berasal dari Kecamatan Lenteng, Sumenep itu menguraikan, orang yang dapat bertahan dalam permasalahan bersama ini tidak ditentukan seberapa kaya, populer, ataupun kuatnya.Namun, hanya orang yang mampu melakukan adaptasi dengan babak baru dalam tatanan kehidupan ini.

Diketahui, pemerintah Indonesia tengah bersiap untuk menerapkan new normal (pembiasaan baru) seperti negara lain yang telah mendahului, agar aktivitas pemerintahan, ekonomi, dan pendidikan bisa kembali berjalan normal dengan pola yang baru.

“Yang bisa survive bukan yang paling kuat atau besar atau kaya, tapi yang bisa menahan diri dan cepat beradaptasi. Kami memasuki babak baru dalam kehidupan. Segalanya berubah, sistem baru datang,” sambung pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (RI) tersebut.

Selain itu, BPK RI menggelar rapat secara langsung atau tatap muka, Rabu (27/5/2020), untuk mengambil keputusan terkait Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2019, atau laporan keuangan seluruh kementerian dan lembaga.

Namun, rapat dengan pertemuan secara langsung itu tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti salah satunya jaga jarak antarpeserta rapat BPK RI.

“Rapat tatap muka ini tak terhindarkan. Bagi BPK RI, hari ini, mereka pengambil keputusan terhadap opini hasil LKPP 2019, dan laporan keuangan seluruh kementerian dan lembaga. Social distancing meeting(rapat dengan jaga jarak), dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan bersama, kami tetap perhatikan,” pungkasnya. (idy/nam)

Kedisplinan Masyarakat Madura Diuji

(FOTO:KM/FA’IN NADOFATUL M.)
NORMAL: Aktivitas kegiatan jual beli di usat perbelanjaan ramai dikunjungi warga saat wabah Covid-19.

Sosiolog Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangun Sentosa menilai, kebijakan baru dari pemerintah pusat yang akan memberlakukan new normal atau kelaziman baru bagi kegiatan masyarakat, belum siap jika diterapkan di Madura, utamanya Bangkalan. Mengingat jumlah pasien terinfeksi Covid-19 di Bangkalan terbanyak di Pulau Madura.

Bangun melihat, belum seluruh lini, mulai instansi, UPTD sekolah, pelaku ekonomi, pengelola tempat ibadah, pesantren dan lain-lain yang siap. Sebab, butuh sosialisasi yang masif dan cepat serta kesiapan sarana prasarana yang lebih tepat guna dan tepat sasaran.

“New normal, bisa, tapi tidak akan secepat itu berhasil. Semua belum siap. Contoh kecil, apakah kebanyakan masyarakat sudah mempergunakan fasilitas cuci tangan di depan masjid atau toko atau kantor meskipun sudah disediakan,” tegasnya bernada tanya, Rabu (26/5/2020).

Pengajar ilmu sosal di UTM ini menyampaikan, sesungguhnya, beberapa kenaikan kurva kasus Covid-19 di Bangkalan lebih banyak dibawa oleh carrier migran Madura dari luar Madura.

“Kita semua faham itu,” imbuhnya.

Namun, Bangun menyadari, new normal memang sudah harus diterapkan. Kuncinya disiplin diri, kepatuhan pribadi, ketaatan protokol kesehatan srcara pribadi dan ketika setiap pribadi menyadari itu. Maka masyarakat akan terbentuk kesadaran sosial.

Bahkan dia melihat, new normal bisa menekan angka kenaikan kasus Covid 19 di Madura. Tapi tidak sesignifikan dan secepat di daerah lain.

“New normal harus dijalani bagaimana pun untuk kelangsungan kehidupan sosial ekonomi yang memerlukan kebangkitan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan bahwa konsep era new normal sebenarnya dicetuskan dalam kerangka masyarakat dengan tipikal kedisiplinan dalam segala hal yang memadai. Konsep tersebut mensyaratkan, setiap insan sadar sepenuhnya akan hal yang dihadapi dan risiko-risikonya, dalam hal ini Covid-19.

Sehingga new normal sangat tepat diterapkan jika setiap orang disiplin dengan pola pikir  utama tentang menjaga jarak, merasa harus sehat, merasa orang lain juga berhak sehat. Bahkan, setiap orang berpotensi tertular dan tidak tertular karena disiplin dan seterusnya.

“New normal ini das sollen-nya (seharusnya) bisa. Sehingga, seharusnya masyarakat Bangkalan atau masyarakat Madura dan Indonesia bisa,” kata pria bergelar Ph.D dari University of the Sunshine Coast, Australia tersebut .

“Khusus Madura, seperti yang saya amati langsung, sekali lagi memerlukan kesadaran eksternal dari tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai teladan untuk semua kalangan. Budaya patriarki religius di madura sangat kental,” tuturnya. (ina/waw)

Antara Menolak dan Cukup Menunggu

(FOTO: KM/IMAM MAHDI)
TIDAK SIAP: Kerumunan massa masih terlihat jamak, utamanya di pasar tradisional.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sampang Djuwardi mengatakan, sejatinya, sejak awal sudah berusaha optimal mencegah dan antisipasi penyebaran wabah Covid-19 itu.

Namun pertahanan tetap jebol, bahkan Sampang berada diurutan tertinggi kedua kasus Covid-19 di Madura. Untuk itu, Sampang perlu adaptasi dengan kebijakan new normal itu,agar aktivitas masyarakat diberbagai sektor tetap jalan.

“Yang jelas, langkah kita kedepan ini, tetap mengoptimalkan penerapan protokol kesehatan dan berupaya beradaptasi dengan kondisi yang ada saat ini, termasuk berusaha beradaptasi dengan regulasi dan kondisi nyata,” ucap Djuwardi, Rabu (27/5/2020).

Upaya adaptasi dengan new normal tersebut, diklaim sebagai salah bentuk komitmen, keseriusan dan kesungguhan pemerintah daerah Sampang dalam melakukan upaya percepatan penanganan wabah covid-19 di wilayah itu secara khusus dan wabah covid-19 bisa segera diatasi.

Sedangkan penyebab utama semakin meningkatnya kasus Ccovid-19 belakangan ini, diantaranya datangnya pemudik dari daerah zona merah, seperti dari Jakarta, Solo, Surabaya dan daerah lainnya.

Padahal, penyebaran wabah itu mengikuti pergerakan manusia. Dengan begitu, dia minta warga secara kompak meningkatkan kedisiplinan melaksanakan anjuran protokol kesehatan yang ada.

Jika Sampang mencoba adaptasi, Pemkab Sumenep justru belum siap menerapkannya. Alasannya, lebih memproritaskan keselamatan dalam menghadapi Covid-19 hingga memasuki kategori zona aman.

Bupati Sumenep Abuya Busyro Karim mengatakan, jika diukur dari dampaknya, kelaziman baru aitu sangat berdampak buruk bagi masyarakat.

“Covid-19 bisa saja tidak selesai tahun ini jika new normal diterapkan. Kalau saya belum berani menerapakan. Saya tidak akan berspekulasi, lebih penting meyelamatkan nyawa orang daripada bersenang-senang,” katanya, Rabu (27/5/2020)

Baginya, konsep new normal yang akan diberlakukan pemerintah pusat, belum sama sekali terbahas. Bahkan dia berani menyatakan, seluruh Madura belum berani menerapkannya.

Salah satu yang jadi perhatiannya, adalah kerja tenaga medis. Sebab, meraka berjuang untuk penanganan Covid-19.

“Perjuangan tenaga medis juga perlu diapresiasi, dan tidak dirusak dengan adanya new normal,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep, Agus Mulyono juga berpendapat serupa. Namun dia meminta masyarakat senantiasa mengikuti protokol kesehatan. Menurutnya, ada limayang harus dipenuhi,yakni berdoa Yang Maha Kuasa, memakai masker, cuci tangan, jaga jarak, jaga imunitas.

Sedangkan Pemkab Pamekasan melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pamekasan Totok Hartono mengaku masih menunggu petunjuk teknis dari kebijakan pemerintah pusat itu. Selanjutnya berkoordinasi dan mengkaji pola penerapannya.

Namun jika sudah dilengkapi regulasinya, kata Totok, Pemkab Pamekasanakan menerapkannya berikut segala tugas dan kewajiban yang telah diamanahkan.

Totok menggambarkan, penerapan kebijakan new normal life tersebut sebagai sebuah pola hidup baru, bahwa masyarakat cukup berhati-hati agar tidak terpapar oleh virus tersebut, yaitu dengan menjalani pola hidup sehat dan bersih, dengan mengenakan masker dan rajin cuci tangan.

“Kami masih menunggu petunjuk teknisnya, nanti jika sudah ada maka akan kami kaji dan koordinasikan dengan Bupati dan perangkat daerah lainnya,” ujarnya. (sub/imd/sub/waw)

Legislator Seirama dengan Pemkab

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pamekasan Fathorrohman mendukung langkah yang diambil oleh pemerintah pusat itu.

Menurutnya,hal itu merupakan sebuah solusi atas segala kesulitan yang dihadapi oleh seluruh warga negara Indonesia selama dilanda oleh wabah Covid-19. Sebab, banyak aktivitas terhenti akibat wabah tersebut, salah satu bidang pendidikan.

“Pada new normal life ini saya berharap jangan sampai mengganggu pendidikan, artinya pendidikan ini tetap dibuka, tetapi kondusivitas kegiatan belajar mengajar harus efektif seperti biasanya,” ungkapnya.

Namun, cara berkehidupan yang baru itujuga menuntut masyarakat untuk beraktivitas di bawah tekanan protokol kesehatan Covid-19, yaitu dengan berjaga jarak, mengenakan masker dan lain sebagainya. Sehingga yang terpenting menurutnya yaitu kedisiplinan masyarakat.

“Intinya, new noemal life ini harus melekat pada diri kita bahwa Covid-19 itu masih berkeliaran di sekeliling kita, jadi harus tetap physical distancing, pola hidup sehat dan bersih,” ulasnya.

Sedangkan Ketua DPRD Sampang Fadol mengungkapkan,selama kebijakan tersebut untuk kepentingan dan demi kebaikan bersama, pihaknya berjanji akan mendukung langkah pemerintah, utamanya dalam percepatan penanganan wabah Covid-19.

Namun dia meminta kesadaran masyarakat untuk mengikuti anjuran dalam menjalankan protokol kesehatan secara maksimal.

“Kalau kami (DPRD red) ini tetap mendukung kebijakan dan langkah pemkab, dengan catatan kebijakan ini demi masyarakat. Makanya untuk penerapan new normal ini kami dukung, terlebih kebijakan ini dari pusat dan berlaku secara nasional,” tandasnya.

Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari memiliki pendapat berbeda. Dia seirama dengan Pemkab Sumenep yang memilih tidak ingin menerapkannnya dulu.

Juhari menegaskan, penerapan new normal memang selayaknya tidak diterapkan terlebih dahulu jika daerahnya masih dalam zona merah. Terus bertambahnya kasus Covid-19 dijadikan alasan kuat tidak diterapkannya new normal life.

“Kami berharap seluruh masyarakat dengan perantara kendali pemerintah untuk bersama memberikan penyadaran terhadap masyarakat akan pentinganya mengikuti protokol kesehatan,” pungkasnya.(ali/imd/sub/waw)

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed