Aneka Batik, UMKM yang Utamakan Batik Klasik demi Pelestarian Budaya

  • Whatsapp
(FOTO: KM/KHOYRUL UMAM SYARIF) ESTETIK BANGET: Owner UMKM Aneka Batik, Muhammad Aufal Fresky, saat menunjukan beberapa koleksi batik klasik yang siap dipasarkan.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN-Berdiri sejak tahun 1995, Aneka Batik merupakan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang cukup mumpuni di Pamekasan. Bahkan sudah menjadi usaha turun temurun. Kini gerai yang berlokasi di Kampung Banyumas, Desa Klampar, Proppo, Pamekasan tersebut, sudah dijalankan generasi ketiganya.

Dalam memasarkan batik khas Pamekasan itu, Aneka Batik saat ini sudah beromset sekitar Rp40 juta hingga Rp50 juta setiap bulannya. Usaha ini memberdayakan 17 karyawan yang semuanya dari Desa Klampar.

Bacaan Lainnya

Menurut Owner Aneka Batik, Muhammad Aufal Fresky, awalnya, mendiang kakeknya, H. Idris, tidak membuka gerai batik seperti yang dijalankan sekarang, namun berjualan dari rumah ke rumah.

Dengan berjualan keliling itu, banyak bermunculan pelanggan setia yang datang langsung ke rumah H. Idris. Mereka datang untuk membeli batik yang dijual keliling itu.

Pada tahun 1995, orang tua Aufal, H. Ahmadi, memberanikan diri untuk fokus memasarkan batik tulis khas Madura yang bercorak klasik. Salah satu tujuan utamanya adalah demi melestarikan peniggalan para pendahulunya.

Pilihan itu seiring dengan visi Aneka Batik yang dipertahankan hingga saat ini, yakni membawa batik tulis Madura ke kancah internasional.

Selain itu, Aneka Batik juga mengusung misi; menciptakan lapangan kerja. khususnya di Desa Klampar, melestarikan batik tulis Madura, mempromosikan Desa Klampar sebagai rujukan wisatawan lokal dan internasional, mengedukasi masyarakat mengenai batik tulis Madura dan membangun kampung Batik Klampar sebagai wisata edukasi.

“Sebenarnya usaha ini sudah turun temurun kalau dari ayah saya mulai dari tahun 1995, kalau saya sendiri sudah aktif menjual mulai tahun 2015,” ulas pengusaha batik yang mengaku masih lajang itu, Minggu (9/5/2021).

Manajemen Aneka Batik mulai terorganisasi dan berizin mulai tahun 2001. Berkembang pesat setelah batik diresmikan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.

Semasa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), penjualan batik tulis Madura menemukan momentum emasnya. Meledak di pasaran. Demikian pula dialami Aneka Batik yang mengalami lonjakan penjualan.

Pada 11 Juni 2014, Aneka Batik menerima hak merek dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Hak merek tersebut berlaku berlaku selama 10 tahun, atau berakhir pada 11 Juni 2024.

Wabah Covid-19, diakui Aufal, juga memukul usaha batik. Jika omzet biasanya mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta per bulan, kini hanya bisa mencapai Rp25 juta hingga Rp30 juta.

“Untuk saat ini sudah mulai bergerak naik untuk omset, kunjungan-kunjungan sudah mulai banyak, tapi tidak seesignifikan sebelum Covid-19,” ulasnya.

Bagi lulusan sarjana ekonomi pembangunan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tersebut, menjual batik bukan sekadar menjual kain, melainkan mempersembahkan nilai seni dari setiap goresan batiknya.

“Makanya kami Aneka Batik konsen pada pelestarian batik tulis Madura, tidak ada cap, tidak ada kombinasi cap maupun tulis, apalagi batik printing, sehinggamutu dan pelestarian betul-betul kami jaga,” tutup pria yang sedang menempuh program magister administrasi bisnis di Universitas Brawijaya Malang ini. (rul/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *